Konferancab IPNU-IPPNU Dawe
Cerita Gus Nadhif, Dari Syi’iran Cokot Boyo Hingga Alasan Mengapa Harus NU

0
409
Gus Nadhif menyampaikan mauidhah hasanah dalam pembukaan Konferensi Anak Cabang IPNU-IPPNU Dawe,

KUDUS, Suaranahdliyin.com – KH. Ahmad Nadhif Abdul Mujib atau yang akrab disapa Gus Nadhif seringkali melempar cerita dalam setiap ceramahnya. Tak jarang cerita-cerita itu memuat pelajaran berharga dari Pengasuh Ponpes Al-Husna Kajen Pati ini.

Pada kesempatan pengajian umum Pembukaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU-IPPNU Dawe, misalnya. Gus Nadhif menceritakan isi dialognya dengan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf Pekalongan tentang syi’iran “Cokot Boyo”. Gus Nadhif bertanya mengenai makna dari syiiran tersebut.

“Ternyata maksudnya cokot boyo itu yang dimaksud adalah “boyo” atau buaya anti maulid, anti tahlil, anti ziarah dan sejenisnya yang suka membid’ahkan, mengkafirkan,” paparnya.

“Itu syair nasihat untuk kaum perempuan santri utamanya. Supaya tidak dapat suami yang seperti disampaikan Habib Bidin itu,” imbuh Gus Nadhif menjelaskan.

Gus Nadhif kemudian menyambung cerita dialognya bersama Habib Bidin Azzahir itu dengan cerita curhatan seorang santri yang terlanjur bernasib “cokot boyo”. Karenanya kemudian santri putri itu tidak bisa lagi tahlilan, yasinan, maulidan, apalagi datang ke majelis Haul atau Ziarah kubur.

“Meski suaminya tampak rajin ibadah, jidatnya hitam, tapi hidupnya tidak bahagia karena salah pilih suami. Ini banyak terjadi. Dan biasanya banyak dari mereka yang kemudian anti NKRI, anti Pancasila,” ucapnya.

Paham seperti itu, lanjut Gus Nadhif, dulu pernah terjadi di negara-negara arab yang kini bergejolak. Seolah wahabisme ini sengaja diciptakan agar orang-orang Islam menolak semua ajaran sunni, kemudian saling dibenturkan.

“Maka, rugi kalau perempuan dapat jodoh bukan dari kader IPNU, Ansor atau Banser. Karena NKRI saja dijaga apalagi kamu,” kelakar Gus Nadhif disambut gerrr jamaah.

Banyak cerita lain yang disampaikan Gus Nadhif perihal alasan memilih NU. Ia tidak hanya sekali dua kali berhadapan dengan warga negara asing (WNA) ataupun warga non muslim di Indonesia yang ingin belajar dari NU dalam hal pemikiran. Utamanya mengenai prinsip perdamaian dan kemanusiaan.

“Bahkan, pernah ketika saya di Papua itu didatangi oleh Pendeta dan beberapa bodyguardnya. Di sana ia bertanya kepada saya, boleh tidak kalau saya (pendeta) ikut Banser,” katanya menceritakan.

Dari cerita-cerita tersebut terkandung maksud bahwa jam’iyyah ini memang diharapkan perannya oleh banyak masyarakat di luar anggotanya. Tidak hanya secara aqidah, tetapi untuk mengatasi krisis global yang dialami oleh banyak orang di banyak negara di seluruh penjuru dunia.(M. Farid/adb)

Comments