Rutin Selenggarakan Bahtsul Masail, MWC NU Margoyoso Bahas Persoalan Keagamaan Aktual

0
37
Sejumlah warga Nahdliyyin menghadiri Selapanan MWC NU Margoyoso yang diisi pula dengan bahtsul masail

PATI, Suaranahdliyin.com – Warga Nahdliyin di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati ramai berkumpul bergilir di ranting-ranting NU setempat.

Pada kesempatan itu, warga Nahdliyin hadir untuk mengikuti Bahtsul Masail yang diselenggarakan oleh MWC NU Margoyoso, yang rutin dilangsungkan, membahas berbagai persoalan keagamaan yang aktual.

Ustaz Rohmanuddin, Ketua LDNU MWC NU Margoyoso, menyampaikan, peserta datang dari berbagai lapisan, mulai dari Rais Syuriah MWC NU Margoyoso, pengurus MWC dan ranting, serta warga nahdliyin umum.

Sedang didaulat sebagai narasumber kunci dalam Bahtsul Masail MWC NU Margoyoso itu, Rois Syuriah MWC NU Margoyoso, KH Suhaili Ya’qub, yang menyampaikan muqaddimah dan pengantar keilmuan pada momentum itu.

“Pada pelaksanaan Bahtsul Masail kali ini, topik yang paling dominan dibahas adalah masalah-masalah fiqih modern/kontemporer (fiqh mu‘āṣir), khususnya persoalan keagamaan yang muncul sebagai dampak perkembangan zaman, sosial, teknologi, dan dinamika kehidupan masyarakat modern,” terang Ustaz Rohmanuddin.

Pembahasan tersebut dilakukan dengan pendekatan manhaj Ahlussunnah wal Jama‘ah an-Nahdliyah, berbasis pada kitab-kitab mu‘tabarah serta metodologi Bahtsul Masail yang ilmiah, sistematis, dan berlandaskan tradisi keilmuan pesantren.

Lebih lanjut Ustaz Rohmanuddin menambahkan, MWC NU Margoyoso menyelenggarakan Bahtsul Masail secara berkala, sebagai bagian dari komitmen kelembagaan dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama‘ah an-Nahdliyah.

“Dengan penyelenggaraan yang rutin, Bahtsul Masail tidak hanya menjadi forum diskusi ilmiah dan wadah kaderisasi ulama dan penguatan intelektual ke-NU-an, tetapi juga Bahtsul Masail MWC NU Margoyoso memberi dampak nyata bagi warga nahdliyin, meningkatkan literasi fiqih kontemporer, menguatkan identitas Aswaja,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menyebut, kegiatan tersebut menciptakan ketenangan sosial lewat forum ilmiah, hindari konflik opini, serta mengeratkan ukhuwah antar ulama, pengurus, dan warga lintas desa-ranting. (*)

Umi Saidatun Nisa, mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, UIN Sunan Kudus.

Comments