Bersiap Menjemput Ramadan

0
44
KH Ahmad Bahruddin, Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus.

Oleh: KH Ahmad Bahruddin

Sahabat Muslim, tak terasa embusan angin kerinduan terhadap bulan suci Ramadan, mulai terasa. Namun, tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar siap, atau kita hanya sekadar menunggu kalender berganti?

Ramadan tidak sekadar ritual menahan lapar. Ia adalah kesempatan emas yang jika dilewatkan begitu saja, akan menjadi penyesalan yang mendalam.

Tiga Golongan yang Celaka

Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengaminkan doa Malaikat Jibril, mengenai tiga golongan manusia yang sangat merugi.

Kerugian tersebut bukan soal harta, melainkan hilangnya kesempatan mendapat ampunan dari Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tiga golongan itu adalah; 1). Anak yang mendapati orang tuanya masih hidup, namun keberadaan mereka tidak menjadikannya masuk surga (tidak berbakti hingga dosanya tak diampuni); 2). Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad disebut namun ia enggan bersalawat kepadanya; 3). Orang yang menjumpai bulan Ramadan, namun hingga bulan itu berlalu, dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah.

Sungguh ironis jika di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, kita keluar darinya dengan tangan hampa. Agar tidak termasuk dalam golongan tersebut, persiapan adalah kunci.

Bulan Menuju Kemuliaan

Persiapan menyambut Ramadan tidak dimulai pada 1 Ramadan, melainkan sejak bulan Rajab dan Syakban. Para ulama mengibaratkan: Rajab adalah bulan menanam, Syakban bulan menyiram, dan Ramadan adalah bulan memanen.

Kita diajarkan untuk memanjatkan doa tulus: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami hingga bertemu dengan bulan Ramadan.”

Syakban: Syu’abul Khair

Secara linguistik, kata Sya’ban berasal dari kata tasy’aba yang berarti terpancar atau berpencar. Mengapa demikian?

Sebab, pada bulan ini, terpancar banyak sekali cabang-cabang kebaikan yang bisa dipanen oleh seorang hamba sebagai pemanasan menuju Ramadan.

Syakban adalah bulan, di mana amal ibadah manusia dilaporkan secara simbolik kepada Allah. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan antara lain:

1). Istighfar: Membersihkan bejana hati sebelum diisi cahaya Ramadan.

2). Salawat: Sebagai bukti cinta kepada Rasulullah agar kita tak termasuk orang yang merugi.

3). Sedekah & Salat Sunnah: Melatih fisik dan jiwa agar tidak “kaget” saat memasuki intensitas ibadah di bulan puasa.

Akhirnya, mari bersama kita sambut dan jemput Ramadan dengan sukacita. Jangan biarkan Ramadan tahun ini lewat begitu saja seperti angin lalu. Dan jangan lupa manfaatkan sisa waktu pada Syakban ini untuk menyiram benih-benih kebaikan di hati kita.

Semoga saat hilal Ramadan nampak, kita sudah dalam keadaan “siap tempur”, siap beribadah, dan layak mendapatkan ampunan-Nya. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

KH Ahmad Bahruddin,

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus.

Comments