Berbagai Elemen Komitmen Dampingi para Mualaf

0
198
Penyerahan dana produktif untuk mualaf

TEMANGGUNG, Suaranahdliyin.com – Sebanyak 66 mualaf yang berasal dari Kepala Keluarga (KK) berbeda, resmi bergabung dalam program Mualaf Mandiri Rumah Mualaf MUI Kabupaten Temanggung.

Penyanangan program mualaf mandiri sebagai usaha pemberdayaan mualaf, digelar di Dusun Batursari, Desa Tleter, Kecamatan Kaloran pada Rabu (14/10/2020) kemarin di masjid yang berada dusun setempat. Acara dihadiri FKPAI Kecamatan Kaloran, Pokjaluh Kabupaten Temanggung, Baznas Kabupaten Temanggung, serta Pegiat FKUB Kabupaten Temanggung.

“Alhamdulillah penyanangan program yang kelima ini berjalan lancar. Selanjutnya kegiatan pendampingan akan dilaksanakan secara mingguan dan bulanan dengan menggandeng pendamping lokal,” terang Mahsun, mewakili pimpinan Rumah Mualaf Temanggung.

Mekanisme pendampingan mingguan diterapkan melalui penguatan tradisi yang sudah berjalan. “Kebetulan di sini sudah berjalan pengajian tahunan setiap pekan, sehingga tinggal dilakukan penguatan dengan tambahan materi fashalatan yang akan disampaikan para pendamping lokal,” terang Nur Budi Handayani, Ketua Kelompok kerja Penyuluh Agama Islam Kabupaten Temanggung.

Nur Budi Handayani menegaskan, Pokjaluh akan terus membersamai pendamping lokal sekaligus bertanggung jawab atas pendampingan dalam upaya melakukan bimbingan terhadap para mualaf.

H. Djundardo, ketua Baznas Kabupaten Temanggung, pada kesempatan itu menyerahkan dana produktif yang bersumber dari Baznas Kabupaten Temanggung kepada 66 mualaf peserta program mualaf mandiri.

“Ini adalah amanah zakat dari para Muzakki. Dan kami sampaikan melalui asnaf mualaf. Harapan kita, para mualaf di sini, ke depan bisa menjadi muslim yang mandiri dan juga mampu menjadi Muzakki,” katanya.

Pendampingan dan bimbingan kepada mualaf

Ahmad Sholeh, ketua FKUB Kabupaten Temanggung yang juga koordinator bidang pemberdayaan mualaf, pada kesempatan itu menyampaikan tentang kewajiban menjaga kerukunan antarumat beragama.

“Syarat hidup tenteram adalah rukun. Maka, meski berbeda agama, kita tetap harus rukun. Cara beribadah boleh berbeda, tetapi dalam aktivitas sosial harus bersama sama,” ungkapnya. (rls/ ibd, adb, ros)

Comments