Succes Story Kaprodi Manajemen STIE Cendekiaku Semarang
Terpacu Cibiran Keluarga – Tetangga, Susilowati Capai Pendidikan Tinggi

0
396
Dr.Susilowati saat promosi Doktor Pendidikan di UNNES, belum lama ini

KUDUS,Suaranahdliyin.com  – Hidup ditengah keterbatasan, bukanlah sebuah halangan. Hal demikian, justru bisa menjadi pemacu semangat dalam menggapai cita-cita.

Setidaknya itulah motivasi awal kesuksesan Kaprodi Manajemen STIE Cendekia Karya Utama Semarang, Susilowati dalam mengarungi dunia pendidikan. Belum lama ini, perempuan beralamat di dukuh Mijen Bulung Cangkring Jekulo Kudus ini juga telah berhasil mencapai gelar S-3 Program Doktoral Manajemen Kependidikan di Universitas Semarang (UNNES).

Menurut penuturannya kepada Suaranahdliyin.com, Susilowati adalah putri bungsu dari 9 saudara pasangan Parwi – Kusnah yang tergolong keluarga tidak mampu. Ibunya sudah meninggal dunia, bapaknya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya cukup buat makan.

“Walau kondisi demikian, waktu itu saya mempunyai mimpi dan cita-cita menjadi guru,”ujar Susilowati

Sejak lulus SMKN 1 Kudus, perempuan kelahiran 7 Juli 1989 ini menunda kuliah dengan memilih untuk bekerja dahulu. Tahun 2009 baru memutuskan kuliah. Semasa kuliah, ia  bertahan dengan keterbatasan, tanpa laptop dan juga motor

“Saya kuliah sambil bekerja dengan dibantu kakak saya Yudi Setiawan dan Supriyanto. Saya juga nyambi menjadi mentor les SD hingga SMP yang dengan tarif 2000 per-anak,”katanya.

Pada waktu kuliah, Susilowati mengaku banyak mendapat cibiran negatif dari keluarga dekat maupun tetangga. Dari situ, ia mengaku terpacu semangatnya untuk bisa membuktikan kepada orang banyak bahwa anak buruh tani juga bisa sukses.

“Saya masih ingat keluarga saya selalu bilang anak-e wong rak due ojo ngranggeh langit (anaknya orang tidak punya jangan bermimpi meraih langit). Tetangga juga banyak yang mencibir dan bertanya setengah menyindir, memang nanti jadi apa kalau kuliah? Kerja apa? anak cewek juga ujung-ujungnya di dapur,”tuturnya.

Usai mendapat gelar S-1, Susi melanjutkan jenjang pendidikan S-2 dan berhasil lulus pada 2016 dan diterima sebagai dosen pada 2017 di STIE Cendekia Karya Utama. Saat berusia 30 tahun, Susi melanjutkan jenjang S-3.

“Waktu itu saya bertekad, mumpung masih muda saya kuliah S-3, dengan modal tabungan 10 juta. Saya selalu optimis pasti bisa menyelesaikan S3. Meski setelah itu tidak ada uang lagi, saya percaya Allah pasti akan menolong hambanya yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar,”papar Susi.

Dalam pandangannya, seorang dosen memang harus mengabdikan diri terhadap pendidikan. Tidak hanya mengandalkan gaji, tetapi harus berbuat sesuatu untuk menghasilkan tulisan karya ilmiah, berwirausaha dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Sesuai dengan disertasi saya yang mengambil pembahasan tentang kinerja dosen STIE Semarang. Jadi melalui STIE Cendekia Karya Utamalah saya belajar banyak hal sehingga saya bisa meraih gelar S3 pada Agustus 2021 kemarin,”bebernya

Dirinya meyakini bahwa pendidikan adalah investasi masa depan.  Begitu pula jika pendidikan harus membutuhkan biaya, bukanlah suatu kerugian. Sebab ia yakin hal itu akan menjadi bekal untuk meraih masa depan.

“Saya selalu memberikan motivasi dan semangat kepada mahasiswa-mahasiswa, terutama generasi muda Kudus untuk jangan pernah takut bermimpi. Raihlah cita-cita setinggi-setingginya meski dari latar belakang yang serba terbatas dengan bekal tekad dan optimis pasti bisa meraih cita-cita,”imbuhnya.

Dari sini, Susi bisa mengangkat derajat dan membahagiakan orang tua. Saat ini, ia telah mampu mendaftarkan bapaknya untuk berangkat haji.

“Alhamdulillah, semua impian dan cita-citaku bisa tercapai,”ungkapnya mengakhiri perbincangan.(umi,adb/ros,rid)

Comments