Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 12
Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Orang Lain

0
1106

Oleh: A’isy Hanif Firdaus SAg.

Kehidupan di dunia sangat beragam dan warna-warni, lengkap dengan berbagai kondisi sifat baik buruk dalam diri manusia.

Islam  sebagai agama rahmatan lil alamin, selalu mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir positif, dan selalu bersyukur atas apa yang telah diterimanya sebagai anugerah terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib untuk disyukuri.

Sedangkan berburuk sangka atau berpikiran negative, termasuk ke dalam akhlak tercela. Dan orang yang melakukannya akan mendapatkan dosa.

Berprasangka buruk (su’udzan) merupakan sikap dalam diri manusia yang harus dihindari, dan itu membuat hati kita menjadi kotor, penuh kedengkian terhadap orang lain. Seorang mukmin sangat dianjurkan untuk menghindari prasangka buruk.

Sebagaimana dijelaskan dalam al Quran, Surat Al-Hujurat Ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat Ayat 12)

Kembali pada intisari ayat di atas, bahwa brasangka buruk terhadap orang lain, biasanya disebabkan oleh timbulnya rasa iri atau tidak suka terhadap orang akan sebuah keberhasilan yang didapatkan, khususnya terkait hal yang berkenaan dengan materialistik (finansial).

Dalam pandangan orang yang iri atau tidak suka kepada seseorang, maka apa pun yang dilakukan orang yang dibencinya, tak akan nampak kebaikannya sedikitpun. Seolah-olah apa yang dilakukannya itu selalu salah. Prasangka buruk ini, jika dibiarkan berlarut-larut, akan menimbulkan fitnah dan berdampak pada gejolak permusuhan yang tak kunjung usai.

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam salah satu hadisnya mengingatkan:

وقد قال صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللهَ حَرَّمَ مِنَ المُسْلِمِ دَمَه ومَالَه وَأَنْ يَظُنَّ بِهِ ظَنَّ السُّوْءِ

Artinya: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Allah mengharamkan (pertumpahan) darah dan (pengambilan) harta umat Islam, serta berburuk sangka terhadapnya.’ (HR Baihaqi dan Ibnu Majah; Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/155)

Disebutkan: “Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka, karena berburuk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Akibat serta bahaya orang berburuk sangka terhadap orang lain, hati selalu larut dalam perasaan cemas, gelisah dan tak tenang. Larut dalam prasangka buruk, akan terbawa pada perasaan cemas, gelisah dan tak tenang. Selain itu, memelihara emosi negatif dalam diri, juga akan membuat aura jiwa menjadi, negatif mengikuti apa yang sudah disangkakan.

Dalam Bahasa sederhana bisa dikemukakan, bahwa semua orang akan terlihat seperti musuh dalam selimut, bermuka dua, penjahat dan pengkhianat. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Untuk itu, rubahlah cara pandang Anda. Ubahlah kebiasaan buruk dengan kebiasaan-kebiasaan baik, agar kehidupan Anda menjadi lebih baik.

Selain itu, orang yang hidupnya dihinggapi prasangka negatif, maka yang kembali pada dirinya juga negatif. Orang yang selalu dikelilingi prasangka positif (baik), maka yang kembali juga positif.

Maka dari itu, dengan membuang segala prasangka buruk secara perlahan, mencoba mengubahnya jadi perasangka baik, tentu juga akan memengaruhi kondisi dalam jiwa. Anda pun bisa merasakan hidup yang tenang dan bahagia.

Prasangka buruk, akan selalu timbul jika dipelihara. Sehingga di mata Anda, semua orang akan terlihat sama; tak bersahabat. Sehingga Anda menjadi larut pada rasa cemas dan tidak pernah merasa aman. Tentu ini dampak yang tidak baik sebenarnya bagi diri Anda, sedang Anda sebagai manusia, tentu juga butuh sosok orang lain untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Jika Anda masih memelihara prasangka negatif hingga kini, maka Anda akan sulit mendapatkan kebahagiaan.

Maka dari itu, pada momentum Ramadan ini, mari kita bersihkan jiwa kita dengan hindari suudzon buang jauh-jauh sikap itu. Dan seyogyanya sebagai seorang Muslim, kita mengambil sebuah pelajaran berharga, yaitu jangan sekali-kali kita berburuk sangka kepada orang lain. Karena belum tentu apa yang kita sangkakan, itu kebenarannya. Lebih baik kita berbaik sangka, sehingga tidak akan menimbulkan kebencian, bahkan fitnah. Wallahu a’lam bi al-showab. (*)

A’isy Hanif Firdaus SAg,

Penulis adalah pegiat literasi dan pengurus LTN NU pada PCNU Kabupaten Brebes.

Comments