Di Balik Petuah Legendaris KH. Wahab Hasbullah

0
439
  • Belajar Bersikap dari Mbah Wahab (1)
Mbah Wahab bersama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Bisri Syansuri.

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Sebagai seorang pembesar Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Hasbullah tentu memiliki petuah-petuah yang jitu. Kiai kelahiran Tambakberas, 31 Maret 1888 ini memang dikenal sebagai diplomat ulung yang tidak hanya menguasai ilmu agama saja.

Lebih dari itu, Mbah Wahab juga diketahui menguasai Ilmu Hukum Belanda dan Jepang sehingga seringkali ditunjuk oleh Rais Akbar NU KH. Hasyim Asy’ari dalam bernegosiasi dengan mereka. Kendati demikian Mbah Wahab sama seperti ulama Nusantara lainnya yang teguh mencintai bangsa dan negaranya. Yang dengan berbagai kemampuannya selalu berusaha melindungi segenap tanah air tanpa terkecuali.

Salah satu petuah legendaris Mbah Wahab itu adalah “Kalau Kita Mau Keras, Harus Mempunyai Keris”. Petuah ini terdokumentasikan dalam Buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional karya Munawir Aziz (2016).

Petuah tersebut tentu menyimpan makna yang dalam. KH. Wahab Hasbullah adalah panglimanya para kiai. Beliau selalu powerfull dalam menyusun kekuatan yang berasal dari berbagai elemen. Baik itu kekuatan politik, fisik, rohani bahkan juga militer.

Petuah “Kalau kita mau keras, harus mempunyai keris” ini termasuk yang paling populer dan sering diucapkan beliau. Petuah ini menyimpan makna bahwa sebuah tindakan selayaknya diikuti dengan perencanaan dan persiapan yang matang baik secara lahir maupun batin.

Dalam praktiknya, KH. Wahab Hasbullah di mana pun sering menyebar ijazah berupa hizib, doa, maupun wirid kepada seluruh warga NU juga kepada siapa saja yang membutuhkan. Belum cukup dengan itu, Mbah Wahab juga menyiapkan pasukan militer berlapis.

Di samping PETA (Pembela Tanah Air), juga tersusun Laskar Hizbullah di bawah komando KH. Zainul Arifin, Laskar Sabilillah di bawah komando KH. Masykur dan juga Barisan Kiai yang beliau pimpin sendiri. Dengan begitu Mbah Wahab tidak pernah gentar menghadapi siapa pun musuh yang dihadapinya.

Begitulah cara Mbah Wahab bahu membahu dengan kiai lainnya dalam mengawal perjuangan Nahdlatul Ulama untuk membuka gerbang kemerdekaan bagi negeri ini. (M. Farid)

Comments