Dua Pemuda Ansor Ini Berbagi Tips Kewirausahaan Dasar

0
555
Aris Wibowo dengan produk Kopiloso miliknya tampil di acara Kudus Expo 2019

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Pemberdaayaan ekonomi menjadi salah satu fokus Nahdlatul Ulama (NU) saat ini. Nahdliyin diserukan untuk mulai menggarap segala potensi untuk bisa dikelola dan bernilai ekonomi untuk menyongsong satu abad NU.

Terkait hal itu, Suaranahdliyin.com berkesempatan melakukan wawancara dengan dua kader muda GP Ansor Kecamatan Dawe yang berhasil mengolah produk lokal sehingga memiliki nilai jual. Dua pemuda itu yakni kader Ansor Ranting Colo Triyan R Soetardjo dan kader Ansor Ranting Japan Aris Wibowo.

Triyan adalah CEO dan founder CV Seleksi Alam Bumi Nusantara. Ia mengolah tanaman endemik Muria, seperti Parijoto dan Pakis menjadi produk yang kini sudah dipasarkan hingga kancah nasional. Awal Oktober lalu ia juga berkesempatan diundang dalam acara Pameran Startup Teknologi dan Inovasi Industri Anak Negeri 2019 Kemristekdikti RI di Jakarta Convention Center.

Menurut Tryan pemuda NU sudah saatnya untuk mendobrak pakem. Artinya, mengubah mindset untuk lebih berani bertindak daripada sekadar wacana. Sebagian orang NU, kata dia, bisa dikatakan ahli dalam menyusun rencana, tetapi dalam hal aksi terkadang mereka terkendala mentalnya sendiri.

“Ketakutan-ketakutan ini yang harus pertama di lawan. Kalau dengan diri sendiri saja ragu-ragu bagaimana akan meyakinkan orang lain?” kata Tryan di area Ekspo Kudus 2019, Ahad (13/10/19).

Ia menambahkan, banyak hal disekitar kita yang bisa diolah sebagai potensi ekonomi. Terkait dengan pemasaran, saat ini juga akses sudah tersedia, baik yang online maupun offline. Begitu juga dengan jaringan usaha (networking) yang kian terbuka. Hanya tinggal keberanian kita untuk memulai.

“Jika ada kesulitan berupa penolakan atau diabaikan oleh publik di awal-awal itu sebuah hal wajar, Sirup Parijoto dulu juga begitu, tetapi ketika terus ditekuni masyarakat yang akan memintanya sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Aris Wibowo lebih menekankan tips kewirausahaannya kepada memperkuat relasi. Aris sendiri adalah founder Kopiloso. Selain itu, ia juga menginisiasi produk olahan kopi Sorban Raja yang kini jadi ikon ekonomi PR GP Ansor Japan.

Nama “Sorban Raja” sendiri merupakan akronim dari Ansor Banser Ranting Japan. Produknya itu kini juga sudah mulai merambah ke interlokal. Hal itu tampak dari tingginya permintaan yang ia layani baik secara offline maupun online.

“Kalau saya pribadi berbisnis itu soal relasinya. Misalnya, kita bisa bersinergi dengan Pemda jadi ketika ada ekspo bisa jadi ruang pemasaran produk kita, dan masih banyak lagi keuntungan sinergi itu,” kata Aris.

Saat ini, kata Aris, berbicara soal NU ya memang harus mandiri. Tetapi jangan sampai lupa kalau kemandirian itu juga perlu sinergi agar semakin kuat. Menurutnya, mandiri bukan soal bagaimana seseorang itu melakukan segala sesuatu sendirian. Mandiri bisa lebih bermakna ketika ada sinergi dari berbagai pihak untuk membangun satu kekuatan yang bisa menganyomi semuanya.

“Dengan begitu orang NU bisa melaksanakan tiga prinsip utamanya yakni kuat ekonomi, khidmah kiai, khidmah organisasi,” sebutnya. (rid/adb)

Comments