Perspektif Sejarah Muslim Menjaga Gereja

0
243

Oleh Dr H Muchotob Hamzah MM

Pada 24 Desember 2000 lalu, heboh komentar yang berbeda tentang kematian anggota Banser, Riyanto, yang kena ledakan bom. Malam natal itu, dia sedang menjaga gereja Eben Haezer di Mojokerto, Jatim. Dalam komentar yang mencuat, ada yang bilang ia mati syahid, tetapi ada yang menvonis dia mati konyol.

Sebelum kejadian, ada dialog antara  Riyanto dengan sahabatnya sesama Banser, Bowo. Waktu itu mereka sedang berbuka puas menjelang gantian salat Maghrib. Dia bilang: “Mas, kalau saya  mati dalam sedang menjaga gereja ini, matinya bagaimana?!” Jawab Mas Bowo. “Ya syahid, karena membela persatuan dan kesatuan”.

Tiba-tiba pada pukul 19.45 WIB, seorang anggota jemaat tergopoh-gopoh memberi tahu kepada Banser dan Polisi, bahwa ada tas di depan gereja. Amir Sagianto dan Riyanto mendekati tas itu, dan seorang polisi langsung sadar bahwa tas itu ada indikasi kuat berisi bom.

Polisi itu pun berteriak “tiaraaap” dan kerumunan pun lari kocar kacir. Namun Riyanto dengan sigap mengambil tas itu untuk dijauhkan dari kerumunan. Tetapi bom “Dhhuuuul”‘, meledak sebelum sampai di tempat aman. Riyanto meninggal dunia.

Perspektif Sejarah

Ada gereja di Yerusalem  yang turun temurun dijaga oleh seorang muslim atas perintah khalifah Umar Bin Khatthab. Ini faktual.

Begini cerita singkatnya: “Pada hari itu, patriakh akan menyerahkan kunci Kota Yerusalem kepada Khalifah Umar Bin Khatthab. ia bernama Patrius Sophronius, dan mempersilakan rombongan  khalifah salat di gereja tua Church of Ressurection, Yerusalem (638 M = 17 H). Gereja itu dibangun Ratu Helena (Ibu Kaesar Konstantin) di atas tanah yang di situ Yesus wafat (dalam kepercayaan Nasrani). Khalifah menolak, khawatir dijadikan tradisi oleh umat Islam untuk menduduki rumah ibadah agama lain. (F. Buhl. Shorter Encyclopedia of Islam, Leiden, 1953)

Mungkin juga sang patriakh ingat Nabi, yang pernah memberikan kesempatan kepada delegasi  dari Najran yang kristiani untuk melakukan kebaktian di Masjid Nabawi (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah II/158; ar-Rahieq al-Makhtum, hlm. 532-3; Wahidi, Asbab an-Nuzul, hlm. 66). Sedangkan khalifah sangat mungkin merujuk al-Quran yang menghormati rumah ibadah mereka.

Bahwa: “ … Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di sana banyak untuk menyebut Asma Allah.” (QS. 22: 40)

Gereja kuno tersebut pernah dihancurkan oleh penguasa Persia (Iran kuno). Baru dibangun ulang oleh patriakh Modista (617 M). Untuk kondisi hari ini, tidak harus persis dengan zaman Nabi kebaktian Nadrani di masjid atau sebaliknya; bertoleransi pun sudah bagus.

Muslim yang ditunjuk oleh khalifah Umar Bin Khatthab untuk menjaga gereja itu, adalah Nusaibeh, dan sampai hari ini digantikan secara kontinu oleh keturunannya. Tetapi dalam kasus ini, ada kebetulan pertama, yaitu belum atau tidak ada kematian yang terkait dengan aktivitas menjaga gereja.

Dia adalah pengawal khalifah dari Madinah, ditugasi menjaganya, dan tidak pulang ke Madinah. Sekadar kebetulan kedua, di situ ada sengketa antardenominasi gereja. Mereka sepakat kunci gerbang dipegang oleh seorang muslim yang netral, ketimbang antarmereka.

Nusaibeh memang hanya seorang biasa pengawal khalifah. Tetapi ia berjasa, bahkan khususnya  kepada orang non muslim yang tidak memusuhi Islam.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana andai waktu itu Nusaibeh meninggal karena hal yang berhubungan dengan gereja? Bagaimana pula tugas yang diberikan oleh khalifah Umar Bin Khatthab sebagai salafus shalih? Beliau orang yang sangat arif. Dan tidak sahabat Nabi serta ulama yang sampai era ini mengomentari negatif terkait penugasan tersebut. Wallaahu a’lam. (*)

Dr H Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah Rektor Universitas Sains al-Quran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

 

Comments