Pembudayaan Syari’at

0
299

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Syari’at adalah tatanan hidup yang komperehensif (kaffah=QS. 2: 208) baik berupa keimanan, sosial, ekonomi, politik dan lainnya dari Allah, untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat. Sedang budaya menurut Alija Izet Begovic, presiden pertama Bosnia Herzegovina, adalah berasal dari kata culture (cult=penyembahan, cultus= pemujaan).

Jelasnya, terkait dengan terma agama. Ada yang menyebut budaya dari kata Sansekerta “Buddhayah”=buddhi=akal. Sementara Profesor Selo Sumarjan mendefinisikannya sebagai hasil karsa, rasa dan cipta manusia.

Jadi yang dimaksud pembudayaan syari’at di sini, adalah bahwa syari’at sebagai anugerah Allah kepada manusia, yang secara inherent mengalami perjumpaan dengan bawaan lahir manusia berupa karsa, rasa dan cipta manusia.

Sementara karsa, rasa dan cipta meskipun sama-sama anugerah Allah, namun tetapi memiliki identity yang berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan ini semata-mata iradah Allah sendiri, yang nengandung hikmah tak terhingga agar saling melengkapi. Konsekuensinya, manusia pasti berbeda dalam berbagai aspeknya.

Untuk itu, mari coba urai sedikit dari yang kaffah itu, melalui bentuk budaya simbolik yang ada di sekitar kita. Adalah fakta bahwa budaya sebagai produks karsa, rasa dan cipta manusia tidak pernah final dan sempurna. Maka misi manusia dalam memproduksi budaya yang selaras dengan Islam, dinilai sebagai bagian dari ibadah (QS. 51: 56) ghairu mahdhah.

Dengan demikian, pembudayaan syari’at-pun tidak luput dari plus dan minus. Plusnya adalah: 1). mengakar dan lestari. Misalnya budaya menyambut shiyam Ramadan dan Idulfitri. Dahulu ketika orang Indonesia belum pintar membaca al-Qur’an dan hadis, para wali mengajarkan simbol-simbol dalam bentuk teknologi sederhana. Seperti pemberitahuan waktu hari padusan (mandi) jelang awal Ramadan atau Syawal, imsak dan takjil menggunakan kenthongan dan bedhug.

Teknologi sederhana ini di zaman modern dianggap kuno, lalu sebagian umat menggantinya dengan sirine. Di tempat saya saudara-saudara kami yang tidak menyukai kenthong bedhug-pun enjoy saja dengan sirine. Padahal fungsinya sama, yaitu sebagai sarana komunikasi dan informasi.

2). Lebih mudah bagi da’i untuk menanamkan budaya daripada kajian-kajian agama; 3). Lebih soft dan tidak banyak menyinggung perasaan para mad’u; 40. tak lekang di panas tak lapuk di hujan; 5). Mencerdaskan umat untuk belajar selektif terhadap budaya yang selaras atau bertentangan dengan syari’at.

Adapun kelemahan sebuah budaya yaitu; 1). Sering diterima tanpa kritik; 2). Penerimaan dari generasi sebelumnya sering tidak selektif; 3). Sulit berubah meski budaya itu sudah tidak relevan lagi; 4). Jika tidak bijak menyikapinya, bisa menimbulkan benturan budaya.

Dalam hal ini, soal menutup aurat yang diperintahkan syari’at bisa menjadi tamsil. Ia tidak secara detail menjelaskan, karena dinamikanya yang cepat. Dulu simbah saya mengenakan celana cingkrang di bawah lutut. Kata simbah, itu anjuran Nabi. Tetapi karena simbah tidak pernah reaktif kepada orang yang panjang celananya di bawah mata kaki yang ia pandang hukumnya makruh, maka celana cingkrang beliau ditiru banyak orang. Model celananya menjadi viral.

Contoh lain tentang makanan. Ketika menghadapi Idulfitri, para wali mengajarkan membuat makanan sebagai simbol ajaran agama. Seperti krecek=rengginang=renyah=tabassum. Jenang=lengket=ukhuwwah. Kue satu=bersatu. Kupat=mengaku salah atau laku papat dan seterusnya. Budaya itu masih lestari, meskipun sudah mulai “dilupakan” nilai filosofinya.

Ada lagi contoh lain, yakni mengenakan baju baru (terbaik) saat Lebaran (Hasyiyah Sunan An-Nasa’i 3: 181). Para wali menekankan lewat karya sastranya, agar baju barunya bisa men-tajdid iman, akhlak dan perannya sebagai hamba Allah. Namun kini budaya memakai baju baru makin marak, namun sudah mulai luntur filosofinya juga. Dan masih banyak contoh lain. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments