Meneguhkan Kudus sebagai Kota Literasi Al-Qur’an

0
1041

Oleh: M Khalifa Azka & M Najd Radyt Ijtaba

Tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia sebesar 63,9 poin pada 2022. Skor tersebut meningkat 7,4% dibandingkan setahun sebelumnya. Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Indonesia tahun 2022 sebesar 63,90 (tinggi)  mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2021 sebesar 59,52 (sedang), tahun 2020 sebesar 55,74 (sedang), tahun 2019 sebesar 53.48 (sedang), tahun 2018 sebesar 52,92 (sedang), dan tahun 2017 sebesar 36,48 (rendah).  (Andrean W. Finaka, 2023)

Dari data di atas, bisa dipahami bahwa minat baca masyarakat Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Dari minat baca itulah dapat dikembangkan dan disebut sebagai kemapanan literasi.

Sulzby (1986) memandang literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam pengertian luas, literasi meliputi kemampuan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan berpikir yang menjadi elemen di dalamnya (Muhana, 2003; 20). Sejalan dengan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, maka dibutuhkan literasi dalam pemahaman Islam, yaitu dalam hal pembelajaran Al-Qur’an.

Secara historis, pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia tumbuh bersamaan dengan tersebarnya Islam yang disiarkan oleh para ulama’. Biasanya, masjid atau mushalla, di samping sebagai tempat ibadah, juga digunakan sebagai sentral pengajian bagi umat Islam. Khususnya di kota Kudus yang menjadi salah satu kota rujukan metode pembelajaran Al-Qur’an. Salah satu ulama’ yang terkenal sebagai ahli Al-Qur’an dan qiraat adalah KH. M. Arwani Amin Said.

KH. M. Arwani Amin Said lahir pada Selasa Kliwon, 15 Rajab 1323 H/ 5 September 1905 M. di kampung Kerjasan, Kota, Kudus, Jawa Tengah. Kiai Arwani merupakan putra dari pasangan H. Amin Said dan Hj.Wanifah. Kiai Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Setelah beranjak dewasa, Arwani semasa muda meneruskan rihlahnya di berbagai pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang dan Yogyakarta.

Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke pesantren itu, Arwani Amin muda bertemu dengan banyak kiai, yang akhirnya menjadi gurunya (masyayikh). Adapun sebagian guru yang mendidik KH. M. Arwani Amin di antaranya adalah KH. Abdullah Sajad (Kudus), KH. Imam Haramain (Kudus), KH. R. Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Muhammad Manshur (Popongan, Solo) serta KH. M. Munawir (Krapyak, Yogyakarta). (Budi, 2023).

Perkembangan Literasi Al-Qur’an di Kudus

Dalam perkembangannya, di antara penerus KH. M. Arwani Amin Said, yaitu KH. M. Manshur MA., bersama dua putra Kiai Arwani, yakni KM. Mc. Ulinnuha Arwani dan KH. M. Ulil Albab Arwani, mengembangkan “thariqah membaca dan menghafal al-Qur’an”, Yanbu’a. Metode tersebut kini sangat dikenal sebagai salah satu metode yang banyak diajarkan kepada para santri Raudlatut Tarbiyatul Qur’aniyyah (RTQ) di Indonesia. Metode Yanbu’a metode mempunyai peranan yang sangat penting, yang diharapkan dapat membantu santri dalam mempelajari bacaan Al Qur’an.

Metode Yanbu’a disusun dengan Rasm Utsmani dan menggunakan tanda baca serta waqaf yang ada dalam Mushaf Al-Quran Rasm Utsmani yang dipakai di Negara-negara Arab dan Negara Islam. Media pembelajarannya meliputi buku ajar Yanbu’a sebanyak tujuh jilid, Yanbu’a Peraga, Yanbu’a Tahajji untuk panduan menulis, Yanbu’a Makhorijul Huruf dan Yanbu’a Panduan untuk melatih anak mengahafalkan ayat-ayat pendek dan do’a-do’a harian.

Metode Yanbu’a ditulis dalam 11 jilid dengan spesifikasi tujuh jilid materi pembelajaran dasar, tiga jilid berisikan materi gharib, tajwid dan latihan makhārijul huruf, satu jilid berisi materi hafalan dan satu jilid lainnya berisi panduan cara mengajar metode Yanbu’a. Basis yang digunakan dalam metode Yanbu’a menggunakan sistem pembelajaran Talaffudzi dengan pendekatan suku kata. (Mahrus, 2023). Untuk menerapkan Metode Yanbu’a, maka diperlukan mushaf sebagai medianya. Di antara mushaf yang populer adalah Mushaf Pojok Menara Kudus, yang merupakan hasil salinan dari mushaf kepunyaan KH Arwani Amin.

Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus adalah mushaf Al-Qur’an yang dicetak dan diterbitkan oleh Percetakan dan Penerbit Menara Kudus Jawa Tengah, dengan menggunakan sistem pojok, yakni mengakhiri setiap sudut lembarannya dengan akhiran sebuah ayat dan berjumlah 15 baris pada setiap lembarnya, kecuali pada beberapa lembar tertentu.

Awal mula mushaf Pojok Menara Kudus adalah “dikembangkan” KH. M. Arwani Amin yang didapatkannya saat melaksanakan ibadah haji, kisaran tahun 1970-an. Mushaf Al-Qur’an yang dimiliki oleh KH. Arwani Amin tersebut biasa disebut sebagai Al-Qur’an Bahriyyah. Pada mulanya mushaf ini ditulis oleh orang Turki. Lalu mushafnya disebut dengan mushaf Bahriyyah karena diterbitkan oleh Percetakan Bahriyyah, Turki.

Kemudian mushaf itu diberikan kepada Zjainuri untuk dicetak dan disebarluaskan, yang dapat membantu dan mempermudah para huffaz dalam menghafal Al-Qur’an karena menggunakan ayat pojok, dan dikenal sebagai ulama Al-Qur’an. Maka terbitlah Mushaf Pojok Menara Kudus untuk pertama kalinya pada 1974 M oleh Percetakan dan Penerbit Menara Kudus, yang dikoreksi (ditashih) tiga ulama’ ahli Al-Qur’an terkemuka di Indonesia asal Kudus, yaitu KH. M. Arwani Amin, KH. Hisyam Hayat, dan KH. Sya’roni Ahmadi (Fina, 2021).

Selain Metode Yanbu’a dan Mushaf Pojok Menara Kudus, KH. Arwani Amin juga menyusun sebuah kitab yang diberi nama Faidh al-Barakat fi Sab’al Qira’at untuk mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an melalui pendalaman ilmu qira’ah sab’ah.

Di Indonesia, Kiai Arwani Amin dapat dikatakan satu-satunya ulama Indonesia yang menyusun sebuah kitab tentang qira’ah sab’ah dengan menggunakan bahasa Arab, utuh 30 juz dan proses pengajarannya juga dipraktikkan di Pondok Tahfidh Yanbuʻ ul Qur’an Kudus yang didirikannya.

Riqza (2015), mengemukakan, kitab qira’ah sab’ah yang ditulis KH. Arwani Amin cukup masyhur di kalangan pesantren, dan menjadi salah satu rujukan bagi santri yang ingin belajar dan mendalami qira’ah sab’ah.

Dengan demikian, maka Kabupaten Kudus dengan keberadaan KH. M. Arwani Amin dan beragam metode baca al-Qur’an yang banyak diterbitkan di kota ini, layak menyandang predikat sebagai “Kota Literasi Al-Qur’an”. (*)

M Khalifa Azka & M Najd Radyt Ijtaba,

Penulis adalah peserta didik MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus. Tulisan ini terpilih sebagai juara I lomba penulisan artikel ilmiah populer dalam rangka Kudus Islamic Book Fair 2023 yang diselenggarakan di GOR IAIN Kudus, 8 – 13 September 2023.

 

 

 

 

Comments