LP Ma’arif NU Jateng Didorong Kuatkan Pendidikan Berbasis 6T dan IT

0
223
Foto bersama LP Ma’arif NU Jateng dan Rais PCNU Temanggung, Ahad (23/06/19) malam.

TEMANGGUNG, Suaranahdliyin.com – Pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PWNU Jateng sowan ke kediaman Rais Syuriah PCNU Temanggung KH. Yacub Mubarok, di Besaran Parakan Temanggung, Ahad (23/6/19) malam.

Turut dalam sowan yakni Ketua LP Ma’arif Jawa Tengah R. Andi Irawan didampingi pengurus lainnya seperti, Mahmudi Abduh, Ahmad Muzammil, Hamidulloh Ibda dan Abdul Halim.

“Sowan ini dilakukan sebagai wahana silaturahmi dan meminta doa agar Porsema XI berjalan lancar, serta meminta masukan terhadap program Ma’arif ke depan,” ujar Ketua LP Ma’arif Jateng, R. Andi Irawan.

Seperti diketahui bahwa Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XI LP Ma’arif PWNU Jateng di Temanggung akan digelar pada 24 – 27 Juni 2019. Dengan begitu acara sowan ini juga sebagai bentuk takdzim dari para pengurus LP Maarif Jawa Tengah kepada PCNU Temanggung.

Sementara itu, Rais NU Temanggung KH. Yacub Mubarok mendorong agar Ma’arif NU Jateng bisa menerapkan 6T. Diantaranya yaitu Ta’aruf (perkenalan), Taakha (menjalin persaudaraan), Tarahum (menebar kasih sayang), Ta’awun (saling tolong menolong), Tawasau (saling mengingatkan/menasihati), Tada’au (saling mendoakan).

“Enam T itu kalau bisa diterapkan alangkah baiknya pendidikan kita,” tutur Mbah Yacub, sapaan akrab KH. Yacub Mubarok.

Dalam melakukan tugas kependidikan, lanjut Mbah Yacub, memang sudah seharusnya bagi kita untuk melestarikan tradisi serta menjaga riwayat keilmuan. Menurutnya hal itu sangat penting sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada para pendahulu.

“Selain Ta’dib, dalam menjalankan pendidikan jangan melupakan riwayat dan tanggung jawab,” katanya.

Salah satu ulama senior Temanggung ini juga menandaskan pentingnya penguatan kuakitas guru, khususnya spirit mengajar yang disesuaikan dengan zaman. Menjadi guru ma’arif, menurutnya jangan sampai memburu gaji. Akan tetapi berbuat sebaik mungkin untuk mendidik generasi santri yang lebih mumpuni.

“Gaji berbeda dengan rezeki. Guru di Ma’arif harusnya bekerja, jangan memburu gaji. Jika ada guru menerima musibah, maka harus introspeksi karena guru itu didoakan siswa setiap hari dengan ucapan salam setiap hari,” katanya.

Lebih lanjut, Mbah Yacub berpesan bahwa Ma’arif dalam merespon zaman harus berhijrah ke dunia teknologi. Penguasaan IT harus merata di semua tingkatan agar santri Ma’arif bisa bersaing dengan pelajar lain.

“Saat ini perkembangan teknologi sangat pesat. Ma’arif harus menguatkan penguasaan IT dalam melakukan tugas kependidikan lewat berbagai kegiatan,” ujarnya.

Kiai Yacub dalam hal ini sangat mendukung kegiatan dan program LP Ma’arif PWNU Jateng dalam memajukan sekolah dan madrasah se-Jateng. Terlebih acara Porsema XI yang akan digelar 24-27 Juni 2019 ini. (Ibda/rid)

Comments