Khilma Anis: Menulis Karya Sastra Jangan Sampai Pamer Pengetahuan

0
673

“Aku memilih untuk mengagumimu dari kejauhan karena jarak melindungimu dari luka.’’ (Hati Suhita, 2019:225)

Khilma Anis berbagi cerita seputar proses berkaryanya sembari berbagi tips menulis.

KUDUS, Suaranahdiyyin.com – Di atas, adalah kutipan dari novel ‘’Hati Suhita’’ yang berhasil membuat baper para pembaca, terutama kaum muda. Ya, Hati Suhita adalah novel ketiga Khilma Anis setelah ‘’Jadilah Purnamaku Ning’’ dan ‘’Wigati’’.

Mulanya, Khilma Anis menulis cerita bersambung pada halaman facebook-nya sebagai hiburan. Ternyata, kalimatnya yang mengalir, disisipi unsur sejarah dan tidak terkesan menggurui siapapun, membuat warganet kemantil dengan cerita bersambung itu. Hingga lahirlah novel best seller ‘’Hati Suhita’’.

Banyak sekali penggemar novel tersebut di berbagai kota di Nusantara, hingga membuat kawan-kawan Sahabat Nadira, berinisiatif menyelenggarakan bincang kreatif bersama sang penulis; Khilma Anis.

Khilma Anis menulis Hati Suhita ‘’tidak sendirian’’. Sejak berupa cerita bersambung, banyak sekali komentar di halaman facebook-nya untuk para tokoh dalam novel Hati Suhita, seperti Alina Suhita, Gus Birru, Kang Darma, Aruna, dan Rengganis.

‘’Menulis itu bisa (dilakukan) di manapun dan kapanpun, asal punya riset yang cukup. Riset dapat berasal dari buku, hingga komentar pembaca,’’ tuturnya di depan peserta bincang kreatif yang dilangsungkan di Hotel Proliman Kudus, Ahad (9/6/2019).

Novelis Khilma Anis di tengah para penggemar Novel ;;Hari Suhita” foto bersama usai berbicara dalam bincang kreatif di Hotel Proliman Kudus..

Hati Suhita terinspirasi dari sebuah lagu, sebagai penanda bahwa inspirasi menulis bisa lahir dari manapun. Dalam prosesnya, seperti novel yang ditulis sebelumnya, Khilma Anis selalu memasukkan unsur-unsur pesantren, perempuan, dan budaya Jawa dalam narasi-narasi yang dirangkainya.

Penulis, katanya, harus pandai mengolah kalimat. Mampu melibatkan perasaan pembaca. Suspense dan surprise di dalam setiap bab novel juga penting. ‘’Dalam (menulis) sastra kita tidak boleh pamer pengetahuan. Kemampuan intelektualnya tidak harus didedahkan secara detil. Setting juga harus natural. Tidak usah muluk muluk. Yang penting masuk ke ruh pembaca,” ucapnya. (ulya/ adb, ros)

Comments