Perempuan Miliki Modal Lebih Dalam Penciptaan Karya

0
717
Dosen UPGRIS Semarang Setia Naka Andrian berbicara di hadapan kader Fatayat Kendal

KENDAL,Suaranahdliyin.com – Tidak ada batasan bagi siapa pun untuk turut serta berkarya. Terlebih lagi, seorang perempuan memiliki modal lebih dalam penciptaan karya (puisi).

Demikian yang disampaikan dosen muda Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang. Dr. Setia Naka Andrian, M.Pd., dalam acara Kelas menciptakan dan membaca Puisi yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kendal di Gedung Perpustakaan Daerah Kendal Sabtu (30/12/2023).

Di hadapan para kader Fatayat, Setia Naka mengatakan seorang  perempuan memiliki modal lebih, jika mereka berkenan memberdayakan segala pengalaman personalnya. Sebab, perempuan tentu mempunyai pengalaman kompleks yang bisa dijadikan sebagai pijakan dalam penciptaan karya.

“Tentu akan beda dengan apa saja yang dialami oleh kaum laki-laki. Perempuan punya kelebihannya tersendiri,” ujar pria yang juga sekretaris Lesbumi Kendal ini.

“Dan saya kira mereka memiliki energi besar, dan bahkan telah siap berproses untuk membukukan puisi-puisi karya mereka sendiri,”sambung Naka, penulis sastra yang dalam waktu dekat akan mejalani Residensi Sastra di Universitas Leiden, Belanda.

Pembicara kedua Teaterawan dari Teater Atmosfer, Ahmad Sofyan Hadi mengungkapkan karya puisi yang sudah diciptakan tidak boleh dibiarkan begitu saja, Tetapi harus dapat dipentaskan, dibacakan dan disebarkan secara luas.

“Oleh karena, sangat paham bahwa semua yang tertuang itu didapati segala hal yang baik-baik. Maka tidak boleh didiamkan, harus diterbitkan menjadi buku dan dibacakan secara kreatif agar lebih menarik perhatian khalayak,”harapnya.

Peserta kelas mencipta karya foto bersama pembicara

Ketua PC Fatayat NU Kendal Siti Ni’mallatif menjelaskan kegiatan bertajuk “Perempuan dalam Mencipta dan Membaca Karya” Ini bertujuan  untuk mengasah kemampuan literasi terutama puisi bagi kader-kader Fatayat.

“Bila selama ini menjadi penikmat saja, maka setelah kegiatan bisa menjadi pencipta dan pembaca kreatif puisi, “ungkapnya.

Ia mengharapkan kader Fatayat mampu menulis sebuah karya (puisi).”Karya sahabat-sahabat bisa dibukukan dan kemudian didiskusikan, dipentaskan, dialihwahanakan, dan seterusnya,”harapnya.(sna,adb/ros)

Comments