Ke Cilacap, LAZISNU Kudus Belajar Strategi Pengelolaan Infak Koin

0
507
Sharing oleh LazisNU Cilacap saat menyambut rombongan LazisNU Kabupaten Kudus

CILACAP, Suaranahdliyin.com – NU Care LAZISNU Kudus mengunjungi NU Care LAZISNU Cilacap untuk belajar pengelolaan infak koin. Segenap pengurus PC LAZISNU dan UPZISNU MWC Se-Kabupaten Kudus berangkat menggunakan bus ke kantor NU Care LAZIZNU Cilacap, Rabu (24/03/21).

Ketua NU Care LAZISNU Kabupaten Kudus H. M. Ihdi Fahmi menyampaikan keinginannya untuk belajar mekanisme infak melalui kaleng koin. Menurut Fahmi, banyak hal yang bisa dipelajari dari Kabupaten Cilacap. Baik itu mengenai teknis pencarian nasabah, kepegawaiannya, pembagian tasharufnya dan sebagainya.

“Dari sini kita akan banyak belajar dan diterapkan untuk memperkuat kinerja yang ada di Kabupaten Kudus,” ujar dia.

Ketua NU Care LAZISNU Kabupaten Cilacap, H. Wasbah Samudra Fawaid, menyambut baik silaturrahim dari Kabupaten Kudus untuk saling belajar. Ia juga memperkenalkan beberapa jajaran tim inti yang ada di NU Care LAZISNU Kabupaten Cilacap.

“Kita di sini sifatnya silaturrahim, belajar bersama, karena pastinya masing-masing daerah memiliki keunggulan yang berbeda,” katanya.

Pada kesempatan itu, H. Wasbah menyebutkan beberapa kunci sukses membangun sistem NU Care LAZISNU Cilacap. Salah satunya yaitu menekankan pentingnya berjamiyyah, secara struktural mulai dari tingkat ranting, MWC dan Cabang.

“Ego sektoral harus benar-benar disingkirkan, meskipun sulit, tapi itu wajib ada kalau mau membangun kemandirian umat melalui NU,” tuturnya.

Ia juga menceritakan sulitnya memberi pemahaman kepada MWC dan Ranting, agar mau mengikuti standar operasional program (SOP) yang dikeluarkan NU Care-LAZISNU Cilacap. Termasuk usaha tanpa lelah memberikan berbagai pelatihan kepada pegawai, mulai dari tingkat ranting hingga cabang.

“Kita adakan bimtek, motivasi, konseling, tausiyah, sambung rasa, administrasi, game dan doorprize,” ujar dia.

Dikatakannya, memang harus ada pengawalan dan ketegasan. Jika ada ranting atau MWC yang tidak mematuhi regulasi, kita adakan mediasi. Penguatan kelembagaan ini dilakukan untuk membangun trust (kepercayaan) masyarakat.

“Pada intinya, persoalan itu harus selesai di internal pengurus sendiri. Kalau sudah klop, masyarakat itu tinggal nganut (mengikuti, red),” ujarnya. (rid, gie/ros, adb)

Comments