Menilik Kontribusi Mbah Kholil Bangkalan bagi Bangsa dan Islam Nusantara (Bagian 2)

0
466

Dr Muhaimin M.Pd, ketua tim pengusul dan koordinator kajian akademik dan biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, dalam kajiannya “Kontribusi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dalam Jejaring Simpul Islam Nusantara dan Penguatan Nasionalisme Ulama-Santri dalam Perjuangan Melawan Kolonialisme di Indonesia Kurun Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20”, menyampaikan, bahwa Pada periode akhir abad ke-19, kesadaran masyarakat tentang praktik-praktik penjajahan yang dilakukan Belanda semakin menyeruak.

“Rasa nasionalisme telah menjadi virus yang mengkhawatirkana Belanda. Bahkan Belanda telah kewalahan menghadapi perlawanan-perlawanan masyarakat pribumi. Pemerintah Belanda pun merasa, bahwa mereka salah dalam menerapkan kebijakan. Akhirnya mereka mengirim Dr Snouk Hurgronje untuk meneliti praktik keberagamaan masyarakat pribumi Hindia-Belanda,” jelas Dr Muhaimin.

Hurgronje pun mendapatkan sebuah kenyataan, bahwa simpul perlawanan masyarakat pribumi Hindia-Belanda, terletak pada ketaatannya menjalankan agama serta kepatuhannya pada pemimpin agama; ulama dan kiai. Maka Hurgronje merasa butuh untuk mencari tahu tentang sumber kekuatan keberagamaan ini, hingga dia mendatangi Hijaz (Mekah dan Madinah) sebagai sumber utama kekuatan agama Islam.

Dikemukakan, bahwa untuk menjalankan misinya, Hurgronje berikrar menjadi seorang muslim, dan mengganti namanya dengan Abdul Ghaffar. Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan belajar di Mekah di bawah otoritas Mufti kala itu, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan (1813-1886).

Di sana, Hurgronje menjalin hubungan yang intens dengan Imam Besar Masjidil Haram sekaligus ulama besar kelahiran Jawa, Syaikh Nawawi al-Bantani (1813-1897), setelah sebelumnya pernah melakukan kontak saat masih berada di Jawa Barat.

“Akhirnya, Hurgronje mendapatkan gambaran tentang koneksi ulama Mekah, India, dan Asia Tenggara. Snouk Hurgronje mengetahui secara detail pengajaran apa yang dilakukan di Mekah,  gagasan apa yang dibahas di depan madrasah pada ulama, serta siapa saja tokoh-tokoh pada  pusat kajian itu,” terang Dr Muhaimin dalam kajiannya.

Selanjutnya, dalam proses mengetahui lebih jauh tentang pola keberagamaan Islam kalangan pesantren, Snouk Hurgronje sering berinteraksi kalangan pesantren, salah satunya dengan KH Hasan Mustafa, ulama asal Garut. “Dalam penelitian dan penelurusan yang dilakukan Tim Lajnah Turots terhadap manuskrip-manuskrip peninggalan KH Hasan Mustafa serta wawancara terhadap ahli warisnya, diketahui kemudian bahwa KH Hasan Mustafa adalah murid dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan,” ujarnya lebih lanjut.

Pada gilirannya Snouk Hurgronje berkesimpulan, bahwa terdapat tradisi ngetan dalam tradisi keberagamaan masayarakat Sunda. Tradisi ngetan (ke arah timur) mendeskripsikan tentang kebiasaan masyarakat Islam Sunda dan Jawa bagian barat, memperdalam ilmu agama dengan merantau atau nyantri ke arah timur.

“Pengembaran keilmuan ke arah timur secara berturut-turut dapat digambarkan, dari Banten lalu ke Bandung, berlanjut ke Garut, lalu Tasikmalaya, beralih ke arah Kuningan, kemudian ke Cirebon, mengembara lagi ke arah Magelang, terus ke Semarang, Kudus, Pacitan, Madiun, Tuban, Surabaya,  dan berakhir di Madura,” bebernya.

Gerakan Nasionalisme Pesantren 

Mengutip penelitian Arwansyah dan Faisal Ahmad Shah, Dr Muhaimin menyebutkan, bahwa   Syaikh Nawawi pada masanya merupakan ulama sentral yang menjadi diakui kealimannya oleh seluruh ulama dunia. Syaikh Nawawi al-Bantani mula-mula hanya mengajar di serambi rumahnya, namun lambat laun kemudian mengajar di Masjidil Haram, menjadi Imam Masjidil Haram dan bahkan mendapat predikat ulama Hijaz.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam proses belajarnya di Mekah, terpanggil kembali ke Jawa untuk membela hak-hak bangsanya. Sepulang dari Mekah, Syaikh Nawawi menjadi motor penggerak nasionalisme, melepaskan diri dari cengkeraman penjajah Belanda. Syaikh Nawawi mengecam keras praktik imperialisme dan kolonialisme.

Dalam pandangan Syaikh Nawawi, praktik-praktik penindasan yang dilakukan oleh kaum penjajah, harus diakhiri. Maka Syaikh Nawawi pun menggelorakan semangat nasionalisme melalui mimbar langgar pendidikan khas pesantren. Buntutnya, pihak Belanda cemas dan marah, sehingga menutup pesantren Syaikh Nawawi dan memaksa Syaikh Nawawi Banten kembali ke Mekah.

Kembali ke Mekah, semangat perjuangan dan nasionalisme Syaikh Nawawi tidak padam. Syaikh Nawawi merindukan kebebasan beragama dapat dirasakan oleh umat Islam di tanah air, tidak dalam kekangan dan cengkeraman pemerintah Belanda. Syaikh Nawawi dalam satu kesempatan pun mengutarakan empatinya dan idealismenya itu kepada Snouk Hurgronje, agar kebebasan beragama Islam sebagaimana pada masa Kesultanan Banten.

“Gelora perjuangan dan pergerakan nasionalisme Syaikh Nawawi lalu diturunkan pada murid- muridnya. Sebab Syaikh Nawawi sadar, bahwa perjuangan melalui pendidikan akan lebih berdampak pada bangsanya ketimbang perjuangan konfrontasi melawan penjajah,” terang Dr Muhaimin.

Syaikh Nawawi pun menjadi simpul perjuangan nasionalisme periode Mekah yang ditanamkan kepada para santrinya. Di antaranya adalah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, dan lainnya.

Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan menjadi murid senior Syaikh Nawawi al-Bantani, di antara para murid perantauan lain dari Jawa. Interaksi guru-murid daerah jajahan Hindia-Belanda, menyatukan rasa empati dan simpati ketertindasan di tanah perantauan, Hijaz.

“Inilah interaksi yang menyatukan perjuangan antara Syaik Nawawi al-Bantani dengan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, bersama santri-santri lainnya. Dalam kerangka inilah, Syaikh Nawawi al-Bantani menjadi sumber dan lumbung semangat nasionalisme kalangan pesantren periode Mekah,” papar Dr Muhaimin dalam kajiannya bersama tim. (mail, gie, luh/ ros, rid, adb)

Comments