Jebolnya Benteng Tauhid

0
495

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Karakter “Tauhid=La Ilaha illallah” bagi seorang Muslim, laksana paku yang dipukul. Semakin kuat dipukul, maka akan semakin dalam menancap (Tauhid is like a nail, the stronger it gets, the deeper it gets).

Meskipun tauhid dalam Islam disebarkan tanpa paksaan (QS. 2: 256), tetapi sejarah membuktikan berkembang pesatnya tauhid ini ke seluruh dunia. Sejak awal, Bilal Bin Rabah, Khabbab Bin Arats dan lainnya mendapat siksaan, tetapi mereka semakin yakin dalam keimanan. Muslimah bernama Sumayyah, terbunuh karena tauhid, dan ia tak tergoyahkan meski di bawah tajamnya tombak yang menghunjam farjinya.

Islam dengan tauhidnya, juga membuktikan dirinya sebagai agama yang mampu beradaptasi dengan segala kebudayaan. Ia tidak kehilangan jati diri tauhid-nya, meskipun menghadapi berbagai bauran takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC). Ia dengan cepat merasuk ke dalam stelsel sosial berbagai bangsa dan agama. Ajarannya simple dan supel (een ondiepe godsdient is). Kitab sucinya singkat dan padat (Kort en Bondig).

Tiap orang yang sudah bertauhid, akan sangat sukar untuk dilepaskan. Pengakuan seorang dedengkot zending, Prof Kraemer, untuk mengubah orang Islam itu tidak hanya sukar, tetapi juga menjengkelkan: “Niet slechts moelijk arbeidsveld…maar eigenlijk een steen des aanstood” (Kraemer, dalam Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, Mizan, 221-2).

Tauhid seorang muslim yang mukhlis tidak pernah luntur, meskipun: 1). Salat menghadap Kakbah yang masih dikelilingi oleh 360 berhala, sebelum akhirnya dibersihkan saat Fathu Makkah pada 8 hijriyah; 2). Salat menghadap kiblat tetapi di depannya ada kubur Nabinya; 3). Berdoa dengan bertawasul (QS. 5: 35) oleh orang Islam yang menginginkannya baik melalui wasilah keimanannya: ربنا امنا فاغفرلنا. Ya Tuhan kami, karena iman kami, maka mohon ampunilah kami… (QS. 23: 109), wasilah dengan amal baik dirinya (Bukhari no 2272; Muslim 2743), maupun wasilah amal  dari yang lain seperti Nabi dan lainnya (Bukhari 1/137).

4). Salat menyatukan arah kiblat dengan wasilah Kakbah yang ada hajar aswadnya. Dengan wasilah ini, tidak ada orang berilmu yang menyembah Kakbah. Karena: a). perintah kitab sucinya: فليعبدوا رب هذا البيت… Artinya: Sembahlah Tuhan Pemilik rumah ini=Ka’bah (QS. 106: 3); b). Sebelum salat menghadap Kakbah telah 17 bulan menghadap masjid Al-Aqsha di Palestina; c). meskipun Kakbah cagar mulia, tetapi lebih mulia darah seorang muslim (Baihaqi, Syu’abul Iman, Hasan).

Benteng tauhid tidak pernah jebol, selama umat ini tidak kena penyakit “Hubbu ad-Dunya”=Rakus dunia (Abu Dawud dari Tsauban, Sahih), atau”Hubban Jamman” (QS. 89: 20) sehingga menjadi faqir. Nabi saw. bersabda:

هلاك امتي في شيءين، ترك العلم وجمع المال. Artinya: Hancurnya umatku dalam dua hal. meninggalkan ilmu dan menumpuk harta (Bukhari). Pertama, ketika umat meninggalkan ilmu dalam akidah, (naqli dan aqli), maka keimanannya menjadi rapuh.

Meskipun dalil naqlinya kuat, kalau dalil aqlinya lemah juga akan mudah tumbang, kecuali pada kalangan elitnya. Misal kelemahan argumen ketika menyamakan Tuhan dengan manusia yang memiliki tinggi 60 hasta, atau 30 m.(Majmu’ Fatawa, Allamah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, Darul Ifta’ Jl. 4 No fatwa 2331, hlm. 368). Atau Allah seperti Adam yang mempunyai tangan, wajah dan kaki (Syarhul ‘Aqidah li Ibni Taimiyah, Darut-Tsuraya, cet. 1. hlm. 107-293).

Kedua, rakus dunia. Betapa banyak muslim yang terbujuk oleh supermi, uang receh dan iming-iming dunia tingkat tinggi bagi yang lain. Padahal, kaya itu tidak haram, tetapi kerakusanlah yang diharamkan.

Jadi meskipun tulisan di atas Prof. Kraemer dkk. mengeluh, tetapi beliau berhasil pula. Memang sih, tidak sebanding dengan limpahan dana dan kecanggihan fasilitasnya. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments