Islam Agama Universal

0
295

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Mungkin masih ada sebagian kecil umat Islam yang bingung dan bilang seperti ini: “Katanya semua agama Allah adalah Islam. Padahal setahu Aku, ada Yahudi (dibawa oleh Nabi Musa), Nasrani (dibawa oleh Nabi Isa), dan lainnya. Jadi agama Nabi-nabi tersebut bukan Islam. Kalau  Islam itu, ya, agama yang dibawa Nabi Muhammad saja.”

Ungkapan itu tidak salah dari sisi berpikir spesifik, tetapi salah dari sisi berpikir generik. Islam spesifik adalah yang dibawa Nabi Muhammad, dengan rukun Islam yang lima (Bukhari No 8; Muslim No 16) disertai sistem kehidupan yang komperehensif (2:208) dan holistik, tidak fragmentalistik (15:90), dan -kaaffatan linnaasi-  untuk seluruh  manusia (34:28).

Islam spesifik ini membenarkan Islam generik yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul (22:78),  dengan berbagai penglurusan dari penyimpangan yang diperbuat oleh pengikutnya (5:48).

Maka perlu dijelaskan, bahwa Allah hanya akan menerima Islam sebagai agamanya (3:19): ان الدين عندالله الاسلام. Kalau yang dimaksudkan Islam hanya yang dibawa Nabi Muhammad, berarti agama yang dibawa Nabi Musa, Nabi Isa, dan lainnya ditolak semuanya? (3:85) ومن يبتغ غيرالاسلام دينا فلن يقبل منه وهو فى الاخرة من الخاسرين. Karena setahu kita agama mereka adalah Islam, Yahudi, Kristen, dan sebagainya.

Maka yang logis-literatif, berarti agama semua rasul dan nabi adalah Islam (22:78). Jika ada yang menyimpang, maka al-Quran berperan sebagai “muhaiminan”, penglurus (5:48). Al-Quran juga sebagai penyeru -kalimatin sawaa’in- dan saling menjaga eksistensi masing-masing (3:64).

Di samping itu, karena Nabi Muhammad diutus untuk sekalian alam, maka Baginda Nabi bersabda: “Andai Nabi Musa masih hidup, maka Nabi Musa akan tunduk kepada agama ini-Islam yang Aku bawa,” (HH, Albani, Irwaul Ghalil 6 No.1589).

Kenapa Agama Nabi Musa disebut Yahudi oleh pengikutnya? Karena pemimpin sesudah Nabi Musa ada yang bernama Yahuda. Kenapa Agama Nabi Isa disebut Nashrani? Karena Nabi Isa lahir di Nashirah = Nazaret, dan seterusnya.

Menurut pakar bahasa, kata “Islam” berakar dari kata “silmun=damai” (2:208), atau “salmun=damai” (8:61). “Salaamah, saliim=selamat”(26: 89), yang oleh nenek moyang disimplifikasikan dengan ucapan “sluman-slumun-slamet.”

Meskipun dalam Islam ada ayat damai dan ayat perang, tetapi watak dasarnya adalah damai (David Cotchright). Karena itu firman-Nya: “Perangilah seluruh orang musyrik sebagaimana mereka memerangi kalian…  (9:36). Ada penggalan kata “sebagaimana”… Indikator itu di samping berdasarkan sejarah nabi, juga doa bakda salat tiap muslim selalu bermohon damai-selamat. Allaahumma Antas Salaam… (Bukhari No 6615; Muslim No. 593).

Demikianlah adanya. Secara umum, betul apa yang dikatakan Goethe. “Kalau memang arti Islam itu berserah diri kepada Tuhan, submission to the will of God (berdamai dengan Tuhan -dan umat-Nya- pen.), bukankah kita semua akan hidup dan mati dalam pelukan Tuhan?” (Goethe, orientalis, dalam West-Ostlicher Divan).

Maka jika dirunut sebelum ada pengubahan, semua agama menganut keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai ummatan waahidatan (2:211). Al-Quran mengakui bahwa Tuhan dalam Islam sama dengan Tuhan penganut ahli kitab -yang masih murni- pen. (29:46). Bahkan inskripsi kuno pra Islam (512 M.) bertuliskan Bismillah, telah ditemukan pada 1881 M di Kota Zabad dekat Allepo.

Dalam agama Zoroaster disebutkan, Dia (Tuhan) adalah Esa tetapi bukan satu dari bilangan (Dasatir, hlm. 69). Sifat Allah adalah Ahad=non numerikal, yang tidak punya pecahan dan tak satu pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya. Dalam kredo orang Yahudi disebut: Syema jisrael Yahwe Elohenu Yahwe Echod= dengarlah wahai Israel, Yahwe Tuhan kita, Yahwe yang Esa. Wallaahu a’lam bi al shawaab. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adala Rektor Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo

Comments