Gus Yahya Sebut NU Organisasi dengan Mandat Global

0
308
Para tokoh hadir dalam Simposium Peradaban Nahdlatul Ulama (NU) di Keraton Sumenep, kemarin

SUMENEP, Suaranahdliyin.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar Simposium Peradaban Nahdlatul Ulama (NU) di Keraton Sumenep, Sabtu (5/3/2022) kemarin.

Ikut hadi pada kesempatan itu, KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gus Yahya -sapaan akrab ketua umum PBNU- dalam forum tersebut menyampaikan pandangannya terkait NU di Tengah Peradaban Global Multi Polar.

Dalam pandangannya, peradaban merupakan suatu komposisi dari beberapa elemen yang kompleks seperti nilai-nilai, budaya, sampai kepada tatanan sosial politik yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat.

“Oleh sebab itu, dalam Bahasa Inggris peradaban disebut dengan civilization, karena menyangkut sipil (masyarakat),” terangnya.

Menurut Gus Yahya, oeradaban Islam sudah terbangun sejak zaman Rasulullah. Karena Rasulullah memiliki visi untuk membangun peradaban dari wahyu-wahyu yang disampaikan kepada manusia.

“Maka ketika Rasulullah melaksanakan perjuangan dalam bergulat memikul risalah, kita akan menyaksikan bahwa seluruh perjuangannya sesungguhnya adalah merintis suatu peradaban. Karena tidak hanya memperkenalkan nilai-nilai, juga membangun struktur masyarakat agar dapat diterapkan di kehidupan masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Setelah zaman Rasulullah, peradaban Islam sempat mentereng saat zaman Turki Utsmani, namun akhirnya jatuh pada Perang Dunia I setelah perang melawan Eropa yang mengakibatkan umat Islam merasakan kebimbangan yang sangat mendalam.

“Merespons hal tersebut, KH Wahab Hasbullah yang sempat berada di Mekah saat ketegangan terjadi, merasakan betul dinamika yang terjadi pada umat Islam. Sehingga Kiai Wahab bersikeras membuat Komite Hijaz dengan tujuan mengetahui kemampuan Kerajaan Saudi dalam menggantikan Turki Utsmani,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, sepulang dari Mekah, Kiai Wahab mengusulkan kepada gurunya, KH Hasyim Asy’ari, untuk mendirikan organisasi baru yang menghimpun para ulama, karena Kerajaan Saudi tidak punya kapasitas menggantikan kosntruksi peradaban Turki Utsmani.

“Jika tidak ada yang menggantikan, seluruh umat Islam akan mengalami kebingungan peradaban. Dalam keadaan yang bingung ini, tidak ada yang lebih bertanggung jawab untuk memberikan jalan keluar selain ulama,” lanjutnya dalam rilis yang diterima Suaranahdliyin.com.

Sehingga, ungkapnya, terbentuklah NU, organisasinya para ulama, sebagai jawaban atas lahir kembali peradaban Islam. “Itu sebabnya organisasi yang didirikan adalah organisasinya ulama yang diberi nama NU, dan gambarnya jagat, karena yang bingung adalah orang sedunia. Maka mandat kita adalah mandat global,” ujarnya. (rls/ mid, ros, adb)

Comments