
SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Pegawai di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah beramai-ramai mengenakan sarung dan baju koko tepat Pada Hari Santri Nasional (HSN) Jumat (22/10/2021).
Itu menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Gubernur Nomor: 450/0014496 tentang Peringatan Hari Santri Nasional. Dalam SE yang ditujukan kepada OPD itu disebutkan, bahwa pegawai di seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Jateng supaya mengenakan sarung, baju koko, dan berpeci untuk laki laki. Sedang untuk perempuan dan non muslim menyesuaikan.
Merespons kebijakan itu, Fraksi PKB menyambut gembira dan mengapresiasi upaya Pemerintah Jateng terus mensosialisasikan HSN.
Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Tengah H Syarif Abdillah, mengatakan, langkah Gubernur itu menunjukkan bahwa HSN adalah milik bersama, bukan hanya milik santri yang sedang belajar di pondok-pondok pesantren. Seperti sejarahnya, hal ini pengakuan negara terhadap peran santri.
“Kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih terhadap pemerintah, para stake holder, kalangan akademisi, rohaniawan, kelompok-kelompok nasionalis, serta seluruh pihak, yang dari tahun ke tahun terus menerima dan mendukung hari santri nasional ini,” ujarnya.
Namun dia mengingatkan, supaya peringatan HSN tidak sekadar simbol, tetapi juga diimbangi implementasi dari UU Pesantren dan Perpres Dana Abadi Pesantren.
Pihaknya cukup menyesalkan, sejauh ini payung hukum di atas belum diwujudkan konkrit di level daerah. Di Jawa Tengah sendiri, belum terwujud Perda Pesantren. Meskipun sudah ada beberapa daerah yang sudah terbit Perda Pesantren, seperti Jawa Barat dan Kabupaten Kendal.
“Khusus di Jawa Tengah, kami berharap Pemerintah serius mengawal proses perda pesantren ini. Kalau di level DPRD, kami sedang terus mengupayakan kesepakatan seluruh fraksi-fraksi yang ada di DPRD,” tuturnya.
Syarif menambahkan, Perda Pesantren ini kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan para santri. Filosofi Perda Pesantran adalah untuk memajukan pendidikan yang bernuansa nasionalisme, dan mendidik anak bangsa yang bermoral dan berakhlak.
“Perda Pesantren mendorong agar anak-anak bangsa mengerti Islam tetapi tidak meninggalkan ajaran hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman). Cinta tanah air itu didalamnya juga terkandung semangat toleransi dan gotong-royong,” tuturnya. (mail, ros, gie, luh/ rid, adb)