Menyintai Sang Uswah Hasanah

0
148

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Seorang muslim yang ingin merasakan manisnya iman, salah satunya mesti mencintai Allah dan rasul-Nya lebih dari segala-galanya (Muttafaq ‘Alaih; Riyadhus Shalihin, 375).

Adapun indikator cinta (‘alaamatul hubbi) kepada Sang Uswah Hasanah, minimal ada lima poin. 1). ان يكون المحب كثرة الذكر للمحبوب. Artinya: agar banyak menyebut nama yang dicintainya. 2). ان يطابق المحب بالمحبوب من نفس وفكرة وهدف. Artinya: menjumbuhkan pecinta kepada yang dicintainya dalam sikap dirinya, pikiran dan tujuan hidupnya. 3). ان يتبع المحب المحبوب من فكرة او قول او عمل. Artinya: agar pecinta mengikuti yang dicintainya dalam pikiran, ucapan maupun perbuatannya (QS. 3: 31). 4). ان يبذل كل شيء من علم او مال او قوة او جاه او نفس للمحبوب. Artinya: agar mengorbankan ilmu, harta, energi, kekuasaan, atau jiwanya untuk yang dicintai (QS. 9: 24). 5). ان يدعوالله لسلامة المحبوب. Artinya: mendoakan agar Allah melimpahkan rahmat salam kepada Sang Uswah Hasanah (QS. 33: 56).

Ragam Komentar

Banyak komentar dari ilmuwan dunia terhadap kehidupan Nabi Muhammad baik yang positif maupun negatif. Satu dari yang negatif, misalnya ungkapan Prof Klimovicz dari Rusia yang mengatakan: Muhammad is the imaginary personality. (Artinya: Muhamnad adalah pribadi imajiner atau hayalan. Ia tidak pernah ada).

Komentar yang positif antara lain: 1). Dua kalimah syahadat yang simpel, tak pernah berubah. Konsep ketuhanannya tak tergoyahkan oleh segala bentuk arca. (Contoh: arca pahlawan di negeri muslim yang tak lernah berubah menjadi sesembahan). Kehormatan Nabi tak pernah melampaui sifat kemanusiaannya. (Contoh: pujian kepada Nabi dalam kitab Al-Barzanjy dan lainnya yang tetap menjadikan beliau “‘Abduhu wa Rasuuluhu” dan tidak menyetarakannya dengan Allah, pen.) (E. Gibbon dk., The History of the Saracen…, hlm. 54); 2). Gebrakan Muhammad mengangkat status kaum wanita diakui secara universal (H.A.R. Gibb,
Muhammadanism, hlm. 33); 3). Muhammad melulu mencari kebenaran, tidak pernah mendahulukan golongan (Prof. Nathanial Schmidt, The New International Ency.); 4). Sebagai reformis, ia menggariskan Undang-undang yang universal dan abadi (Dr. Gustav Weil dalam A. History of Islamic the Peoples);

5). Ia Jenderal yang menguasai keadaan dan tak tergoyahkan oleh kegentingan (G.M. Drycot, The Lives of Muhammad); 6). Negarawan yang menguasai masalah kenegaraan yang paling membingungkan (SP. Scott, History of the Moorish Empire in Europe); 7). Ia berlaku adil termasuk kepada musuhnya (Sir William Muir, Half Hours with Muhammad); 8). Karakternya tidak berubah sejak jadi penggembala, orang kaya, penguasa dan sebagainya (R. Boswoth Smith, Muhammad and Muhammadanism).

Keteladanan Nabi disebutkan oleh sejarah, baik dalam kehidupan keluarga, kekerabatan, kemasyarakatan maupun kemanusiaannya. Bahkan kasih sayangnya terhadap hewan dan tanaman.

Allah berfirman:
لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذكر الله كثيرا.

Artinya: Sungguh telah ada bagi kalian utusan Allah sebagai teladan kebaikan bagi orang yang mengharapkan bertemu Allah dan hari akhir dan orang yang selalu ingat kepada Allah (QS. 33: 21).

Rasulullah Muhammad adalah orang yang siap menolong siapapun yang membutuhkan. Baginda Nabi selalu siap menanggung hutang orang yang tak mampu membayar, dan tidak memiliki penanggung hutangnya. Beliau tidak pernah menolak permintaan orang kepadanya (Muchotob Hamzah, Managemen dengan Keteladanan, Narasi Unggul, 2006). Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments