Dajjal, Antara Sosok dan Sifat

0
129

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Ada khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama Islam tentang Dajjal. Adakah Dajjal itu nama sosok manusia, ataukah ia adalah dominasi sifat kekafiran dan kemunafikan dari budaya manusia.

Secara etimologis, Dajjal berasal dari bahasa Syiria kuno, Mashiha Deghala. Jika dirunut dari hadis tentang setiap Nabi yang pasti telah memeringatkan umatnya akan datangnya Dajjal, berarti kosakata ini telah berumur ribuan tahun.

Nabi Muhammad bersabda: ما من نبي الا وقدانذر امته الاعورالكذاب. Artinya: Tidaklah ada seorang Nabi-pun kecuali telah mengingatkan umatnya tentang seorang super pendusta yang bermata satu (Bukhari, 7131; Muslim, 2933).

Al-Quran tidak secara eksplisit menyebutkan nama Dajjal. Kitab suci umat Islam ini hanya memberikan sinyalnya pada ayat: يوم ياءتى بعض ايت ربك لا ينفع نفسا ايمانها لم تكن اءمنت من قبل او كسبت في ايمانها خيرا. Artinya: Hari ketika datang sebagian tanda-tanda Tuhanmu, maka tidaklah bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya belum beriman, atau belum ada perbuatan baik sebelumnya (QS. 6: 158).

Ayat tersebut kemudian ditafsirkan oleh hadis:

ثلاث اذا خرجن لا ينفع ايمانها لم تكن من قبل او كسبت في ايمانها خيرا وطلوع الشمس من مغربها والدجال ودابة الارض…  Intinya: akan keluar tiga tanda kiamat, yaitu matahari terbit dari barat, Dajjal dan dabbah (Muslim 2/195). Argumentasi ulama atas tidak disebutkannya kata Dajjal secara eksplisit, di antaranya untuk tidak membesar-besarkan nama yang dibangga-banggakan oleh orang Yahudi di hadapan Nabi Muhammad, sebagaimana hadis riwayat Abu Aliyah.

Dari berbagai hadis sahih (belum mutawatir) di atas, pendapat umat Islam terbagi dalam tiga  kelompok.

Dajjal sebagai Nama Sosok (Pribadi)

Mayoritas ulama berpendapat, bahwa Dajjal adalah nama seorang menusia super pendusta. Lahir di Kota Samirah, keturunan dari penyembah sapi. Namanya Musa As-Samiri, dan hidup sezaman dengan Nabi Musa. Ia yang menyesatkan Bani Israil, ketika Nabi Musa meninggalkan mereka selama 40 hari untuk menerima wahyu di lembah Thuwa, Sinai.

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Husain Afandi Al-Jasri at-Tharablisi. Dalam kitab Al-Hushunul Hamidiyah beliau menyebutkan, bahwa Dajjal tinggal di belahan bumi utara.

Senada dengan Syaikh Husain Afandi Al-Jasri at-Tharablisi, Muhammad Isa Dawud yang menelisik kitab klasik Islam dan manuskrip-manuskrip langka di Vatikan. Ia berkesimpulan, bahwa Dajjal tinggal di Segi Tiga Bermuda dekat negara AS, Uncle Sam. Ia pun mengaitkan Uncle Sam dengan “Samiri”.

Dajjal sebagai Sifat dari Manusia

Ulama dari Austria, Muhammad Asad (Leopoldo Weiss), penulis “The Road to Mecca” dan tafsir al-Quran, menyebutkan, bahwa Dajjal adalah sifat dan budaya manusia yang jauh dari spiritualitas agama. Budaya dan sainteknya bercirikan value free (bebas nilai utamanya agama). Pendapat ini sejalan dengan hadis sahih yang menyatakan, bahwa akan datang Dajjal jumlahnya mendekati 30 orang. Semuanya mendaku diri sebagai Nabi (Bukhari No 7121).

Dari sini bisa disimpulkan, bahwa Dajjal bukan nama diri. Di samping itu, sainteks masa kini juga menghasilkan produks yang canggih mirip dengan karya Dajjal (?).  Contoh, Dajjal menghidupkan orang mati (Muslim 2938) meskipun ada yang bilang hanya sekali itu saja. Dajjal mendatangkan hujan di kala kemarau panjang (Muslim 2934). Dajjal menumbuhkan tanaman (Muslim 2937).  Menurut istilah Imam Malik, Dajjal yang ini adalah Dajajilah (Dajjal kecil).

Dajjal sebagai Sosok dan Sifat

Menilik keterangan di atas, penulis menduga, bahwa Dajjal eksis pada sosok dan sifat. Sifat Dajjal yang super pendusta, bisa kita rasakan dalam banyak sudut kehidupan. Sainteks yang bermanfaat dan tidak diimbangi keberagamaan, telah semakin merata.

Akan tetapi, identifikasi hadis bahwa rupa Dajjal mirip Abdul Uzza Bin Qathan dari Bani Khuza’ah, adalah mengindikasikan bahwa dia adalah nama diri seorang manusia. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments