Isolasi Wuhan dan Pelajaran Pentingnya Kemandirian Pangan

0
530
Muhammad Iqbal Faza/dok.pribadi

Oleh Muhammad Iqbal Faza*

Di era globalisasi seperti saat ini setiap orang terkoneksi. Tingginya mobilitas warga dunia menunjukkan fakta nyaris tanpa sekat antara satu dengan yang lainnya. Itulah yang menjadikan apa saja yang terjadi dibelahan bumi ini pasti akan dirasakan dampaknya di belahan bumi lainnya.

Di awal tahun 2020 ini publik seakan tercekat dengan adanya penyebaran virus baru bernama Corona. Sampai dengan saat ini korban virus ini sudah mencapai 361 orang meninggal dunia dan 17.238 orang terinfeksi  (Kompas.com, 02/02/2020). Virus mematikan ini berasal dari Wuhan, sebuah kota besar di China dengan populasi sebanyak 11 juta penduduk.

Kota ini seukuran dengan London. Menjadikannya kota terbesar ke-42 di dunia dan terbesar ke-7 di China. Virus Corona telah menyebar begitu luas karena banyak orang mengunjungi Wuhan dan membawa pulang virus itu bersama mereka.

Pemerintah China kemudian memutuskan untuk mengisolasi kota Wuhan untuk  mencegah menularnya virus. Hal ini kemudian diikuti oleh banyak negara, diantaranya Indonesia, dengan menghentikan akses transportasi dari dan menuju China. Hal ini tentu membuat penderitaan masyarakat Wuhan, baik yang sehat maupun yang sakit menjadi semakin berat.

Apapun alasan yang mendasari, apakah karena wabah penyakit seperti yang terjadi di Wuhan, ataukah karena bencana alam maupun perang, isolasi suatu wilayah di era modern seperti sekarang masih bisa saja terjadi. Untuk itu, penting bagi kita untuk memiliki semacam contingency plan untuk mempersiapkan diri, berjaga-jaga seandainya hal tersebut terjadi.

Isolasi seperti yang terjadi di Wuhan, semua orang tidak pernah tahu berapa lama dan kapan akan berakhir. Untuk itu, perlu dipersiapkan rencana jangka pendek, yaitu untuk beberapa bulan sampai 1 tahun kedepan. Rencana jangka menengah untuk 1-3 tahun kedepan. Dan jangka panjang untuk waktu di atas 3 tahun ke depan.

Untuk rencana jangka pendek, tentu masih memungkinkan untuk menggunakan bahan makanan dari daerah terisolasi tersebut. Bahan makanan cepat saji buatan pabrik seperti mi instan dapat bertahan paling tidak selama satu tahun kedepan.

Bahan-bahan makanan yang berasal dari biji-bijian seperti beras ada baiknya disimpan masih dalam tangkainya, juga jagung yang masih dalam bonggolnya, agar dapat bertahan lebih lama. Makanan-makanan yang dapat bertahan cukup lama diantaranya, madu, kacang-kacangan, gula, garam, susu bubuk. Hal yang penting bagi Pemerintah untuk menyediakan lumbung-lumbung pangan, air dan energi untuk mengantisipasi terjadinya isolasi atas suatu wilayah.

Edukasi kepada masyarakat juga penting dalam hal menyimpan bahan makanan yang tahan lama. Seperti budaya kita jaman dulu, dimana setiap kampung memiliki lumbung sebagai fasilitas penyimpanan bahan makanan untuk jangka waktu yang lama.

Setelah beberapa bulan, masyarakat harus mulai bisa hidup dengan sumber internal yang dihasilkan oleh daerah itu sendiri. Kita harus tanam tanaman yang mudah ditanam dan besar manfaatnya yang bisa dipanen dalam kisaran waktu 3 – 4 bulan.

Tanaman kacang tanah misalnya, memiliki kandungan lemak dan protein yang tinggi. Tanaman lain adalah jagung karena jagung tidak membutuhkan banyak air dan jalan untuk menjadi makanannya pendek. Dalam kondisi serba terbatas, jagung bisa dipetik dan langsung dimasak untuk menjadi makanan.

Untuk hewan, yang paling ideal dalam keadaan darurat adalah kambing. Pertama karena memelihara kambing dengan pakan yang ada di alam sekitar kita sudah cukup, domba atau kambing juga menjadi sumber protein yang efektif baik susu maupun dagingnya. Artinya dengan kombinasi tanaman-tanaman tersebut dalam waktu dekat kita sudah bisa memperoleh bahan pangan maupun energi yang dibutuhkan.

Lalu bagaimana jika situasi isolasi ini harus berlangsung lama? Itulah perlunya menanam tanaman-tanaman jangka panjang juga disekitar kita yang bisa atau mudah hidup dengan sumber hara setempat. Ini pula perlunya pelihara kambing tadi untuk digunakan sebagai pupuk dari tanaman-tanaman yang kita tanam.

Pilihan tanaman jangka panjang diantaranya adalah alpukat dan tamanu atau nyamplung. Alpukat bisa jadi sumber karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral, sedangkan tanaman nyamplung sebagai sumber energi jangka panjang. Produktivitas nyamplung sebagai tanaman penghasil minyak tidak kalah dengan sawit, dan minyaknya pun ketika dibuat biodiesel memenuhi standar tertinggi di dunia.

Tanaman microalgae seperti spirulina juga sangat potensial dan mudah ditanam, cukup memiliki kolam kecil seukuran akuarium, masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan proteinnya . Microalgae ini juga adalah tanaman multi purpose, yang bisa untuk diarahkan sebagai sumber protein dan bisa pula diarahkan sebagai sumber energi.

Walhasil, dengan kombinasi tanaman-tanaman dan ternak tersebut, bila kota sebesar Jakarta harus diisolasi insyaAllah kebutuhan dasar pangan dan energi masih bisa dicukupi. Bagaimana kalau isolasi ini berlangsung lebih lama lagi? Apakah ini memungkinkan? Bisa saja terjadi karena di dunia ini pun pernah terjadi.

Solusi Isolasi

Kuba misalnya, sebuah negara diisolasi lebih dari setengah abad atas dasar politik Amerika. Mereka justru berhasil menjadi negara dengan kemampuan bercocok tanam organik yang terbaik di dunia. Demikian pula dengan Afrika Selatan yang pernah diisolasi oleh dunia karena politik Apartheid-nya banyak menghasilkan solusi-solusi inovatif di bidang teknologi dan ekonomi.

Untuk itu kita harus juga berifkir apa yang akan kita lakukan dalam jangka panjang bila situasi isolasi tersebut harus kita hadapi. Dari solusi solusi jangka pendek dan menengah yang telah kita uraikan tersebut, tinggal dilanjutkan lagi yaitu kita harus mampu menghadirkan industri berbasis sumber daya setempat khususnya industri yang menghasilkan pangan dan energi beserta produk-produk turunannya.

Bayangkan sekarang kalau kita bersiap-siap dan melatih diri untuk bisa hidup di era isolasi tersebut diatas, maka life skills yang kita bangun bisa kita gunakan untuk membuat daerah kita masing-masing menjadi daerah yang swasembada pangan dan energi. Jadi, survival life skills semacam ini akan terus bermanfaat dengan ada atau tidak adanya situasi khusus yang memaksa kita untuk hidup terisolasi. []

*) Iqbal Faza, Aktivis Ansor Gebog, tinggal di Desa Sudimoro

Comments