
KUDUS,Suaranahdliyin.com – Lembaga Pencegahan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kudus memandang bahwa tugas kemanusiaan relawan NU di wilayah bencana merupakan bagian dari bentuk panggilan jiwa.
Penegasan itu disampaikan Ketua LPBINU Kabupaten Kudus, Suqron Haryanto di sela-sela sela pemberangkatan enam relawan NU Peduli ke daerah bencana Aceh, Jum’at (9/1/2036) kemarin.
Suqron menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini lebih dari sekadar tugas formal melainkan panggilan jiwa
“Mereka sudah berulang kali turun ke lokasi bencana. Ada keikhlasan untuk meninggalkan keluarga dan pekerjaan demi membantu saudara-saudara kita di Aceh yang membutuhkan,”ungkapnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris LPBINU Kabupaten Kudus, Agus Khoirun Niam. Menurutnya, pengabdian relawan merupakan bentuk wakaf jiwa dan raga.
“Pengabdian itu seperti api yang terus menyala. Mungkin tidak selalu dengan harta, tetapi dengan jiwa dan raga, para relawan siap mengabdi sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan apa pun,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Suqron mengajak seluruh warga NU, khususnya di kabupaten Kudus, untuk semakin peduli terhadap lingkungan.
“Lingkungan harus dijaga bersama, dimulai dari hal-hal kecil seperti membersihkan selokan dan gotong royong. Kesadaran ini penting untuk meminimalisir bencana. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi,”tandasnya.
Sebagaimana diberitakan kemarin, NU Peduli Kudus memberangkatkan enam relawan ke daerah bencana bersama-relawan NU Peduli Jawa Tengah. Masing-masing mereka, relawan LPBINU M. Ramadlan, M. Syafi’i, Abdur Rozzaq, Ahmad Muklis, dan Muklisin. Satunya lagi perempuan, relawan GARFA Nurul Wahyuni Aningsih.
[Alya Zykratul Rahma, Umi Saidatun Nisa, dan Auliya Affa. Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]








































