Tradisi Menulis di Pesantren Sudah Mengakar Sejak Lama

0
717
Tim suaranahdliyin.com menyampaikan materi

TUBAN, Suaranahdliyin.com – Dalam sejarah perkembangan pesantren,  banyak tokoh-tokoh yang produktif dalam menghasilkan karya tulis. Tersebutlah nama-nama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Mahfudz At-Tarmisi, dan Syaikh Ahmad Rifa’i Kalisasak. Generasi selanjutnya, ada Syaikh Yasin Al-Fadani, KH. Bisri Musthofa, serta KH. Ali Maksum.

Demikian poin penting yang disampaikan M. Nadjib Sadjak, salah satu narasumber dalam workshop jurnalistik yang digelar Ma’had Aly Fadhlul Jamil Pondok Pesantren Ma’had Ulumus Syar’iyyah (MUS) Sarang, Rembang yang dilangsungkan di Aula Pantura Ria di Kabupaten Tuban.

“Dalam sejarahnya, pesantren mulai dari era pertumbuhan, era perkembangan dan era keemasannya, memiliki tokoh-tokoh yang produktif berkarya. Dalam rentang abad XV – XX, tradisi menulis di pesantren telah menjadi bagian dari dinamika keilmuan,’’ kata M. Nadjib Sadjak dalam paparannya.

Namun begitu, jelasnya lebih lanjut, sebenarnya tradisi menulis dalam Islam sudah mengakar sejak lama. ‘’Tradisi menulis di dunia Islam itu bisa dilihat dari penulisan al-Quran, penulisan hadis Nabi, dan karya-karya ulama lain yang bisa kita akses hingga kini,’’ tuturnya.

Saifun Nashir, Ketua Badan Eksekutif Mahasantri (BEMs) Ma’had Aly Fadhlul Jamil, mengutarakan, workshop jurnalistik ini digelar selama tiga hari, 15 – 17 Agustus 2019, dan diikuti sebanyak 40 peserta.

“Tujuan dari workshop ini adalah untuk kaderasasi, yang pada saatnya peserta akan diber tanggung jawab mengelola majalah dan jurnal yang diterbitkan oleh pondok (ma’had),’’ terangnya.

Sedang secara lebih luas, ujarnya, memberikan wawasan dan motivasi kepada para santri dan mahasantri terkait dunia penulisan dan bagaimana pengelolaannya. ‘’Harapannya, banyak lahir para penulis dengan kemampuan yang semakin baik dari peserta workshop ini,’’ katanya. (ros, mail, rid, gie/ adb, luh)

Comments