
Oleh: H Ahmad Bahruddin
(Pengasuh Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus)
Di zaman di mana “kesehatan mental” menjadi pembenaran untuk kelemahan, dan sistem pendidikan formal terjebak pada angka dan statistik, pesantren muncul sebagai suatu fenomena yang menggairahkan.
Namun kita seringkali terperangkap dalam romantisasi yang simbolis: sarung yang sudah usang, peci yang tidak pas, atau bacaan kitab kuning dalam cahaya redup asrama.
Padahal, di balik dinding-dinding bambu dan bilik tembok pesantren yang kusam, terdapat sebuah “mesin” yang dengan tepat menghancurkan mentalitas medioker.
Pesantren tidak sekadar tempat untuk belajar Al-Qur’an; ia berfungsi sebagai laboratorium yang merevolusi manusia lama menjadi manusia baru yang tangguh.
Seni Mengendalikan Ego
Pendidikan modern kini terlampau fokus pada “keunikan individu”, hingga mengabaikan pengajaran tentang pengendalian ego.
Akibatnya, kita memiliki generasi yang menjadi haus terhadap pengakuan tetapi mudah terpuruk saat mendapat kritik.
Di lingkungan pesantren, langkah pertama yang diambil adalah penaklukan ego secara mendasar. Melalui nilai Tazim (penghormatan tanpa syarat) kepada Kyai, seorang santri dituntut untuk menghancurkan sifat narsis.
Latihan ini bukanlah doktrinasi buta, tetapi suatu latihan spiritual yang tinggi: menyadari bahwa di atas akal budi kita, ada keberkahan guru; di atas cita-cita kita, ada keridaan Tuhan.
Seorang individu yang telah mampu menundukkan egonya tidak akan mudah terjatuh oleh penghinaan dari luar, karena ia tidak menilai harga diri hanya dari penilaian manusia. Ini menjadi dasar dari karakter tangguh—ketenangan saat menghadapi badai.
Ketahanan Organik
Kita sering mengeluhkan, bahwa generasi “stroberi” mudah rapuh, padahal kita sendiri yang melindungi mereka dari kesusahan. Pesantren justru sebaliknya.
Ia membangun suatu ekosistem yang memaksa santri untuk bertahan menghadapi batasan setiap harinya. Menunggu giliran mandi, mencuci baju secara manual, hingga berbagi ruang sempit dengan banyak orang dari latar belakang berbeda adalah sebuah “simulasi krisis” yang alami.
Di sini, kemandirian bukan opsi, tetapi keharusan untuk bertahan hidup. Santri diajari untuk tidak menyalahkan pihak lain atas ketidaknyamanan yang mereka hadapi. Ketika sarana terbatas, kreativitas dan ketahanan mental justru mencapai puncaknya.
Mereka menjadi individu yang telah meninggalkan sifat “manja”, karena bagi mereka, zona nyaman adalah konsep yang asing yang telah lama ditinggalkan demi mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Tidak Sekadar Dogma
Dalam pandangan masyarakat sekuler, iman mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tambahan. Tetapi di pesantren, iman merupakan “alat navigasi”.
Ini bukan sekadar penghafalan ayat-ayat, melainkan kebiasaan yang mengakar dalam diri. Disiplin melaksanakan shalat berjamaah dan tirakat bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi cara untuk mengikat jiwa agar tidak tergoyahkan oleh moralitas yang relatif.
Integritas santri tidak muncul karena adanya pengawasan atau CCTV, tapi lahir dari kesadaran akan Ihsan—bahwa Tuhan senantiasa mengawasi.
Inilah yang membentuk pribadi yang jujur di tengah sistem yang korup dan kokoh di lingkungan yang permisif. Iman yang teguh menjadi jangkar yang menjaga karakter mereka agar tidak terbawa arus tren zaman yang merusak.
Dan disadari atau tidak. dunia saat ini mendorong persaingan yang merugikan, namun pesantren mengajarkan barokah berjamaah. Kehidupan bersama di pesantren mematahkan individualisme yang mengkhawatirkan.
Santri memahami, bahwa mereka adalah bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Kecerdasan emosional mereka dibentuk bukan melalui seminar motivasi, tetapi melalui interaksi sosial sehari-hari di asrama.
Di pesantren, mereka belajar untuk berempati, menegosiasikan solusi, dan saling membantu. Karakter “kuat” bagi seorang santri tidak berarti menjadi yang paling berkuasa, tetapi menjadi yang paling bermanfaat untuk orang lain.
Dengan Bahasa yang sederhana bisa dikatakan, bahwa melihat pesantren hanya dari segi luar, adalah tindakan yang naif secara intelektual. Sebab, pesantren merupakan benteng terakhir yang tetap berkomitmen untuk menghasilkan individu “berurat kawat berbalulang besi” secara mental.
Sementara lembaga (pendidikan) lain fokus pada pencapaian akreditasi formal, sedang pesantren berupaya mencetak akreditasi spiritual serta ketahanan di dunia.
Maka, saatnya kini kita memahami, bahwa sarung dan kitab kuning melambangkan perjuangan melawan kelemahan zaman. Di balik dinding pada bilik-bilik pesantren, karakter yang tangguh dibentuk bukan dari kenyamanan, melainkan ditempa melalui disiplin, kesederhanaan, dan iman yang kukuh. (*)






































