Tinjau Lokasi Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Gus Rozin Pastikan NU Peduli Siap Pendampingan Jangka Panjang

0
57
Gus Rozin menyerahkan bantuan saat meninjau Lokasi Bencana Tanah Bergerak di Tegal, kemarin

TEGAL,Suaranahdliyin.com — Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan bahwa bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.

Hal itu disampaikan Gus Rozin saat meninjau langsung kondisi pengungsian bersama jajaran NU Peduli Kemanusiaan, Senin (16/2/2026).

Gus Rozin menyebut, pergerakan tanah di wilayah tersebut masih terus terjadi, sehingga warga belum memungkinkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Karena itu, PWNU Jawa Tengah memastikan akan hadir mendampingi masyarakat dalam jangka panjang.

“Bencana ini belum berakhir. Tanah masih terus bergerak. Kami datang untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan dan menyampaikan empati setinggi-tingginya. Insyaallah PWNU Jawa Tengah melalui NU Peduli Kemanusiaan akan terus hadir membantu masyarakat, termasuk pesantren yang terkena musibah,” ujar Gus Rozin di lokasi posko.

Ia menjelaskan, di Posko NU Peduli Kemanusiaan Jawa Tengah saat ini terdapat sekitar 190-an pengungsi yang ditangani secara terpadu, mulai dari penyediaan dapur umum, logistik, hingga kebutuhan dasar lainnya. Seluruh pengungsi dipastikan akan terus didampingi sampai mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Menurutnya, situasi di Padasari Jatinegara diperkirakan masih akan berlangsung lama. Oleh karena itu, NU Peduli menyiapkan skema pendampingan sosial dan kemanusiaan untuk beberapa bulan ke depan.

“Ini belum akan selesai dalam waktu singkat. Karena itu NU Peduli akan mempersiapkan diri untuk mendampingi masyarakat Padasari Jatinegara dalam jangka waktu yang cukup panjang,” tegasnya.

Bangunan rusak akibat bencana tanah bergerak di Tegal

Gus Rozin juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk ikut bergotong royong menunjukkan empati kepada para korban. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar warga terdampak merupakan warga Nahdlatul Ulama.

“Warga Padasari dan Jatinegara mayoritas adalah Nahdliyin. Kantor ranting NU, madrasah, pesantren, semuanya ikut terdampak. Maka perhatian dan pendampingan dari keluarga besar Nahdlatul Ulama menjadi sangat penting,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi para pengungsi yang kehilangan rumah, tempat tinggal, bahkan keluarga. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kepedulian nyata dari semua pihak.

“Ada yang kehilangan rumah, kehilangan tempat tinggal, bahkan tidak punya keluarga. Ini persoalan kemanusiaan yang tidak bisa kita abaikan,” imbuhnya.

Sebagai langkah konkret, NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah akan membangun mushalla darurat untuk umum di Posko PCNU Tegal dan ruang kelas darurat untuk Pesantren Al-Adalah Tegal yang turut terdampak bencana tanah bergerak.

Relawan Banser Tegal gotong royong mendirikan Musala darurat di daerah bencana tanah bergerak

Sementara itu, Ketua LPBI PCNU Tegal, Imam Kusyairi, menjelaskan bahwa posko pengungsian LAZISNU PCNU Tegal telah berdiri sejak 3 Februari 2026, sehari setelah kejadian tanah bergerak melanda wilayah tersebut. Posko tersebut berlokasi di SD Negeri 2 Padasari.

“Hingga hari ini, pengungsi korban bencana tanah bergerak yang berada di Desa Padasari tercatat sebanyak 197 orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk melengkapi kebutuhan pengungsi, pihaknya membangun mushalla darurat di area posko.

“Setelah dapur umum tersedia, toilet juga sudah ada, maka mushalla menjadi kebutuhan penting. Apalagi menjelang bulan suci Ramadan, agar para pengungsi tetap bisa beribadah dengan aman dan nyaman,” jelasnya.

Imam menambahkan, pembangunan musala darurat tersebut merupakan hasil donasi sumbangsih dari NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah.

Musala darurat tersebut dirancang berukuran 10 x 12 meter, menggunakan rangka baja ringan, dinding galvalum, serta dilengkapi lantai. Proses pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu tiga hari.

“Insyaallah besok sudah bisa ditempati. Kami berharap musala ini sudah bisa digunakan saat malam pertama tarawih. Mengingat hunian sementara kemungkinan masih lama, maka musala ini sangat dibutuhkan,”imbuhnua.(nfk/adb)

Comments