Santri Muria Teguhkan Khidmah Pada Agama dan Bangsa

0
250
Webinar Santri Muria Mengabdi Untuk Agama dan Bangsa, Sabtu (27/02/21).

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Santri Muria selamanya harus ingat pada perjuangan ulama dan walisongo untuk agama dan bangsa. Dengan begitu, santri muria di manapun ia berada hendaknya memiliki niatan khidmah (mengabdi) untuk membangun peradaban agama dan bangsa yang lebih maju.

Hal itu mengemuka dalam Webinar bertajuk “Santri Muria Mengabdi pada Agama dan Bangsa” yang diadakan oleh OSIS MA NU Miftahul Falah Cendono, Dawe, Kudus, Sabtu (27/02/21). Acara tersebut diadakan dalam rangka memeringati hari lahir ke-78 Madrasah Miftahul Falah dan hari lahir ke-98 Nahdatul Ulama.

Hadir secara virtual pada kesempatan ini, Ketua Ikatan Mutakhorijin Madrasah Miftahul Falah (IMAM) Dr. Muhammad Tho’at Mukhtar, M.MKes., Dosen UIN Walisongo Semarang Dr. Fihris Sa’adah, M.Pd dan Anggota DPRD Kabupaten Kudus Abdul Basith Sidqul Wafa, S.Sos., dan Kepala MA NU Miftahul Falah H. Asnadi, S.Ag., M.Si..

Menurut Tho’at, santri muria sudah saatnya untuk ikut ambil bagian menjadi subjek peradaban. Hal itu ia dasarkan pada banyak potensi yang dimiliki oleh santri muria berupa keilmuan, kearifan lokal dan ajaran dari Sunan Muria yang mulai eksis di kancah nasional.

“Santri muria sudah saatnya untuk tidak lagi menjadi objek, tapi subjek yang ikut menata peradaban dan kemajuan zaman dalam bidang apapun,” kata Pendiri Ponpes Duta Aswaja itu.

PR Santri Muria

Abdul Basith Sidqul Wafa menambahkan, kiprah santri dalam bidang politik sejak dulu telah berkontribusi dalam membangun agama dan bangsa. Seperti halnya peran KH. A. Wahid Hasyim saat menjadi bagian dari BPUPKI yang mampu menyeimbangkan ideologi agar negara ini bisa berdiri dan menaungi semua bangsa.

“Itu bukti peran santri dalam bidang politik, dan santri muria sekarang harus bisa meneladani hal itu,” sebutnya.

Pada kesempatan ini, Fihris mengungkapkan banyak peluang dan potensi yang bisa diambil oleh santri muria dalam bidang riset. Menurut Fihris, masyarakat di Kawasan Muria memiliki keunikan tersendiri yang bisa diangkat menjadi sebuah karya publikasi.

“Riset itu berawal dari sebuah problem, cobalah mencari masalah yang sedang berkembang di sekitarmu kemudian analisis,” paparnya.

Pekerjaan rumah kita saat ini, imbuh Fihris, yaitu mengangkat brand Muria untuk bisa tampil lebih bergengsi di kancah nasional. Dengan kekayaan sumber daya alam, ada banyak ajaran dan kearifan lokal yang bisa digali untuk materi publikasi.

Sementara itu, Kepala MA NU Miftahul Falah H. Asnadi, meminta kepada santri Miftahul Falah atau santri muria untuk terus berupaya untuk mengembangkan potensi diri, baik dalam bidang keilmuan, ekonomi, riset dan publikasi ilmiah maupun politik.

“Yakin kalian bisa menjadi yang terbaik di bidang masing-masing dan membawa nama harum untuk Muria, untuk Miftahul Falah khususnya,” ucapnya.(rid/adb, ros)

Comments