
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Perempuan memiliki peran strategis dalam membentuk keluarga dan generasi penerus. Karena itu, penguatan kapasitas dan keteladanan perempuan menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang kuat dan pada akhirnya turut menentukan kekuatan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan KH Salman Kholil dalam kegiatan rutin Mudarosah Al-Qur’an PAC Fatayat NU dan PAC Muslimat NU Kecamatan Dawe di Ranting Colo, Jumat Legi, (7/8/2026). Kegiatan diikuti anggota Fatayat dan Muslimat NU Dawe.
Dalam mauidhoh hasanahnya, KH Salman Kholil menekankan pentingnya peran perempuan, khususnya ibu, dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Menurutnya, kondisi keluarga, terutama para ibu, menjadi salah satu tolok ukur penting dalam melihat kekuatan sebuah bangsa.
“Jika perempuan kuat, insyaallah negara juga akan menjadi kuat,” kata KH Salman Kholil.
Ia menjelaskan, ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi. Baik buruknya anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan, keteladanan, dan kasih sayang yang diberikan orang tua. Menurutnya, Islam memberikan kedudukan yang mulia kepada perempuan.
“Kemuliaan tersebut perlu diwujudkan dengan menjaga kehormatan, memberikan rasa aman, menghargai, serta memberikan ruang kepada perempuan agar dapat menjalankan ibadah dan perannya dengan baik.” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa memuliakan perempuan bukan berarti menuruti seluruh keinginannya atau membiarkan perempuan bertindak sesuka hati. “Kemuliaan perempuan harus ditempatkan dalam kerangka penghormatan, perlindungan, tanggung jawab, dan akhlak.” tandas KH. Salman.
KH Salman Kholil juga menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya melalui nasihat. Orang tua harus terlebih dahulu memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.
“Ibu adalah salah satu tiang penting dalam kehidupan keluarga dan memiliki peran besar dalam membentuk generasi. Putra-putri kita kelak akan menjadi bagian dari kekuatan bangsa,” tuturnya.
Menurutnya, sebelum menginginkan anak menjadi orang saleh, orang tua harus berusaha menjadi pribadi yang saleh. Anak belajar bukan hanya dari perkataan orang tua, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keteladanan, KH Salman Kholil menekankan pentingnya keikhlasan dalam beramal. Menuntut ilmu dan terus belajar, menurutnya, merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri. Ilmu yang diperoleh harus diamalkan dan menjadi bekal dalam mendidik keluarga serta mengabdi kepada masyarakat.
“Pada akhirnya, ikhlas menjadi salah satu puncak dalam beramal. Apa pun yang kita lakukan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam perjuangan organisasi, hendaknya dilandasi keikhlasan karena Allah Swt.,” ujarnya.
Ia menambahkan, keikhlasan dalam beramal dapat menghadirkan keberkahan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak dan keturunan. “Apa yang dilakukan orang tua hari ini dapat menjadi contoh yang ditiru dan dikenang oleh generasi berikutnya.” tandasnya.
Sementara itu, Ketua PAC Fatayat NU Dawe, Yuliana Kurniawati mengatakan kegiatan mudarosah menjadi salah satu ikhtiar untuk mendekatkan kader Fatayat dan Muslimat NU dengan Al-Qur’an sekaligus memperkuat ukhuwah.
Ia mengutip sabda Rasulullah saw., “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
“Hadis ini menjadi pengingat bagi kita bahwa membaca, mempelajari, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur’an merupakan amal yang sangat mulia,” ujarnya.
Menurut Yuliana, kegiatan mudarosah tidak hanya menjadi sarana membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah di antara kader Fatayat dan Muslimat NU.
“Al-Qur’an menjadi pemersatu hati, penuntun langkah, sekaligus sumber kekuatan dalam menjalankan peran kita sebagai perempuan, istri, ibu, pendidik, dan kader organisasi,” katanya.
Ia berharap kegiatan rutin tersebut tidak sekadar menjadi agenda bulanan, tetapi menjadi wasilah untuk meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga semangat mencintai Al-Qur’an juga dapat kita tularkan kepada anak-anak dan keluarga sehingga lahir generasi Qurani yang berakhlakul karimah,” harapnya.
Yuliana juga mengajak seluruh kader Fatayat dan Muslimat NU untuk menjaga kekompakan, mempererat silaturahmi, dan saling menguatkan dalam setiap kegiatan organisasi.
Dengan kebersamaan dan semangat berkhidmah, ia berharap Fatayat dan Muslimat NU dapat terus memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.
Kegiatan Mudarosah Al-Qur’an tersebut diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Jama’ah Hafidzoh Fatayat NU Dawe.
Kegiatan tersebut diikuti anggota Fatayat dan Muslimat NU Dawe. Turut dihadir Kepala Desa Colo Suwanto , Ketua PAC Muslimat NU Dawe Hj Zumaroh, pembina Fatayat, serta tokoh masyarakat. Suasana kegiatan semakin semarak dengan penampilan grup rebana An Nisa.(malfa/adb)










































