Foto: koleksi pribadi (istimewa)

Oleh: A Zidan Nadhif

(Penulis adalah murid MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan santri Pondok MUS-YQ Kwanaran, Kota, Kudus)

Bulan Rabi’ul Awal Adalah bulan yang mulia karena didalamnya terdapat hari kelahiran sang pemimpin para nabi, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang kelahirannya memberi Rahmat pada seluruh alam.

Ini sebagaimana termaktub dalam surah al Anbiya’ ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Nabi Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi semesta alam”.

Bahkan, berkah kelahiran nabi Muhammad, tidak hanya dirasakan didunia saja, tapi juga dirasakan oleh paman nabi Muhammad yaitu Abdul Uzza atau yang familiar disebut dengan Abu Lahab, yang semasa hidupnya selalu menentang ajaran Nabi Muhammad, tapi karena ia pernah berbahagia atas kelahiran nabi Muhammad dengan memerdekakan budak perempuannya yang bernama tsuwaibah sebagai bentuk syukurnya atas kelahiran nabi Muhammad.

Diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari sebagai berikut:

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Artinya: “Urwah bin Zubair mengatakan bahwa Tsuwaibah adalah budak wanita Abu Lahab yang dimerdekakan karena menyusui Nabi Muhammad. Ketika Abu Lahab meninggal dunia, sebagian keluarganya bermimpi didatanginya dengan kondisi yang sangat buruk. Mereka bertanya kepada Abu Lahab, ‘Apa yang kamu alami?’ Abu Lahab menjawab, ‘Aku tidak mendapatkan apa pun kecuali aku diberi minum dari ini (rongga di bawah ibu jari) sebab aku telah memerdekakan Tsuwaibah’.” (HR. Bukhari, No. 5101).

Oleh karena itu kita sebagai umatnya nabi Muhammad sudah semestinya menyatakan rasa Syukur kita atas kelahiran nabi agung kita, rasa Syukur yang kita nyatakan belum cukup hanya dengan lisan saja, lebih baiknya dinyatakan dengan bentuk nyata atas nikmat yang telah dikaruniai oleh allah kepada kita, nabi Muhammad telah mengajari kita, setiap hari senin beliau selalu berpuasa sebagai bentuk Syukur atas hari kelahirannya.

Dalam shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah:

عَنْ أبِي قَتادَةَ الأنْصارِيِّ،  أنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Qatadah al-Ansari, sesungguhnya Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab : Pada hari itu aku dilahirkan, dan pada hari itu diturunkannya Al-Qur’an kepadaku (HR.Muslim).

Bentuk Syukur ada berbagai macam, tidak hanya sebatas mengucapkan dengan lisan saja, salah satunya dengan melakukan pelestarian lingkungan, dibulan rabiul awal ini banyak sekali berita-berita tentang bencana alam, seperti gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, dan kebakaran di pulau kalimantan, kerusakan alam pada hari ini harus menjadi perhatian bagi setiap warga di indonesia, karena jika kita menelaah lagi Maulid sebagai kelahiran nabi muhammad yang menjadi rahmatan lilalamin, kita semua juga harus peduli dan melindungi alam tanah air ini, hakikat dari manusia adalah sebagai Khalifah (penjaga) bumi ini, tidak hanya bergeming dengan lisan yang semua orang bisa lakukan, tapi juga harus adanya tindakan dan aktivitas yang konkret (nyata).

Banyak surat surat dalam alquran yang menerangkan larangan merusak lingkungan, salah satunya, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (QS Al-A’raf: 56).

Jika kita menelaah ayat diatas menjadi jelas, bahwa allah tidak menyukai orang yang melakukan kerusakan dimuka bumi ini, karena tingkah sembrononya dapat menyebabkan madlorot (bahaya) untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Apa yang Perlu Kita Lakukan?

Sebagai bentuk syukur kita pada bulan maulid ini, jangan hanya dengan memperingatinya saja, tapi juga menghayati nilai nilai kebaikan yang dibawa olehnya, dengan terciptanya pelestarian lingkungan yang baik, pencegahan pencemaran lingkungan, dan lainnya.

Hal itu bisa menjadi pemenuhan kewajiban bagi kita, sebagai tanggung jawab atas gelar khalifah (penjaga) bumi, karena kebaikan kecil yang kita jalani hari ini, akan dirasakan oleh anak cucu kita nantinya.

Sementara itu, pesan Maulid juga bisa diisi dengan beberapa hal positif ini. Pertama, melakukan reboisasi di lahan yang telah mengalami kerusakan.

Pembalakan liar adalah salah satu masalah yang marak terjadi diindonesia, banjir dan longsor adalah salah satu akibat aktivitas pencemaran lingkungan ini, para oknum oknum yang tidak bertanggung jawab, secara masif melakukan pembalakan liar, yang tujuannya hanya untuk kepentingan dompet pribadi, dan salah satu akibat aktivitas ini, adalah hilangnya habitat satwa liar yang dapat mengakibatkan satwa liar masuk kedalam permukiman.

Kedua, gotong royong membersihkan sampah di sungai dan selokan. Sungai dan selokan juga sering menjadi sasaran pencemaran lingkungan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, membuang sampah dikedua tempat ini juga sering mengakibatkan bencana banjir bandang karena terjadinya luapan air yang meluber ke pemukiman warga.

Ketiga, tindakan tegas pada pelaku pencemaran lingkungan. Tindakan tegas harus dilakukan secara merata, tidak peduli ia meraup keuntungan sendiri, atau pelaku pencemaran yang ada disekitar kita, seperti orang yang membuang sampah sembarangan, membuang putung rokok berserakan yang berisiko membuat kebakaran, dll.

Dan akhirnya, memeringati Maulid Nabi bisa dilakukan dengan banyak hal, termasuk berpartisipasi menciptakan lingkungan yang baik dan indah, sebagai teladan dan rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil alamin, dan agar anak cucu kita kelak juga dapat menikmati rahmat Allah ini. Wallahu a’lam. (*)

Catatan redaksi: kendati agak terlambat ditayangkan, namun artikel yang ditulis oleh A Zidan  Nadhif untuk dibaca oleh berbagai kalangan, khususnya oleh pelajar dan santri.

 

Comments