
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Kaliwungu Kudus mengadakan kegiatan bertajuk Pangesthi Pelajar Kaliwungu dalam rangka Pra Konferensi Anak Cabang (Konferancab) XX, Rabu malam (28/1/2026).
Kegiatan mengusung tema Restrukturisasi Kepemimpinan Adaptif Agilitas Menuju Organisasi Unggul diikuti sedikitnya 200 Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU dan badan otonom NU lainnya se-Kecamatan Kaliwungu.
Bertempat di Gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) Kaliwungu itu, PAC IPNU dan IPPNU tekankan pentingnya proses keorganisasian sebagai bekal berharga bagi para kader IPNU-IPPNU dalam menapaki jalan pengabdian di masa mendatang.
“Organisasi tidak hanya sebuah struktur. Melainkan ruang belajar bersama.”tandas Ketua PAC IPPNU Sheila Safira Shifa Naya.
Ia menjelaskan, dalam setiap langkah keorganisasian merupakan bagian dari proses pendewasaan. Termasuk mengajarkan kepemimpinan, manajemen waktu, komitmen, istiqomah, dan ikhtiar.
“Pengorbanan tenaga, pikiran, serta menyatukan berbagai perbedaan demi satu tujuan bersama, dapat mengajarkan basic hidup paling indah, yakni legowo,”imbuh Sheila.
Sheila, Ketua PAC IPPNU menegaskan dalam berorganisasi, penting untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah.
“Akhlak itu diatas segalanya. Jika yakin dan ikhlas untuk menjalankan organisasi, maka Allah Swt. pasti memudahkan dan menunjukkan jalan lebih baik ke depannya,”tandasnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua PAC IPNU Muhammad Hilman Rizal. Ia menegaskan hidup itu proses, bukan protes. Kehidupan hari ini adalah salah satu proses.
“Jangan mudah protes.”pintanya.
Menurut Hilman, organisasi adalah salah satu tempat banyak orang berkumpul, berbeda karakter, dan berbeda pemikiran. “Maka kita harus siap legowo dan rendah diri,” tutur Hilman.
Ia mengajak belajar dari lingkup organisasi untuk menyiapkan ke lingkup keluarga serta masyarakat agar bisa lebih baik dan lebih tepat. Ditegaskan, belajar tidak akan pernah ada selesainya, begitu pula perjuangan.
“Belajar artinya bersungguh-sungguh dan siap untuk mencerdaskan diri. Sementara dalam perjuangan, harus siap berjuang menghidupi diri, menghidupi sekitar, dan menghidupi sesama,”jelas Hilman.
Kegiatan Pangesthi Pelajar Kaliwungu berlangsung khidmat. Ditutup dengan lantunan sholawat Nabi saw. bersama Habib Nabil bin Naqib Assegaf (Kudus) dan Habib Rifqi bin Umar Aidid (Solo) diiringi Hadroh Jalsatul Musthofa Pantura.
[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]







































