NU Menebar Aswaja untuk Kebangsaan (Bagian 2 – Habis)

0
107

Oleh: Aji Setiawan

Mengembangkan aspek akhlak dalam koteks Aswaja, berarti upaya untuk membimbing manusia dalam mencapai derajat keikhlasan. Dengan keikhlasan itu, maka perbuatan baik yang dilakukan manusia, semata-mata timbul karena kesadaran mental-spiritual yang dimilikinya, bukan karena motif lain.

Untuk mencapai itu, seseorang memerlukan proses pembiasaan (pelatihan) secara berkesinambungan. Dalam Islam, wacana semacam ini dikembangkan oleh para sufi. Paham Aswaja menempatkan wacana tasawuf (hasil pemikiran dan kebiasaan hidup yang dijalani oleh para sufi), sebagai alat pendukung dalam rangka mendidik dan membimbing aspek esoterik (batiniah) manusia, untuk mencapai nilai-nilai ihsân atau sikap mental spiritual yang senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam seluruh ruang kehidupan. (HR. Muslim, dikutip dari Muhammad Al-Ghazali, 1990 M/1410 H: 21)

Karena berhubungan dengan pencapaian nilai-nilai ihsan, maka tasawuf menjadi bagian penting dalam pengalaman agama menurut Aswaja. NU, dalam hal ini mengambil jalan untuk memfokuskan wacana tasawuf yang dikembangkan oleh Abu Hamid Al-Ghazali, Abu Qasim Al-Junaidi Al-Baghdadi, dan imam-imam lain yang memadukan antara syari’ah dan tasawuf. Perpaduan kedua unsur inilah, yang mendasari pilihan NU terhadap wacana tasawuf yang dikembangkan oleh imam-imam itu.

Dengan kata lain, apa yang menjadi ruang lingkup paham Aswaja itu, pada dasarnya merupakan perpaduan antara nilai-nilai iman (imân), Islam (islâm), dan ihsan (ihsân). Iman menggambarkan keyakinan, Islam menggambarkan syari’ah, dan ihsan menggambarkan kesempurnaan iman dan Islam seseorang. (Endang Turmudzi dkk, 1998 : 21)

Teologi Aswaja

Aliran kalam (teologi) Muktazilah, sangat kental dengan tradisi rasionalismenya (aliran pemikiran yang menempatkan akal di atas segala-galanya, termasuk nash). Dalam proses penyebarannya, paham ini kerap diwarnai dengan praktik pemaksaan dan diskriminasi, seperti terlihat pada kasus mihnah.

Sehingga pada gilirannya, paham Muktazilah menuai tantangan hebat dari berbagai kalangan tradisionalis, yang lebih menonjolkan al-Quran dan hadis ketimbang akal, terutama yang dilancarkan oleh golongan Hanbaliyah.

Setelah Khalifah Al-Makmun wafat pada 833 M, politik kekerasan Muktazilah mulai semakin berkurang. Bahkan, sebagai mazhab resmi negara waktu itu pada 856 M, aliran ini dibubarkan oleh Khalifah Al-Mutawakil (Nasution, 1986: 9).

Kaum Muktazilah pun kembali ke posisi semula, dan menghadapi banyak lawan dari kalangan umat Islam.

Dengan skala yang berbeda-beda, munculnya aliran teologi Asy’ariah di Baghdad, Maturidiyah di Samarkand, Thahawiyah di Mesir dan Bazdawiyah di Bukhara, dianggap sebagai titik kulminasi dari penentangan terhadap aliran yang pernah menjadi anak emas salah satu penguasa Abbasyiah itu.

Asy’ari yang mulanya merupakan penganut Muktazilah selama puluhan tahun, justru berbalik dan menganggap ajaran Muktazilah sesat dan menyesatkan. Asy’ari akhirnya membentuk ajaran baru yang kemudian terkenal dengan teologi Asy’ariah. Demikian pula Al-Maturidiyah di Samarkand, meski dalam penentangannya terhadap Muktazilah memakai bendera Asy’ariah, namun perkembangannya, pada batasan tertentu, membuktikan bahwa teologi ini menyamai teologi Muktazilah.

Sedang sebagai cabang aliran Maturidiyah yang berpusat di Bukhara, Bazdawiyah termasuk bagian dari barisan penentang Muktazilah. Namun, dalam pembahasan para ahli, aliran ini tidak banyak mendapat perhatian. Itu karena mereka menyatukan pemikiran Maturidiyah, baik yang berbasis di Samarkand dengan Maturidiyah yang berbasis di Bukhara.

Pada periode antara 320 – 447 H, keluarga Buwaihi dari kota Dalâm dekat Khurasan, memperoleh pengakuan kekuasaan dari pusat kekuasaan Islam di Baghdad, yang ketika itu dipimpin Khalifah Al-Mustakfi (334 H).

Mereka menyokong kelompok Syi’ah dan menghidupkan panji-panjinya, serta merendahkan wibawa orang-orang Turki. Ini menjadikan kelompok Muktazilah kembali menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Itu terjadi karena antara paham Syi’ah dan Muktazilah, mempunyai doktrin yang sama atau kedekatan dalam beberapa hal.

Pada 1055 M/447 H, Thurghil Bek dari dinasti Saljuk memasuki Baghdad dari negeri Jabal, atas permintaan Khalifah Al-Qalm dari Bani Abbas untuk menumpas despotisme (kesewenang-wenangan) Al-Malik Al-Rahim, Amir Al-Umara Bani Buwaihi yang terakhir. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan bani Buwaihi dan bermulalah kekuasaan Bani Saljuk.

Pergantian kekuasaan ini juga menandakan awal periode keempat khilafah Abbasiyah. Meskipun kekuasaan telah berganti, Muktazilah tetap jaya. Ini terutama karena Muktazilah mendapatkan dukungan dari Perdana Menteri Thughril, Abu Nasr Muhammad Ibn Mnansur Al-Kunduri (416-456 H).

Ketika itu, para pemuka aliran Asy’ariyah ditangkap dan dipenjarakan. Ini menjadikan Al-Juwaini dan pengikutnya melarikan diri ke Hijaz. Ia menetap di Mekah dan Madinah, sehinga membuatnya mendapat julukan Imam Al-Haramain. Lebih dari itu, dinasti tersebut menghidupkan beberapa tradisi Syi’ah, seperti upacara peringatan meninggalnya Husain, menyebut nama khalifah dalam khutbah dan lain-lain.

Sepeninggal Thughril Bek, Dinasti Saljuk diperintah oleh Alp Arselan (455-465 H) dan Malikiyah (465-485 H). Pada kurun ini, orang-orang Sunni mulai memperoleh kesempatan lagi untuk berkembang. Malikiyah, ketika itu dibantu oleh Perdana Menteri Nizham Al-Mulk. Atas bantuan ini, Malikiyah berhasil memprakarsai pendirian Universitas Nizhamiyah pada 1065 M, dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad, yang hanya mengajarkan Mazhab Asy’ariyah serta bergabungnya beberapa tokoh penting aliran ini di kedua perguruan tinggi itu, yakni Al-Ghazali dan Al-Juwaini.

Sementara itu di Mesir dan Maroko, pengaruh aliran Syi’ah yang dianut oleh Dinasti Fatimiyah (297-567 H) sangat kuat. Kelompok Sunni memperoleh tekanan berat yang tidak memungkinkannya untuk berkembang. Penguasa Syi’ah mendirikan Universitas Al-‘Atieq (Al-Jamiah Al-Amru) dan Universitas Al-Azhar di Mesir.

Di kedua perguruan tinggi itu, diajarkan fikih Syi’ah yang disusun oleh Ya’qub ibn Kais, Perdana Menteri Aziz Billah Fatimiy. Mereka pun memburu dan menyiksa orang-orang Sunni yang memiliki dan mempelajari buku Al-Muwatha’ karya Imam Malik, lalu memamerkannya keliling kota Kairo.

Supremasi Daulat Fatimiyah di Mesir, akhirnya dijatuhkan oleh Dinasti Shalahuddin Al-Ayubi di tahun 1174 M. Dengan datangnya dinasti ini, aliran Sunni kemudian masuk kembali ke Mesir. Aliran Syi’ah di sana hilang bersama dengan tumbangnya Dinasti Fatimiyah. Shalahuddin dikenal dalam sejarah sebagai sultan yang banyak membela Islam, terutama saat pecah perang salib.

Sedang di Andalusia dan Maroko (Afrika Utara), aliran Sunni dikembangkan oleh seorang ulama yang banyak dipengaruhi pemikiran Al-Ghazali, yaitu Muhamad Ibn Tumart (1080-1130 M). Setelah ia menghancurkan Dinasti Al-Murâbithun (1085-1090 M) yang menganut paham antromorfhisme, Ibn Tumart lalu mendirikan Dinasti Al-Muwahhidin (1130-1269 M).

Di wilayah Timur, paham Asy’ariyah turut dikembangkan oleh raja-raja Afghan yang pernah menguasai Persia, yaitu Dinasti Qanjar (1386-1925 M). Selain itu, Mahmud Al-Ghaznawi dari Dinasti Ghaznawiyah (962-1189 M) yang berpusat di Afghanistan (Khurasan), juga berjasa dalam menyebarkan paham Asy’ariyah ke beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Punjab dan Irak.

Sejarah umat Islam mencatat, aliran Asy’ariyah mencapai masa kejayaan terlama dan berlangsung hingga sekarang. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Menurut Dr Harun Nasution, faktor yang terpenting adalah kebiasaan rakyat mengikuti mazhab yang dipakai dinasti penguasa.

Dengan kata lain, paham ini mendapat dukungan penuh dari penguasa. Di satu pihak, pemerintah mempunyai andil dalam pengembangan aliran ini terutama untuk memenuhi watak dan keadaan masyarakat. Di lain pihak, untuk menghimpun kesetiaan rakyat, penguasa menggunakan doktrin Asy’ariyah yang berkecenderungan Jabariyah (fatalistik), sehingga daya kritis umat terhadap penguasa -dalam hal kebijakan dan prilaku rezim- kurang tajam, bahkan cenderung memberikan kelonggaran dan toleransi terhadap penguasa.

Faktor pendukung lainya, adalah disejajarkannya aliran teologi Asy’ariyah dengan mazhab fikih Syafi’i. Ini mejadikan aliran teologi Asy’ariyah identik dengan Aswaja, sehingga wibawa para ulama Syafi’iyyah ikut menjadi daya tarik tersendri, terutama di kalangan masyarakat tradisional.

Penyetaraan aspek doktrin teologi Asy’ariyah dengan fikih Syafi’iyah, sangat dimungkinkan karena dalam merekonstruksi sebuah paham, keduanya sama-sama berlandaskan pada pendekatan salafi, yaitu menggunakan hadis dan mengintroduksi dalil-dalil syar’i dari sumber-sumber selain al-Quran dan sunnah Rasul, berupa ijma’ al-ulamâ, al-qiyâs dan lainnya. Bahkan Ibnu Taimiyah berpendapat, mazhab ini mereka peroleh dari Rasulullah. Sehingga menyepelekan ajaran-ajaran yang dibawanya, menyebabkan seseorang termasuk kategori ahli bidah.

Dalam rentang waktu yang cukup panjang, corak pemikiran sebagian besar kaum Asy’ariyah diwarnai oleh pemikiran Ghazali, yang memang berjasa besar dalam menyebarluaskan teologi ini melalui sejumlah pemikiran yang tersebar dalam berbagai karyanya di bidang fikih, tasawuf, dan ilmu kalam. Ghazali lahir dari produk sejarah abad ke-11, yang ditandai oleh kebingungan spiritual dan kekacauan politik pada masa Abbasiyah. Medan intelektual-spiritual selama abad ke-11, berlangsung pula perdebatan sengit antara filosof dan teolog, dalam menafsirkan ajaran-ajaran agama.

Ghazali adalah figur teolog yang juga seorang sufi, di samping menguasai berbagai illmu lainnya. Dalam pergumulannya, ia kemudian mengambil keputusan untuk menentukan posisi piihannya dengan sikap yang mantap. Ia menempuh jalan sufi sebagai pondasi teologisnya, di samping berhasil memadukan prinsip-prinsip filsafat dan mistis dalam sistem teologinya.

Pemikiran teologis Ghazali ini banyak mendapat sorotan dari pemikir-pemikir Islam kontemporer. Di antara sorotan yang paling tajam, Ghazali dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kemunduran intelektualisme Islam di kalangan umat dewasa ini, terutama yang menggejala di kalangan Muslim Sunni. Bahkan Sayed Ameer Ali melihat, kemerosotan bangsa-bangsa Islam dewasa ini disebabkan oleh formalisme Asy’ariyah dan praktik-praktik sufistik yang cenderung menjauhi duniawi.

Secara metodologis, paham Asy’ariyah memilih jalan tengah antara berbagai ekstrimitas. Dalam menjelaskan doktrin-doktinnya, paham ini menggunakan metedologi logika Aristotelian (silogisme).

Meskipun demikian, penggunaan logika Aristotelian ini diletakkan sebatas metode (cara/ instrumen), bukan materi kebenaran itu sendiri, yang diterapkan pada segala obyek. Sebab, kebenaran hanya dapat ditemukan melalui pendekatan terhadap al-Quran dan hadis. Sementara di sisi berbeda, banyak yang menuding konsep al-Kasb Asy’ariyah, telah membawa pengikutnya kepada sikap fatalistik, walaupun pada hakikatnya, doktrin ini tidak sepenuhnya menjadikan pengikutnya pasif. (*)

Aji Setiawan,

Penulis adalah mantan Sekretaris PMII Komisariat KH Wachid Hasyim, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

Comments