Nasihat Mbah Ma’shoem Lasem kepada Mukti Ali Saat Menjabat Menteri Agama

0
788

KH Ma’shoem (Mbah Ma’shoem), salah satu ulama kenamaan pada masanya yang berasal dari Lasem, Rembang adalah kiai yang sangat dicintai para santri dan masyarakatnya. Banyak kiai di tanah Jawa, yang telah dididiknya, yang kemudian menjadi tokoh-tokoh atau pemuka masyarakat, dan tak sedikit pula yang menjadi pejabat publik.

Salah satu santrinya yang tidak sekadar menjadi tokoh masyarakat, juga sekaligus sebagai tokoh publik adalah Prof Dr KH A Mukti Ali, yang pernah mendapatkan amanah menjabat sebagai Menteri Agama.

Ketika awal – awal menjabat Menteri Agama, Prof Dr KH A Mukti Ali pun mementingkan diri untuk sowan (silaturahim) kepada kiainya, KH. Ma’shoem, di Lasem, untuk meminta doa dan restu dari sang guru.

Dalam silaturahim ke Lasem itu, suasana haru pun Nampak. Sayyid Chaidar dalam ‘’Manaqib Mbah Ma’shoem’’ (1973), melukiskan pertemuan itu. Prof Dr KH A Mukti Ali menjabat tangan gurunya, dan mencium tangan sang guru berkali – kali. Yang dibalas dengan KH Ma’shoem dengan mencium pipi dan kening santrinya itu.

Prof Dr KH A Mukti Ali pun menyampaikan niatnya untuk meminta doa restu, lantaran mendapat amanah sebagai Manteri Agama. ‘’Masalah doa, mudah. Mendoa itu tugasku sehari-hari. Yang penting, dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin memberi nasihat dan saran terlebih dahulu kepadamu, bilamana aku benar-benar kau akui sebagai gurumu,’’ jawab Mbah Ma’shoem.

Ketika Prof Dr KH A Mukti Ali menyatakan menerima nasihat dan saran-saran gurunya, Mbah Ma’shoem pun menyampaikan nasihatnya. Pertama, engkau jangan sekali-kali membenci NU. Sebab, membenci NU berarti membenci padaku. Karena NU itu saya yang mendirikan bersama ulama yang lain. Tetapi engkau pun jangan membenci Muhammadiyah. Jangan pula membenci PNI dan partai-partai yang lain. Sebagai seorang Menteri Agama, engkau harus menjadi contoh yang baik. Harus dapat berdiri di tengah-tengah dan berbuat adil terhadap mereka. Dan Negara harus kau junjung tinggi.

Kedua, manakala dating seorang tetamu meminta bantuanmu, uang umpamanya, jangan ditolak. Andaikata di kala itu kebetulan kau tak beruang, keluarlah. Artinya, usahakan sampai dapat dan berhasil menolongnya.

‘’Ini tindakan dan perilaku Rasulullah yang harus kau tiru dank au ikuti. Saya tak usah kau beri. Sebab saya sekarang sudah kaya. Dulu, saya memang tidak mempunyai mobil. Sekarang mobil sudah ada. Ma’shoem sekarang bukan lagi Ma’shoem yang dulu di masa kau mengaji di sini,’’ tutur Mbah Ma’shoem. (rosidi/ adb, rid)

Comments