Naba’ Al-Qur’an Pasti Terjadi

0
263

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Allah Ta’ala berfirman: لكل نباء مستقر. Artinya: Tiap berita —Al-Qur’an— pasti akan terjadi (QS.6: 67).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menafsirkan, لكل نباء حقيقة اى لكل خبر وقوع ولو بعد حين. ولتعلمن نباءه بعد حين. Artinya: Tiap berita dari Al-Qur’an, pasti benar, yakni pasti akan terjadi meskipun setelah beberapa waktu. Kamu pasti akan tahu faktanya setelah beberapa waktu.

Pada ayat lain disebutkan bahwa: “Kami akan menampakkan ayat-ayat Kami di ufuq-ufuq dan pada diri mereka, agar jelas bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu benar. Apakah tidak cukup tentang Tuhanmu bahwa Ia menyaksikan segala sesuatu. (QS. 41: 53)

Sebagian besar naba’ dari Al-Qur’an terjadi justru di masa kini dan masa mendatang, yang sebagian kecil akan kita tayangkan pada paragraf akhir tulisan ini.

Satu dari naba’ Al-Qur’an yang terjadi pada zaman Nabi adalah fathu Makkah, 8 H/629 M (QS. 30: 1-4). Al-Qur’an menjelaskan bakal kembalinya Nabi ke Makkah (QS. 28: 85) dan terjadinya fathu Makkah dengan aman (QS.48:27).

Saat itu, persitiwa kekalahan Persia atas Romawi (622 M), di negeri terdekat (adnaa) dengan Persia, sebuah dataran terendah di muka bumi dekat laut mati (392 meter di bawah permukaan laut). Sains waktu itu belum ada yang tahu kalau daratan dekat laut mati merupakan tanah terendah di muka bumi.

Untuk masa kini dan mendatang, Al-Qur’an telah “mendeklarasikan” pada surat Fushilat, 53 di atas dan lainnya. Bahwa signal kebenaran Al-Qur’an akan tampak di ayat ufuqiyah dan anfusiyah.

Ayat ufuqiyah dan anfusiyah yang kasat mata baik astronomi, kosmologi, klimatologi, vulkanologi, oceonalogi, geologi, geografi, zoologi, botani, biologi, psikologi, kedokteran dan sebagainya, telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an.

Menurut Dr. Zakir Naik, 80% ayat Al-Qur’an yang bersifat saintifik, nir pertentangan dengan sains. Lalu 20% dari 1000 ayat lebih tentang sains, Al-Qur’an belum membuktikannya. Antara lain tentang jin, hidup sesudah mati dan alam akhirat. Kini para saintis sedang bekerja keras dalam penelitian tentang Near Death Experience-nya.

Logika sederhananya, jika yang 80% sudah ternyata kebenaran ilmiahnya, 20% yang masih ambigu tinggal menanti pagi sorenya untuk terbukti.

Dulu orang mengira bahwa diri dan rizkinya hal yang sederhana. Rizki di langit dikira hanyalah hujan yang menghidupkan bumi mati. Ternyata tidak hanya itu.

Pertama, eksplorasi langit. Pesawat terbang yang dirintis oleh Abbas Bin Firnas Al-Andalusi, kini telah berkembang pesat dengan roket ulang alik yang diluncurkan oleh manusia bumi, yang seakan menjawab perintah Allah untuk menembus angkasa luar. (QS. 55:31-35)

Kedua, kilat menyambar selain bisa berbahaya, ternyata menyuplai nitrogen kesuburan tanah. Sekali kilatan lebih besar daripada daya listrik se Amerika Serikat (QS. 13:12).

Ketiga, eksplorasi rizki dari langit (QS. 51: 22) berupa hujan, sinar matahari yang memproduksi energi terbarukan. Kini Cina telah membuat matahari buatan. Energinya bisa untuk menggerakkan pabrik di negeri tirai bambu itu.

Saudi Arabia juga berkolaborasi dengan menantu Donald Trump, Jared Kushner, membuat reaktor listrik dengan energi matahari di wilayah utara yang kaya akan sinar matahari, kapasitasnya lima kali dari jumlah energi listrik seluruh Indonesia. Keempat, eksplorasi bumi mencukupi kebutuhan manusia sampai hari ini (QS. 55: 31-35).

Kelima, teknologi kedokteran dengan transplantasi jantung, ginjal dan lain sebagainya yang diambil dari stem cell manusia sendiri. Sumbernya bisa dari embrio, perinatal seperti cairan ketuban atau tali pusat, dari lemak atau sumsum tulang, atau pluripotent dari hasil rekayasa biomolekuler. Metodenya bisa bersifaf autolog (dari dirinya sendiri) ataupun allogenik (pendonor) yang cocok.

Ini semua bakal diucapkan oleh saintis beriman, ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia (QS. 3: 191). Wallaahu a’lam bi al-shawaab. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah Rektor Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

Comments