Kiai Muda NU Gus Fauzul Muna: Salat, Oleh-oleh Penting Isra’ Mi’raj

0
246
Gus Fauzul Muna ceramah isra’ mi’raj di Ansor Kandangmas Dawe

KUDUS,Suaranahdliyin.com Haflah Hari Lahir (harlah) ke-103 Nahdlatul Ulama (NU) di Basecamp Ansor–Banser Kandangmas Dawe yang dirangkai dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman ibadah salat.

Dalam pengajian bertema “Kajian Praktik Sholat” itu menghadirkan penceramah Kiai muda NU  Gus H. M. Fauzul Muna, M.Pd. pada Sabtu malam Ahad (10/1/2026).

Dalam ceramahnya, Gus Fauzul Muna mengatakan salat merupakan salah satu oleh-oleh penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Diantara ibadah lain,.salat menempati posisi paling tinggi dalam agama Islam.

“Salat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun dan tidak boleh disambi dengan aktivitas lain selain gerakan dan bacaan salat itu sendiri,” tegasnya.

Gus Fauzul Muna memberikan pengertian salat. Diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, dengan bacaan dan gerakan yang telah ditetapkan Nabi Muhammad saw. serta dirumuskan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih.

“Salat itu diterima langsung oleh Nabi Muhammad saw dari Allah Swt. tanpa perantara (bila wasitah),” jelasnya.

Salah satu bagian salat yang memiliki makna historis mendalam adalah bacaan Tahiyat. Dalam bacaannya, Tahiyat merupakan rekaman dialog langsung antara Nabi Muhammad SAW. dengan Allah SWT. saat peristiwa Mi’raj.

Ia menuturkan, dimulai ketika Nabi Muhammad SAW. mengucapkan Attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah (Segala kehormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah milik Allah). Kemudian Allah Swt. menjawab, Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullâhi wa barakatuh (Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tetap tercurahkan atasmu, wahai Nabi Muhammad). Lalu Nabi Muhammad SAW. kembali menjawab, Assalamu ‘alaina wa’ala ‘ibadillahish shalihin (Semoga keselamatan tetap terlimpahkan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh).

“Bacaan Tahiyat ini merupakan ungkapan memorial perjumpaan agung Nabi Muhammad saw. langsung kepada Allah Swt.”terangnya

Ia pula mengungkapkan, peristiwa seperti ini tidak pernah dialami oleh makhluk lain kecuali Nabi Muhammad saw.

Gus Fauzul Muna lanjut menerangkan, sslat fardu wajib dilakukan selama orang tersebut masih sadar dan berakal. Ditambahkan salat fardu yang diterima Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa Mi’raj ada lima yakni Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.

“Selebihnya, sholat hukumnya sunnah. Dan salat sunnah dapat menjadi wajib apabila dinazarkan,”ungkapnya

Dalam kajian, dijelaskan dengan detail gerakan salat sesuai madzhab Syafi’i, mulai dari posisi berdiri, mengangkat tangan saat takbir, sedekap, rukuk, i’tidal, sujud, duduk iftirasy, hingga tasyahud akhir, termasuk sunnah-sunnah Ab’ad dan Hai’ah yang menyempurnakan sholat.

“Belajar praktik salat itu penting. Salat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi sarana utama perjumpaan hamba dengan Allah Swt,”tandasnya.

Pengajian berlangsung khidmat diikuti jajaran NU Ranting Kandangmas, Gerakan Pemuda (GP) Ansor–Banser, dan Badan Otonom (Banom) Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]

Comments