Surat dari Regol Ngabul
Karamah Mbah Yik De Kalinyamatan, Jepara (Bagian 3 – Habis)

0
734
H. Hisyam Zamroni, wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara

Sewaktu masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), bakda salat Isya, saya bersama keluarga berziarah ke maqam Mbah Yik De. Waktu itu, kami membaca membaca burdah. Kebetulan pula, kami bertemu dengan rombongan khataman quran yang juga sama-sama sedang ziarah, dipimpin oleh seorang kiai yang kebetulan saya cukup akrab.

Usai ziarah, saya bertanya kepada kiai. ‘’Wonten wadhifah nggih, Mbah Yai?” tanya saya.

‘’Nyuwun doane njenengan, Gus. Mugi-mugi si A dalam pilkada saget dados (terpilih),’’ jawabnya sembari saya mengamini.

Setelah momentum Pilkada usai, saya juga berziarah kembali ke makam Mbah Yik De. Dan tanpa sengaja pula, kembali saya bertemu dengan kiai dengan rombongannya yang sebelum pilkada juga bertemu saat ziarah di makam Mbah Yik De.

Selesai ziarah, saya dengan nada bercanda bertanya kepada kiai. ‘’Pripun Mbah Yai, jagone hasil maksud, dados, nggih?’’

‘’Alhamdulillah. Doane njenengan, hasil maksud saget jumeneng, Gus. Kula cuma wasilah dumateng Mbah Yik De ingkang nggadahi karamah, caket marang Gusti Allah, Gus,’’ jawabnya.

Karamah Mbah Yik De memang luar biasa. Saya memiliki seorang teman yang pernah bercerita tentang Mbah Yik De, yang tak lain merupakan guru dari simbah buyutnya yang berasal dari Demak.

Suatu ketika, bakda salat Shubuh, tiba-tiba kediaman simbah buyutnya diketuk keras sekali oleh seseorang. Dengan tergopoh-gopoh, simbah buyutnya pun keluar. Ternyata, tamunya adalah Mbah Yik De. Beliau minta sarapan.

Simbah buyut temanku karena memang dari keluarga sederhana, masak seadanya. Setelah semua matang, kemudian dihidangkan di meja di depan Mbah Yik De. Beliau memakannya dengan lahap sekali, dengan sesekali memuji masakan simbah buyut temanku itu. ‘’Masakanmu uuuenak, Kang. Tak entekno, yo,’’ kata Mbah Yik De.

Setelah selesai makan, tiba-tiba muncul keanehan; Mbah Yik De kepingin ‘’buang hajat’’ dan tak bisa menahannya. Beliau pun ‘’buang hajat’’ di ruang tamu. Simbah buyut itu kemudian mengambil air untuk membersihkan badan Mbah Yik De, kemudian mengambil ekrak dan sapu untuk membersihkan kotoran, lalu menaruhnya di pojok ruang tamu dengan ditutupi ekrak. Anehnya, kotoronnya tidak bau sedikitpun.

Setelah bersih semua, Mbah Yik De langsung pamit. Simbah buyut temanku lupa jika di pojok ruang tamu rumahnya, terdapat kotoran Mbah Yik De, dan baru ingat pada hari berikutnya ketika hendak menyapu halaman rumah.

Simbah buyut temanku lalu bergegas mengambil sapu dan ekrak di pojok ruang tamu. Saat mengambil ekrak yang menutupi kotoran Mbah Yik De, simbah buyut temanku kaget bukan main, karena semua kotoran Mbah Yik De berubah menjadi emas batangan semua.

Simbah buyutku lenger-lenger, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun semua yang terjadi adalah fakta (kenyataan). Akhirnya, emas-emas batangan itu dijadikan modal untuk berdagang menghidupi anak cucunya.

Sungguh, karamah Mbah Yik De yang memberikan teladan kepada kita, bahwa hidup adalah “kepasrahan total” kepada Gusti Allah, sehingga dalam menjalani hidup di dunia tidak terbebani dan membebani siapa pun, karena sudah ada jaminan hidup dari Gusti Allah, tinggal bagaimana kita berusaha dengan sungguh sungguh untuk menggapainya. (H. Hisyam Zamroni, wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara, Jawa Tengah)

Comments