Indahnya Kebersamaan Berbagi Takjil saat Ramadan

0
922

Oleh: Millatul Lailiyah

Bulan Ramadan merupakan yang sangat dirindukan oleh setiap umat manusia, terutama bagi umat Muslim.

Ramadan adalah bulan penuh berkah. Keberkahan dalam bulan Ramadan, menjadi salah satu momentum untuk saling berbagi dan bersedekah. Salah satunya yang banyak dilakukan adalah dengan berbagi takjil.

Takjil merupakan makanan untuk berbuka puasa. Takjil yang diberikan masyarakat saat Ramadan, selain sebagai wujud nyata sedekah, juga sebagai bentuk kepedulian dan dapat juga mempererat silaturahim.

Berbagi takjil merupakan sebuah perbuatan mulia, yang mendatangkan pahala serta keberkahan.

Selain itu, berbagi takjil juga dapat mempererat tali persaudaraan dan kemasyarakatan antarumat muslim.

Berbagi takjil dapat dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan. Ada kelompok yang membagikan takjil di tepi jalan, trotoar, lampu merah, atau tempat yang kemungkinan banyak dilewati orang agar seseorang dapat mengetahuinya. Namun tak sedikit yang diberikan di musala dan masjid, pada kajian Ramadan menjelang berbuka.

Meskipun takjil yang diberikan terkadang sangat sederhana, seperti halnya buah kurma dan minuman, namun pahalanya sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, itu merupakan bentuk kebaikan dan kepedulian terhadap sesame, sehingga dapat memupuk kebersamaan, kepedulian dan mendatangkan keberkahan, tentunya.

Dalam aktivitas berbagi takjil, itu juga mengingatkan betapa manusia itu membutuhkan satu sama lainnya. Sehingga dalam kehidupan, saling pentingnya saling mendukung dalam kebaikan, juga penting adanya kepedulian satu sama lain.

Sebab, disadari atau tidak, manusia adalah makhluk social, yang karenanya perlu interaksi dan membutuhkan keberadaan orang lain.

Akhirnya, berbagi takjil itu juga menjadi manifestasi syukur atas atas nikmat dan rizki yang diberikan Allah. Dan sedekah, termasuk yang dikeluarkan dengan memberikan takjil pada saat Ramadan, adalah salah satu bentuk syukur yang sangat penting untuk dilestarikan dan diparesiasi. (*)

Millatul Lailiyah,

Penulis adalah satrinya Ma’had Prisma Quarnuna Kudus dan mahasiswa IAIN Kudus.

 

Comments