Gus Baha’ : Mukjizat Alquran Tanpa Batas, Melebihi Mukjizat Nabi Musa

0
1211
Dok. Channel Menara Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Berbicara seputar mu’jizat tentu pernah terbesit pertanyaan mengapa mukjizat Nabi Muhammad seolah tidak sehebat Nabi Musa dengan tongkatnya?

Menjawab pertanyaan tersebut, KH. Baha’udin Nur Salim (Gus Baha’) asal Kragan, Rembang berpendapat justru Alquran adalah mukjizat yang lebih dahsyat melebihi tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh yang keluar dari batu.

“Kalau yang dikataka mukjizat itu adalah sesuatu yang melebihi kadar kemampuan manusia biasa, Alquran itu justru banyak menjelaskan penalaran yang obyektif untuk umat sehingga bisa sering melihat kedahsyatan Allah setiap saat,” tuturnya dalam Darusan Umum Masjid al-Aqsha Menara di Gedung YM3SK, Rabu malam (29/05/19).

Menurut Gus Baha’ keimanan di era umat Nabi Muhammad tidak memerlukan hal-hal yang sifatnya khoriqul adat (berbeda melebihi kebiasaan). Cukup dengan bukti penalaran atas penciptaan seekor nyamuk saja itu sudah menunjukkan dahsyatnya Allah SWT.

“Kalau untuk mengetahui adanya Allah SWT saja harus menunggu mukjizat seperti Nabi Musa, itu kecelakaan besar dalam ketauhidan. Misalnya saja kita semua disuruh bikin nyamuk bisa tidak? Atau patungnya saja lah, bisa? Bukankah itu sudah cukup sebagai bukti adanya Allah SWT?” tandasnya.

Bagi orang ‘Alim, lanjut Gus Baha’, percontohan nyamuk itu lebih dahsyat ketimbang tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Cara Allah menjelaskan iman cukup sederhana dengan perumpamaan serta hal-hal kecil di sekitar manusia.

“Kalau misalnya saya bertemu dan dipameri Nabi Musa tentang kesaktian tongkatnya, saya tetap lebih memilih Nabi Muhammad karena Alquran memberi nalar yang obyektif dan tidak terbatas. Makanya Rasulullah itu disebut sebagai afdholul anbiya’ (Nabi yang paling utama-red),” katanya.

Selanjutnya Gus Baha’ memaparkan beberapa risiko mukjizat yang sifatnya khariqul adat seperti tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Ia menyebut mukjizat makhsushoh seperti itu terbatas sebab hanya bisa diketahui oleh manusia yang menyaksikannya secara langsung saja.

“Manusia yang tidak menyaksikannya bisa saja tidak percaya, tetapi dengan kedahsyatan Alquran dengan logika penciptaan alam semesta pasti manusia akan percaya ila yaumil qiyamah,” paparnya.

Lalu, imbuh Gus Baha’, risiko mukjizat yang khariqul adat berikutnya adalah dikhawatirkan bisa membuat umat manja dan minta sesuatu yang aneh-aneh. Bahkan sebagian ulama mengkritik bahwa mukjizat yang seperti itu selayaknya tidak perlu dituruti.

“Salah satu ulama itu menyebut jika yang menjadikan seseorang kafir adalah ketergantungannya dia pada kejadian dahsyat untuk mau percaya pada kodrat Allah SWT,” sebutnya.

Khawatirnya lagi, nanti umat ini akan menggantungkan kebenaran agama berdasarkan kesaktian para pemimpinnya (para ulama) sebagai pewaris Nabi. Umat akan menuntut supaya para kiai memiliki kesaktian yang bisa disaksikan bersama secara dzahir.

“Kalau tidak sakti tidak diakui. Akhirnya muncul lah yang pura-pura sakti, seperti kasus Dimas Kanjeng,” ucapnya diikuti tawa jamaah.

Oleh sebab itu lah Alquran dikatakan sebagai mukjizat terbesar bagi umat manusia. Alasannya Alquran bisa membuktikan dan mengantarkan manusia pada Allah SWT dengan penalaran sederhana, yang orang awam pun bisa memahaminya.

“Dengan begitu lah Nabi Muhammad itu menjadi satu-satunya utusan yang sukses membawa manusia kembali (iman) kepada Allah dengan sarana yang tidak terbatas dan ada di mana saja. Bahkan beliau juga sukses memiliki umat yang beriman tanpa harus ditunggui (dibina secara langsung) sampai hari ini. Cukup dengan Alquran,” jelas kiai yang masih memiliki nasab hingga Mbah Asnawi Sepuh ini. (rid, gie/adb)

Comments