Aldino Ghozali, Konsisten Kembangkan Musik Religi

0
503
Aldino Ghozali

“Sudah menjadi panggilan jiwa saya untuk menekuni genre musik religi ini, pak. Saya ingin bermusik dimana musik ini bukan hanya menjadi hiburan tapi bisa menjadi pengingat bagi penikmatnya. “

Demikian itu jawaban Aldino Hafidz Syah Akbar (26), aktivis Lesbumi NU Kudus ketika ditanya mengenai sederet prestasi dan kegetolannya melestarikan dan berkarya dalam music religi. Pemuda asli Bulung Kulon RT 1 RW 8 Karang Wetan, Jekulo, Kudus ini bertekad agar lagu-lagu qasidah bisa diterima masyarakat lebih luas lagi.

“Keberadaannya bisa me-nasional seperti genre musik yang lain,” paparnya kepada suaranahdliyin.com belum lama ini.

Keberhasilan putra dari pasangan Imam Ghozali dan Syukirah hingga kini, tidak bisa lepas dari peran seorang ayah yang juga seorang musisi. Sejak kecil, pria yang biasa disapa Aldino Ghozali mendapat bimbingan ayahnya dalam mempelajari berbagai alat music seperti gitar, bass, piano, dan drum. Kemudian setelah mumpuni, ia membentuk grup band atau rebana bersama sepupu, kakak dan teman sekolah.

“Perdana manggung itu saat kelas 5 SD, saat mengisi acara pengajian di RT, dengan membawakan lantunan shalawat religi. Saya ingat, saat itu saya bagian gitaris dan vocal,” ujarnya.

Masuk SMP, kemampuan Aldino terus diasah hingga berbuah hasil menjadi Juara I vokal dalam lomba tingkat SMP/MTs se Kabupaten Kudus. Kemudian, kelas 2 SMP Aldino mulai menciptakan sebuah lagu  berjudul “Penantian” yang masuk dalam Duta Band Ekstra Musik SMK Duta Karya Kudus dan menjadi track nomor 1.

Aldino memainkan musik menghantarkan pasangan pengantin menuju kursi pelaminan

Pada 2012, keahlian musiknya semakin meningkat. Semangatnya berlatih di bangku SMK saat itu menjadikan Aldino memiliki sederet jam terbang dan beberapa karyanya serta prestasi kejuaraan bertambah.

Hingga pada 2014, ia kembali menorah prestasi pada tingkat nasional sebagai Penata Musik Terbaik pada Festival Teater Pelajar. Tidak hanya itu, ia dan teman-temannya  membentuk grup qasidah bernama, ‘The Maestro All Manther’ dan berkolaborasi dengan grup music luar.

Lulus dari sekolah Aldino pun memutuskan untuk fokus pada hobi bermusiknya. Berkat ketekunannya dalam bermusik, jam terbang untuk manggungnya begitu padat.  Dalam satu bulan, ia bisa manggung dari 20 hingga 30 kali bahkan pernah sampai se bulan 62 kali manggung  baik itu di Kudus, Pati, Jepara, Semarang, Surabaya hingga Jakarta.

“Tampil di TV juga pernah saya rasakan  saat itu diundang untuk mengisi acara di TVRI dan Indosiar,” beber Aldino.

Bertekad Sejajarkan Musik Religi

Selain aktif di dunia panggung, Aldino juga aktivis Lesbumi yang merupakan organisasi yang mewadahi kreativitas seniman dan budayawan NU. “Saya telah mendedikasikan untuk NUsebuah karya Mars Lesbumi Kudus hingga lagu berjudul Ansor Melindungi Indonesia.”ujar pria kelahiran 4 Maret 1996.

Di samping itu, ia juga menjadi produsen  dibalik layar sebagai music producer dengan mengarransmen music, membuat lirik, membuatkan jingle , iklan, mixing, hingga mastering di studio Kurnia Nada Perkasa record, milik ayahnya. Tidak hanya itu, ia juga menularkan ilmu bermusiknya dengan melatih di beberapa sekolah dan kampus, salah satunya di Ekstra Musik Ma’had IAIN Kudus.

“Sampai saat ini saya masih aktif di dunia musik religi. Dan terus berupaya ikut andil dalam perkembangan musik religi khusunya musik qasidah agar masyarakat bisa lebih dekat dengan lagu-lagu qasidah terutama anak2-anak muda,” papar Aldino.

Aldino bersama group musiknya tampil di TVRI Jawa Tengah

Selain asik dalam mendengar arrasemenya, lirik-lirik lagu qasidah bisa menjadi pelajaran. Disisi lain ia ingin meneruskan perjuangan para wali berdakwah melalui seni.

“Rasa seni dalam lagu juga menjadi pengaruh bagi jiwa manusia karena apa yang sering dilihat dan didengar setiap hari akan berperngaruh pada perilaku seseorang.”ungkapnya.

Sebenarnya, lebih lanjut Aldino memaparkan,  saya suka dengan semua genre musik baik pop, dangdut ataupun lainya. Menurutnya, semua musik memilik tujuan yang baik. Ia mengaku lebih memprioritaskan lagu-lagu Islami yang dianggap pesannya lebih mudah diterima masyarakat.

Taget kedepanya, Aldino ingin lagu-lagu qasidah bisa diterima masyarakat lebih luas lagi.. keberadaannya bisa menasional seperti genre musik yang lain.

“Saya dan tim sudah melakukan perekaman lagu qosidah baik yang dari lagu-lagu lama ayah saya dan lagu baru. Tentunya dengan arransemen yang baru . Lebih fresh dan kekinian agar bisa diterima terutama kaum muda,” kata Aldino.

Aldino menyampaikan, jika perkembangan karirnya tak lain adalah berkat dari doa orang tua khususnya seorang ibu. Setelah Itu diimbangi dengan usaha untuk mengembangkan diri, belajar dari hal apapun dan menjaga komunikasi yang baik dengan siapapun.(umi,adb/rid,ros)

Comments