Aktivis NU : Hati-hati Pilih Organisasi

0
236
Syaifuddin menyampaikan materi Kepemimpinan dan Organisasi dalam Makesta PR IPNU-IPPNU Rejosari, Sabtu (06/07/19).

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Berorganisasi tidak boleh asal ikut teman. Apalagi jika belum mengetahui latar belakang sebuah organisasi yang hendak diikuti. Hal itu diungkapkan oleh Aktivis NU asal Kudus, Syaifuddin dalam acara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU ranting Rejosari, Dawe, Kudus, Sabtu (06/07/19).

“Memilih organisasi, utamanya yang berhubungan dengan agama harus hati-hati. Pilihlah yang berlandaskan Aswaja dan memiliki rekam jejak yang baik untuk keutuhan bangsa dan Negara,” terang mantan Ketua PC IPNU Kabupaten Kudus ini.

Menurut Syaifuddin, dengan mengikuti organisasi seseorang akan lebih dewasa dalam bersikap. Seseorang juga akan bisa saling memahami satu sama lain sehingga bahu membahu demi mencapai tujuan bersama. Namun, tidak menutup kemungkinan seseorang juga akan terbawa arus dari ideologi organisasi yang ia ikuti.

“Untuk itu, penting bagi kita semua memahami organisasi yang hendak kita ikuti supaya tidak salah langkah, apalagi sampai terjerumus kepada paham yang radikal,” katanya.

Lebih lanjut, menjelaskan ketika sudah masuk dalam organisasi seseorang harus tertib dan melaksanakan tugas sebagaimana amanat organisasi. Baginya, seseorang yang tidak taat aturan organisasi berarti ia telah melanggar komitmen yang telah disepakati bersama anggota yang lainnya.

“Sesungguhnya Allah Swt mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur rapi sebagaimana bangunan yang kokoh,” ungkapnya menukil QS. Ash-Shaf : 4.

Aktivis NU, Syaifuddin menerima cenderamata dari panitia Makesta

Pada kesempatan itu, Syafuddin juga menyampaikan materi kepemimpinan dalam berorganisasi. Dirinya menyebutkan sosok pemimpin ialah seseorang yang memiliki visi dan misi positif untuk kemajuan organisasi. Pemimpin juga harus mampu memberi motivasi yang cukup bagi para anggotanya agar bisa kompak dan bekerja sesuai tugasnya.

“Menjadi pemimpin itu bukan soal ambisi, tapi dilihat dari sikapnya kepada sesama, kepada bawahannya, seberapa baik dia bisa mendorong anggota untuk bekerja, itu yang penting,” jelas wakil sekretaris GP Ansor Kecamatan Dawe ini.

Untuk itu, kata dia, jangan memilih orang yang minta dijadikan pemimpin, tapi pilihlah orang yang bisa memimpin. Kendati begitu, bila diamanati sebuah jabatan untuk memimpin seseorang harus siap menanggung risiko yang ada. Demikian itu untuk menyelamatkan organisasi agar tidak goyah dan tetap berjalan demi mencapai tujuan.

“Jangan berambisi jadi pemimpin, tapi juga jangan lantas frustasi ketika ditakdirkan terpilih jadi pemimpin,” tandasnya. (Saidah/rid)

Comments