Mengenali Ciri-ciri Media Aswaja dan Media Islam Radikal

0
241
Diskusi daring mengenal ciri media Aswaja dan non Aswaja, baru-baru ini

SEMARAMG, Suaranahdliyin.com – Diklat Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) IX berlangsung pada Senin (3/8/2020) kemarin. Kali ini, GLM mengusung tema “Kuliah Media Aswaja An Nahdliyah” dengan narasumber Koordinator GLM dan Tim Siber LTN NU Temanggung Hamidulloh Ibda dan Koordinator Tim Kurikulum Ke NU an, Abdul Khalim.

Dalam pemaparannya melalui aplikasi zoom tersebut, Ibda menjelaskan materi tentang “Deteksi Peta Media NU”.

“Media Aswaja An Nahdliyah (Media NU) adalah media massa, media sosial, dan layanan pesan yang mengolah, menyebarkan, mendakwahkan manhaj Aswaja An Nahdliyah dari aspek fikrah (pemikiran), akidah (keyakinan), harakah (gerakan), amaliyah (tradisi), baik struktural (di bawah struktur NU) maupun kultural,” terang dosen STAINU Temanggung itu.

Sedangkan media Islam radikal, menurutnya, adalah media massa, media sosial, layanan pesan, yang mengolah, menyebarkan, mendakwahkan Islam garis kanan, puritan, kaku, linier, menyeru pada pemurnian Islam, hingga akhirnya muncul pada spirit hijrah, dan berdirinya negara Islam/ khilafah Islamiyah.

Pengurus LP Ma’arif PWNU Jateng itu menyampaikan analisis realitas dunia siber terkini, yang dapat disimpulkan ke dalam beberapa aspek. Pertama, media siber Islam didominasi media minhum, radikal, mainstream kanan. Kedua, media siber Islam NU masih sedikit yang ratingnya tinggi versi Alexa. Ketiga, media sosial (Facebook, Twitter, Instragram, Youtube) dikuasai media minhum. Keempat, literasi Media Aswaja rendah. Kelima, minimnya pelatihan media siber Aswaja Annahdliyah. Keenam, nahdliyin banyak mengonsumsi konten media minhum karena tidak tahu.

“Ketujuh, banyaknya tokoh milenial minhum menjadi brand untuk mencari massa. Kedelapan, hanya beberapa tokoh milenial NU yang mampu bertahan sebut sajaGus Baha, Gus Miftah, Gus Muwafiq, Gus Nadirsyah, dan lainnya. Kesembilan, nahdliyin malas dan tak mampu konsisten membuat konten. Kesepuluh, wajah Islam tampak garang/radikal/keras karena media siber Islam didominasi-dikuasai media minhum,” tegasnya dipandu M Fikri Sholahudin.

Penulis buku Media Literasi Sekolah ini menambahkan, ada enam ciri media Aswaja Annahdliyah atau NU. Di antaranya kontennya selalu menjunjung tinggi persatuan, perdamaian, dan membuat pembaca adem bukan menyulut api. Kemudia tidak ada berita, opini atau rubrik lain yang menghina apalagi bermisi mengganti Pancasila.

“Selain itu, konten media tersebut selalu mengomparasikan spirit Islam dan nasionalisme, kebangsaan, serta tradisi. Jika media itu membenturkan Islam dan Indonesia, mengharamkan hormat bendera merah putih, mengatakan taghut dan kufur pada Indonesia, maka jelas itu bukan ciri media NU,” tegasnya.

Sedang ciri media kelompok Islam kanan yaitu, antara lain kontennya provokatif, membuat pembaca panas, kmenarasikan (bahkan) menghina-mengganti Pancasila. Ketiga, mempertentangkan spirit Islam dan nasionalisme, kebangsaan, tradisi, membenturkan Islam-Indonesia, mengharamkan hormat bendera merah putih,.mengatakan taghut dan kufur pada Indonesia, dan mengusung khilafah/hijrah.

Keempat, menggelorakan gerakan takfiri (mengafirkan), tabdi’ (membidahkan), tasyri’ (mensyirikkan), baik dari aspek fikrah (pemikiran), aqidah (keyakinan), amaliyah (tradisi) maupun harakah (gerakan). Kelima, konten tidak moderat, toleran, tengah-tengah, kontennya puritan, kaku, linier. Keenam, tidak dikelola Struktural NU, Banom, dan Lembaga, maupun NU Kultural seperti Gusdurian, santri, atau komunikasi para aktivis/santri NU.

“Ini tidak ada rujukannya, karena ini berangkat dari pengalaman dan analisis saya sejak 2012 lalu ketika terjun menekuni dunia siber bersama sahabat-sahabat jurnalis NU,” beber Direktur Asna Pustaka tersebut.

Pihaknya mengajak kepada guru, pelajar dan warga NU untuk berhati-hati dalam mengonsumsi media massa, media sosial maupun Youtube. “Konvergensi media ini berpengaruh pada pola mencari informasi, pengetahuan, bahkan ideologi dan agama itu sendiri. Sekali salah, maka akan berbahaya,” beber dia.

Sementara Abdul Khalim, menjelaskan materi karakter Aswaja Annahdliyah di media. Dijelaskannya, bahwa tipe jurnalisme di Indonesia secara umum ada dua. “Pertama profetik yang mengarah pada idelisme dan kebenaran. Kedua adalah provokatif yang mengarah pada narasi-narasi kebencian, termasuk media radikal itu,” bebernya.

Pihaknya mengajak pada guru dan pelajar Ma’arif untuk menjadi pelopor dalam bermedia. “Ada prinsip dasar Aswaja. Mulai dadi tawasut, tawazun, tasamuh, i’tidal, amar makruf nahi munkar dan maslahah mursalah,” beber penulis buku Ke-NU-an tersebut.

Selain itu, NU memiliki tiga karakter dasar ukhuwah atau persaudaraan. “Mulai dari ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” lanjut Pengurus LP Ma’arif PWNU Jateng tersebut.

Bermedia, katanya, juga harus memperhatikan karaker Mabadi Khaira Ummah. Pertama, Ash-shidq atau kejujuran, kebenaran, kesungguhan. Kedua, Al Amanah Wal Wafa Bil ‘Ahd. “Pilar ini memuat dua istilah berhubungan, yaitu al-amanah dan al-wafa’ bil ’ahd. Amanah secara lebih umum maliputi semua beban yang harus dilaksanakan, baik ada perjanjian maupun tidak. Sedang al-wafa’ bil ‘ahd konteks yang berlaku hanya berkaitan dengan perjanjian,” lanjut dia.

Ketiga, yaitu al ‘adalah. “Bersikap adil mengandung arti objektif, proposional dan taat asas. “Bermedia haruslah berpegang kepada kebenaran obyektif dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,” katanya.

Keempat adalah at-taawun atau tolong menolong. “Kelima adalah al-istiqomah atau ajeg jejeg, konsisten,” ungkapnya.

Khalim pun mengajak para guru dan pelajar Ma’arif NU, menjadi pelopor dalam bermedia. “Setidaknya, melalui pembelajaran daring ini kita buat konten tandingan, bukan untuk menandingi, tapi mewartakan kebenaran, perdamaian, sesuai ideologi kita dan prinsip Islam ramah dengan mengacu dan menegakkan karakter-karakter Aswaja Annahdliyah tadi,” katanya. (fikri/ ibd, ros, adb, rid)

Comments