You are What You Read

0
1471

Oleh: Nurul Faiza

You are what you read, kualitas seseorang itu bergantung pada kualitas bacaannya. Kata sastrawan Irlandia, Oscar Wide.

Tidak berlebihan rasanya jika kita, terlebih saya merasa tertampar akan dalamnya makna ungkapan tersebut. Kita yang hidup di zaman sekarang yang serba digital belum bisa memanfaatkan kecanggihan IT ini. Padahal hidup itu nggak cuma scrolling, posting, healing aja kan? Reading dan writing juga sangat perlu.

Membaca dan menulis itu bagian dari literasi. Literasi merupakan salah satu aspek penting dalam belajar. Literasi merupakan modal kealiman, seseorang dapat menjalankan hidup dengan baik dan benar didukung oleh literasi yang baik dan benar juga. Mau tidak mau kita harus terima bahwa prestasi literasi bangsa kita, bangsa Indonesia menduduki peringkat ke 62 dari 70 negara berdasarkan survey Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019. Tertampar lagi nggak, nih?

Literasi bukan merupakan istilah baru belakangan ini, sebenarnya tradisi ini telah ada sejak jaman Baginda Nabi Muhammah SAW. Masih ingat dengan firman Allah dalam surah al-Alaq 1-5, kan? Itu merupakan perintah pertama kepada Baginda untuk membaca sekalipun beliau adalah seorang yang Ummi. Jika kita mau merenung, rasanya ajaran Islam tak akan sampai kepada kita, jika tidak ada kegiatan menulis yang dipelopori para sahabat, tabi’in, dan para Ulama. Betapa tidak, jika ajaran Islam itu hanya dihapalkan saja, disampaikan secara lisan, usianya akan sangat terbatas seiring dengan terbatasnya usia manusia.

Kegiatan membaca dan menulis telah menjadi spirit dakwah Islam yang dilakukan para ulama terdahulu hingga sekarang. Daulah Abasiyah merupakan bukti bahwa Islam pernah mencapai puncak kejayaannya dengan tokoh-tokoh Muslim yang sangat berpengaruh terhadap peradaban dunia seperti al-Khawarizmi, al-Farabi, Ibnu Sina, dll. Contoh lain ada Habib Salim as-Syathiri, beliau merupakan Ulama’ yang tak pernah berhenti membaca. Setiap 5 menit menjelang tidur dan kala beliau beristirahat beliau tak pernah melewatkan kegiatan membaca hingga hasilnya beliau mampu menghatamkan puluhan kitab. Satu lagi Ulama’ nusantara, Gus dur, beliau sering menghabiskan waktu malamnya untuk menghatamkan buku. Dan masih banyak banget Ulama’ lainnya. Tentunya, buku yang dibaca adalah yang berkualitas dari segi isinya ya. Ehee.

Berbekal teladan mulia para Auliya’ dan Ulama’ sebenarnya kita bisa membudayakan membaca dan menulis. Apalagi di zaman millennial ini, apa sih yang nggak bis akita lakukan? Mau search apapun dengan mudah kita dapatkan. Apalagi kini telah tersedia berbagai buku online, kitab-kitab online, perpustakaan online yang dapat diakses tanpa mengeluarkan biaya untuk membelinya. Kita mungkin terlalu nyaman hingga merasa ke-enakan sehingga semakin memupuk rasa malas dalam diri. Jujur apa jujur, nih???

Sekali lagi, dalam tulisan ini, penulis tidak ada niatan untuk menghakimi/menggurui sama sekali. Justru dengan tulisan ini penulis ingin lebih bermuhasabah diri. Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk lebih menekunkan dalam membaca dan menulis demi menyongsong Indonesia emas di tahun 2045. Aamiin yarabbal Alamin.

Jika kau bukan anak raja atau ulama besar, maka menulislah (Imam Ghazali)

Nurul Faiza,

Penulis adalah warga RT 3 RW I Desa Bulung, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Penulis bisa disapa di IG: @fazahijabkudus.

Catatan:

Artikel ini dipublikasikan untuk kepentingan lomba, sehingga tidak dilakukan proses editing oleh pihak redaksi.

Comments