Pembukaan Kongres III Pergunu
Wagub Jatim: Guru adalah Simbol Kesinambungan antara Ilmu dan Akhlak

0
367
Usai pembukaan, Wagub Jatim Emil Dardak meresmikan Bazar di arena Kongres III Pergunu di Pacet Mojokerto

MOJOKERTO, Suaranahdliyin.com – Selama tiga hari (26-29/5/2022), Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) menggelar Kongres III di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Kamis (26/5/2022) kemarin, kongres dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak

Pembukaan Kongres Pergunu yang dikemas peresmian bazar, diawali dengan istighosah dan doa oleh Ketua Umum Pergunu, Asep Syaifudin Halim. Hadir dalam acara itu,  wakil bupatiMojokerto, Muhammad al Barra, pengurus PP, utusan Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Cabang (PC) Pergunu se-Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra dalam sambutannya menyampaikan bahwa guru merupakan tonggak terdepan dalam menyejahterakan masyarakat. Menurutnya, masyarakat Indonesia bisa belajar dari sejarah Jepang ketika negaranya dibom oleh Amerika Serikat.

“Pada saat itu Kaisar Hirohito langsung memerintahkan untuk mengumpulkan semua guru yang masih hidup, Jepang fokus untuk belajar dan bangkit dari krisis ekonomi, inflasi, pengangguran dan sebagainya,” ujarnya.

Terbukti, ia melanjutkan, dalam waktu hanya 20 tahun, Jepang sudah menjadi salah satu negara termaju di dunia. Hal ini bisa menjadi contoh jika Indonesia ingin maju, harus bisa menghormati jasa guru.

“Karena guru memiliki tanggung jawab yang besar, bagaimana menjadikan negara dan rakyat memiliki masa depan yang lebih cerah,” tandasnya.

Ia menambahkan, seorang guru tidak boleh berkecil jati mengingat perannya yang luar biasa. Bahkan, kedudukan guru hampir disandingkan dengan Rasulullah karena visi misinya yang sama.

“Yaitu dalam rangka menunjukkan cahaya dan memberikan ilmu kepada murid-muridnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, mengatakan bahwa guru dapat menjadi elemen penting dalam menopang eksistensi NU. “Guru adalah simbol kesinambungan antara ilmu dan akhlak, bahkan Kiai NU sebenarnya juga guru,” ungkapnya.

Emil berharap peran guru di NU kedepan tidak hanya dalam konteks keilmuan, melainkan juga dapat memberikan yang terbaik dalam memajukan NU.

“Semoga dapat memberikan yg terbaik, menjadi pusat keunggulan dan berperan luar biasa di NU,”harapnya.

Melalui Pergunu, diharapkan pula NU dapat menyediakan pendidikan yang berkualitas. Sehingga tujuan menularkan pendidikan ke seluruh Indonesia dapat tercapai.

“Sebagai organisasi, Pergunu akan menjadi lentera bagi umat dan bangsa,”tegas Emil.(Sim/adb)

Comments