Wawancara Khusus Hari Radio Nasional
Riri Novita: Penyiar yang Berkualitas Memiliki Karakter Kuat

0
367
Riri Novita/ Foto: istimewa

Radio, salah satu media penyiaran ini, sejak awal didirikan, telah memiliki peran yang besar bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Media penyiaran ini, pun tidak bisa dipandang sebelah mata, perannya. Di sisi lain, ada tanggung jawab sosial yang senantiasa dipegang oleh insan radio.

Bagaimana agar media penyiaran ini bisa betul-betul berjalan sesuai undang-undang penyiaran dan peraturan lain yang mendukung, berikut perbincangan Rosidi, jurnalis Suaranahdliyin.com dengan Ari Yusmindarsih yang lebih akrab disapa Riri Novita, praktisi penyiaran, tepat di Hari Radio Nasional tahun ini, 11 September 2020 ini.

Mbak Riri, apa tips Anda bisa bertahan di radio?

Kalau sekadar siaran, banyak orang bisa. Tapi seorang penyiar harus profesional, memiliki skill komunikasi yang baik, karakter kuat, dan tahan mental. Kita banyak bertemu narasumber di berbagai bidang, misalnya politisi, polisi, dokter, akademisi, artis, pebisnis dan lainnya, sehingga penyiar juga harus menguasai materi. Penyiar itu banyak belajar dari narasumber yang diwawancara. Maka mestinya, itu akan menambah bekal ilmu. Semakin lama jadi penyiar seharusnya semakin banyak ilmu.

Media penyiaran itu unik karena menggunakan frekuensi publik, untuk itu, segalanya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Nah, bagaimana menurut Anda?

Itu dia, makanya hati-hati ketika berbicara di depan microphone. Penyiar punya konsekuensi logis untuk bertanggungjawab terhadap segala ucapannya. Jangan sampai menyampaikan hoax, harus klarifikasi. Ingat juga, kita punya tanggung jawab memberikan edukasi, informasi, menghibur dan juga kontrol sosial. Makanya perlu belajar terus-menerus untuk menjaga kualitas dan penampilan. Penyiar yang berkualitas akan berbeda dan memiliki karakter kuat. Biasanya yang seperti ini akan memiliki jaringan luas dan mampu lebih berkembang di media.

Lalu, bagaimana perkembangan radioa di tengah perkembangan internet atau dunia digital seperti saat ini?

Internet justru menjadi hal positif dan mendukung industri radio. Di satu sisi, internet memang bisa menjadi ancaman, tetapi bisa pula memberikan manfaat bagi radio. Radio itu fleksibel dengan perkembangan teknologi. Pemanfaatan media sosial seperti twitter, instagram, youtube, facebook akan semakin mendongkrak keberadaan radio di tengah masyarakat pendengar. Kaum millennials, justru tahu informasi tentang radio lebih dahulu melalui media sosial, kemudian apabila tertarik mereka akan mengklik streaming radio atau mendengarkan melalui radio analog. Teknologi bisa dimanfaatkan untuk menambah jaringan pendengar. Kalau dulu jangkauan radio terbatas di beberapa wilayah, sekarang siaran pun bisa di dengar hingga luar negeri.

Terkat literasi, apa pentingnya literasi media dalam konteks kekinian, yakni di era digital?

Banyak orang masih belum sadar menyebarkan hoax tanpa kroscek kebenarannya. Mereka juga mudah mengumbar status curhatan pribadi di media sosial, setelah ada pengalaman buruk, baru sadar. Ini menjadi kepedulian kami untuk mengajak teman-teman millennials menyosialisasikan penggunaan internet dengan baik dan benar. Teknologi seharusnya memudahkan bukan, malah menyengsarakan (memperbudak), apalagi sampai menjadi korban dari keberadaannya.

Berbicara pengalaman, apa yang bisa Anda bagi kepada publik, khususnya pembaca Suaranahdliyin.com?

Saya memperoleh banyak pengalaman di radio. Di radio kita bisa berlatih disiplin, karena harus tepat waktu. Selain itu kita akan lebih mampu beradaptasi dengan banyak kalangan, karena terlatih bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang profesi dan kepentingan. Ini menguntungkan karena selain mengenal mereka lebih dekat, juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat penting.

***

Tentang Riri Novita

Memiliki nama asli Ari Yusmindarsih, ia adalah perempuan kelahiran Blora yang menamatkan pendidikannya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Sempat memutuskan menjadi reporter di Radio Radiks FM Semarang. Namun kecintaannya kepada radio membuatnya mencoba di bidang lain –masih dalam lingkup radio—seperti marketing dan siaran.

Bakat alaminya di dunia penyiaran muncul dari kedua orang tuanya, seorang guru tetapi memiliki talenta di bidang master of ceremony dan paduan suara, dan sudah malang melintang di dunia penyiaran radio sejak tahun 2000-an. Berpindah dari beberapa radio di Semarang hingga Jakarta, di antaranya di Radiks FM, PAS FM, Trijaya FM, FeMale FM, UP Radio hingga Pro Alma FM.

Hingga kini, ia masih eksis di dunia radio dengan bergabung di redaksi buletin udara Suara Jawa Tengah dari PRSSNI Jateng, sebuah program siaran bersama 100-an radio swasta di Jawa Tengah. Selain itu, bersama teman-temannya ia aktif melakukan literasi media untuk millennials, mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta, menjadi trainer public speaking di beberapa instansi, dan menjadi konsultan media. (*)

Comments