Rawat Tanaman di Pekarangan, Ikhtiar Jaga Kesehatan dan Kemandirian Pangan Keluarga

0
111
Pegiat LPPNU Kudus K. imam Fathoni paparkan materi pertanian organik di Madrasah Kader Pertanian Batch 2

KUDUS,Suaranahdliyin.com – Merawat tanaman di pekarangan rumah dinilai tidak sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga menjadi ikhtiar menjaga kesehatan keluarga sekaligus mendorong kemandirian pangan rumah tangga. Pemanfaatan lahan sekitar rumah diyakini mampu membiasakan masyarakat mengonsumsi makanan sehat, aman, dan minim bahan kimia.

Hal tersebut disampaikan Pegiat Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus K. Imam Fathoni dalam kegiatan Madrasah Kader Pertanian (MKP) Batch 2 yang diikuti kader Fatayat NU PAC Dawe, Gebog, dan Jati, Ahad (11/1/2026), di Joglo Sahabat Achwan, Desa Golan Tepus, Kecamatan Mejobo.
MKP Batch 2 mengusung tema Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair dan Padat.

Dalam paparannya, K Imam Fathoni menegaskan bahwa merawat tanaman sejatinya sama dengan merawat tubuh sendiri. Menurutnya, proses menanam hingga merawat tanaman pangan merupakan bentuk kesungguhan dalam menjaga kesehatan keluarga.

“Keselamatan tubuh sangat ditentukan oleh makanan yang kita konsumsi, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Karena itu, kita harus selektif memilih makanan,” ujar mubaligh NU asal Besito tersebut.

Ia menyoroti masih banyaknya masyarakat, termasuk anak-anak, yang kurang peduli pada kesehatan dan lebih menyukai makanan instan atau cepat saji. Padahal, kebiasaan tersebut berdampak buruk bagi tubuh dan berkontribusi pada meningkatnya gangguan kesehatan di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan MKP, lanjutnya, kader Fatayat NU diajak menanam tanaman pangan yang sehat dan tidak terkontaminasi bahan kimia, atau setidaknya meminimalisir penggunaannya.

“Dengan begitu, makanan yang disajikan untuk keluarga lebih aman dan menyehatkan,” tegas Imam Fathoni.

Kader Fatayat Kudus aktif jadi peserta Madrasah Kader Pertanian Batch 2 LPPNU Kudus

Sementara itu, pemateri kedua Ahmad Zamris menjelaskan tentang Biosaka, inovasi pertanian ramah lingkungan berupa cairan organik dari ekstrak rumput dan daun liar. Biosaka berfungsi sebagai elisitor atau pemicu respons alami tanaman untuk meningkatkan kesehatan tanaman, mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara drastis, serta menyuburkan lahan secara alami.

“Biosaka ditemukan pada tahun 2006 oleh Muhamad Ansar dan kini terus dikembangkan sebagai solusi pertanian berkelanjutan,”ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diajak mempraktikkan pembuatan Biosaka secara langsung.

Sebagai tindak lanjut, para peserta dibekali kompos bag saat kepulangan agar dapat langsung mempraktikkan pembuatan pupuk organik di rumah masing-masing, sekaligus mengoptimalkan pekarangan sebagai sumber pangan sehat keluarga.(Yuliana/adb)

Comments