Wakil ketua PCNU Kudus H. Fajar Nugroho sedang menyampaikan sambutan dalam Ngaji Tani LPPNU Kudus

KUDUS,Suaranahdliyin.com – Mendiang Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam sebuah pidatonya pernah menyampaikan pesan bahwa jangan terbuai kebesaran NU masa lalu, tapi optimis menatap masa depan.

Hal itu dituturkan wakil ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus H. Fajar Nugroho dalam kegiatan Ngaji Tani yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus di Joglo Sahabat Golantepus, Ahad (4/10/3026) lalu.

H. Fajar menguraikan warga NU jangan sampai terbuai oleh kebesaran masa lalu. Kebesaran sejarah harus menjadi pijakan untuk menatap masa depan dengan optimistis.

“Warga NU biasanya hanya bangga dengan masa lalu seperti kesuksesa para muasis, tetapi tidak berfikir bagaimana NU di masa datang yang penuh tantangan. Kita harus optimis, yang akan datang jauh lebih baik,”ujarnya.

Fajar menyebut satu hal yang harus menjadi kebanggaan adalah ketahanan pangan. Negara akan menjadi kuat apabila ketahanan pangannya terjaga.

“Saat ini pertanian menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketersediaan air, serangan hama, hingga berbagai persoalan lingkungan, ” ungkapnya. .

Ia mengatakan sumber daya alam bukanlah warisan dari nenek moyang melainkan titipan untuk anak cucu. “Karena itu, tugas kita bukan sekadar memanfaatkan atau menghabiskan , tetapi juga menjaga dan memberdayakannya agar tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.”terang alumnus Pesantten Matholiul Huda Kajen ini.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan, imbuh Fajar, adalah mengembangkan pertanian organik yang ramah lingkungan. Pertanian organik mungkin membutuhkan waktu lebih lama dan hasilnya tidak selalu bisa diperoleh secara cepat.

“Namun, pertanian seperti ini dapat menjadi jalan menuju sistem pertanian yang lebih lestari dan menjaga keseimbangan lingkungan, “tegasnya.

Untuk mewujudkannya, pesan dia, tidak harus selalu memulai dari sesuatu yang besar. Yang terpenting, kompak melakukan hal-hal kecil yang memiliki dampak besar.

“Semangat seperti inilah yang juga disenangi oleh Rais Aam PBNU KH M. A. Sahal Mahfudh Allahumma yarham, ” tuturnya.

“Beliau lebih menghargai kegiatan yang mungkin terlihat kecil, tetapi memberikan dampak yang besar bagi masyarakat. Daripada kegiatan besar yang ternyata hanya menghasilkan dampak kecil.” sambung H. Fajar. (yuliana, adb/ros) 

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here