
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Dalam mengonsumsi makanan harus yang halal dan sehat. Jika mengonsumsi makanan yang mengandung terlalu banyak unsur kimia, hal itu dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH. Ubaidullah Shodaqoh (mbah Ubaid) mengingatkan hal itu dalam kegiatan Ngaji Tani yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus di Joglo Sahabat Golantepus, Ahad (4/10/2026).
Mbah Ubaid menuturkan kiai-kiai zaman dahulu dikenal memiliki usia yang panjang, bahkan ada yang mencapai lebih dari 100 tahun. Salah satu faktornya adalah pola makan mereka yang masih sederhana.
“Zaman dahulu belum banyak terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia seperti yang kita temui saat ini,”ujarnya.
Mbah Ubaid mengutarakan Makan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk beribadah. Karena itu, jangan sampai asupan makanan yang dikonsumsi anak-anak justru mengganggu kesehatan dan perkembangan kecerdasan mereka.
“Bila hal itu terjadi, kita bukan hanya merusak kesehatan generasi sekarang, tetapi juga dapat mengganggu masa depan mereka, “tandasnya .
Ia mengatakan penggunaan pupuk dan bahan kimia dalam pertanian secara berlebihan juga perlu diperhatikan karena dapat berdampak terhadap kesehatan, termasuk berpotensi menimbulkan gangguan pada ginjal dan perkembangan kecerdasan.
“Bumi ini pada dasarnya sudah diciptakan dalam kondisi baik. Karena itu, jangan sampai kita justru merusaknya melalui pola pertanian yang tidak memperhatikan kelestarian alam.”tandas Mbah Ubaid.
Ia menambahkan pertanian juga dapat menjadi modal sosial untuk berdakwah. Untuk menyehatkan kembali alam, terutama tanah harus bersabar. Pertanian organik memang membutuhkan waktu yang lebih panjang dan proses yang tidak instan, tetapi hasilnya akan memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia dan lingkungan.
“Alam tidak akan bisa kita rawat jika kita tidak kembali pada pola hidup yang lebih sederhana, salah satunya melalui pertanian organik. Karena itu, kita membutuhkan perubahan pola pikir atau mindset.” ungkap mbah Ubaid.
Mbah Ubaid mendorong warga NU selalu bangga menjadi petani.
“Jika memiliki uang, tidak ada salahnya membeli sawah. Hasilnya dapat kita konsumsi sendiri, terutama jika dikelola dengan prinsip pertanian yang sehat dan organik,” ajaknya. .
Penggunaan bahan pangan organik, imbuh dia, merupakan tanggung jawab bersama karena makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Bahkan, para kiai perlu dijaga dengan memastikan makanan yang mereka konsumsi benar-benar sehat dan berkualitas.
“Melahirkan seorang kiai tidaklah mudah, sehingga kesehatan dan asupan makanan mereka juga harus diperhatikan,” ungkap Mbah Ubaid.
Ia menambahkan Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban, yaitu makanan yang halal sekaligus baik dan menyehatkan.
“Hukum asal makan memang mubah, tetapi makan dapat bernilai wajib ketika diniatkan dan dilakukan untuk menunjang ibadah,” tandasnya. .
Ngaji Tani dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2026 dihadiri pula kiai Musthofa (praktisi petani organik), kiai Mukhlisin (LPPNU Jateng), anggita DPRD Provinsi Jawa Tengah H. Akhwan Sukandar wakil ketua PCNU Kudus H. Fajar Nugroho, pengurus LPPNU Kudus dan kader pertanian binaan LPPNU serta banom NU Kudus. (yuliana/adb)


































