
Oleh : KH. Ahmad Bahruddin
Lanskap Makkah dan Madinah tak pernah benar-benar sepi. Sepanjang tahun, ribuan orang melintasi pelataran Masjid Nabawi dan berputar mengelilingi Ka’bah.
Di tengah hamparan kain ihram yang seragam, tersimpan cerita yang amat beragam. Jika dicermati, dorongan yang membawa seseorang melangkah ke Tanah Haram kini tak lagi tunggal.
Di era keterbukaan informasi dan media sosial, latar belakang jemaah umroh makin berwarna. Ada yang menabung belasan tahun dari hasil bertani demi bisa sujud di depan Baitullah. Ada yang berangkat karena ajakan kawan satu komunitas.
Tidak sedikit pula yang terdorong rasa khawatir tertinggal tren (FOMO) usai melihat kilasan video estetik kerabatnya di linimasa. Bahkan, ada yang menjadikan perjalanan ini sebagai pelarian dari impitan beban hidup, hingga sarana mengukuhkan panggung sosial.
Bila ditinjau dari kacamata perilaku sosial, pergeseran ini sejatinya masuk akal. Umroh pada masa kini tidak cuma berfungsi sebagai ritus keagamaan, melainkan telah beririsan dengan dinamika gaya hidup masyarakat modern. Kebutuhan akan pengakuan publik (social validation) membuat pembuktian keberadaan di tempat-tempat suci kerap menjadi bagian dari narasi diri di media sosial.
Di sisi lain, makin mudahnya akses penerbangan serta menjamurnya opsi paket perjalanan ikut mengubah demografi jemaah. Kelompok usia muda dan kelas menengah baru kini mendominasi ruang-ruang ibadah. Imbasnya, kebiasaan baru seperti pembuatan konten hingga cara berpakaian yang modis turut mewarnai suasana.
Namun, dalam tradisi spiritualitas Islam, motivasi manusia pada dasarnya bersifat dinamis. Seseorang mungkin saja memulainya dengan dorongan yang masih dangkal—entah sekadar ikut-ikutan atau ada sedikit dorongan prestise. Akan tetapi, suasana magis Tanah Suci sering kali sanggup meluruhkan gengsi tersebut.
Kejutan spiritual saat menatap Ka’bah atau keheningan tatkala berada di Raudhah kerap menjadi titik balik yang mengubah niat awal menjadi kepasrahan yang sungguh-sungguh.
Di tengah riuk-pikuk penilaian publik mengenai mana ibadah yang tulus dan mana yang sekadar pamer, ada satu pegangan mendasar yang tak boleh diabaikan: siapa pun yang menginjakkan kaki di sana adalah Dhuyufurrahman—Tamu Allah.
Banyak orang bergelimang harta namun tak kunjung tergerak hatinya untuk berziarah. Sebaliknya, ada yang datang berbekal niat seadanya, tetapi pulang membawa perubahan karakter yang luar biasa.
Panggilan-Nya bekerja melalui jalan yang acap kali tak terduga. Boleh jadi, rasa ingin tahu atau dorongan gaya hidup hanyalah perantara yang dipakai Sang Pencipta untuk mengetuk hati hamba-Nya.
Pada akhirnya, menghakimi kadar keikhlasan seseorang di media sosial hanya akan menguras energi. Ketimbang sibuk menakar ketulusan orang lain, mengamati fenomena ini mestinya menyadarkan kita bahwa hidayah bisa masuk dari celah mana saja.
Siapa pun yang melangkah ke Tanah Suci pada hakikatnya sedang bertamu, dan hanya Tuan Rumah yang berhak menilai ketulusan tiap-tiap pengunjungnya. (*)
KH. Ahmad Bahruddin
Pengasuh Pesantren Tasywiqul Furqon Kudus dan Owner Murur Travel




































