Di tengah deru notifikasi yang tiada henti dan linimasa (timeline) yang terus berputar, gawai di tangan kita sering kali menjadi jendela dunia sekaligus cermin diri. Tanpa disadari, jempol kita memegang kendali atas arus informasi, emosi, dan bahkan nasib orang lain di belahan bumi yang berbeda.
Pertanyaannya, sudahkah para santri menggunakan teknologi yang kita genggam menjadi alat untuk memperluas kepedulian, atau justru mempertebal ke-aku-an?
Dalam diskursus keagamaan dan sosial, istilah “Saleh Sosial” adalah bentuk kesalehan yang utuh. Jika kesalehan ritual (habl min Allah) mendekatkan seseorang kepada Sang Pencipta melalui ibadah personal, maka kesalehan sosial (habl min al-nas) membuktikan kualitas keimanan itu lewat kerja-kerja nyata di tengah masyarakat: merawat sesama, membela yang lemah, dan menebar kemaslahatan publik.
Hari ini, arena paling masif untuk mewujudkan kesalehan sosial tersebut berpindah ke ruang-ruang digital.
Dari Genggaman Jempol ke Gerakan Nyata
Dulu, batas kesalehan sosial kita dibatasi oleh jarak fisik dan akses logistik. Jika ingin membantu korban bencana atau tetangga yang kesusahan, kita harus turun langsung membawa bantuan atau menyalurkannya lewat jalur yang panjang.
Kini, teknologi meruntuhkan sekat-sekat itu melalui platform crowdfunding (urun dana) dan dompet digital. Hanya dengan beberapa ketukan di layar, kita bisa ikut menyumbang untuk biaya pengobatan anak penderita penyakit langka, renovasi sekolah pelosok, atau dapur umum korban musibah.
Pelajaran moralnya: Kemudahan ini menjadikan kebaikan bersifat demokratis. Siapa pun, dari latar belakang ekonomi apa pun, bisa menjadi “orang baik” tanpa harus menunggu kaya raya. Algoritma media sosial kerap dikritik karena memicu perpecahan, namun di tangan yang tepat, algoritma yang sama adalah amplifier (pengeras suara) kemanusiaan yang paling efektif.
Ketika ada ketidakadilan, pelanggaran hak, atau penderitaan kaum marginal yang terabaikan, media sosial memberi mereka panggung.
Berbagi (share), menulis ulang, atau sekadar menyuarakan dukungan (advocacy) terhadap isu-isu kemanusiaan adalah bentuk nyata saleh sosial modern. Kita menolak diam di saat ketidakadilan terjadi, karena di dunia digital, sikap diam sering kali memihak pada penindas.
Menyaring Jempol, Menjaga Lisan
Kesalehan sosial di era digital tidak selalu tentang aksi turun ke jalan; sering kali ia bermula dari hal yang paling sunyi: menahan diri di kolom komentar. Menjaga lisan di dunia nyata kini bertransformasi menjadi menjaga ketikan (fingerprint).
Membiasakan diri melakukan tabayyun (verifikasi) sebelum menyebarkan berita, menghindari ujaran kebencian (hate speech), dan tidak ikut-ikutan merundung (cyberbullying) seseorang adalah esensi tertinggi dari saleh sosial. Menghentikan hoaks yang memecah belah masyarakat sama mulianya dengan memberi sedekah materi.
Grup WhatsApp, komunitas daring, dan jejaring sosial telah mengubah cara kita bergotong royong. Gerakan seperti food bank lokal, penggalangan baju layak pakai, hingga kelas mengaji daring gratis untuk anak-anak jalanan kini jauh lebih mudah dikoordinasikan. Teknologi memangkas birokrasi kebaikan, memungkinkan solidaritas tumbuh secara organik dari bawah (grassroots).
Menjaga Niat di Ruang Publik Digital
Tantangan terbesar dari saleh sosial berbasis teknologi hari ini adalah godaan pamer (riya modern atau virtue signaling). Ketika kebaikan mudah didokumentasikan dan diunggah untuk mendulang likes serta pujian, garis tipis antara niat tulus beramal dan validasi sosial menjadi sangat rawan kabur.
Oleh karena itu, menghidupkan kesalehan sosial di media sosial menuntut kejujuran batin yang konsisten. Jadikan kamera dan layar sebagai alat dokumentasi syiar untuk menginspirasi orang lain agar turut berbuat baik—bukan sekadar panggung untuk melambungkan ego pribadi.
Teknologi pada hakikatnya adalah kanvas kosong. Ia bisa menjadi ruang yang bising oleh kebencian, atau sebaliknya, berubah menjadi jembatan panjang yang menyalurkan kasih sayang ke berbagai penjuru.
Mari para santri kita balik arah layar gawai kita. Jadikan setiap ketukan jempol, setiap konten yang dibagikan, dan setiap donasi digital sebagai saksi bisu bahwa kita memilih untuk menjadi bagian dari solusi, merawat kemanusiaan, dan menumbuhkan saleh sosial di bumi digital ini. (*)
Mc. Anam,
Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Huda Kajen Pati, Pengurus Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), bekerja di Pusdatin Kemendikdasmen dan lulusan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.



































