
TEMANGGUNG,Suaranahdliyin.com – Hari Santri Nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan pesantren sekaligus membentengi masyarakat dari framing negatif terhadap pesantren di media sosial.
Demikjan yang disamapikan Rais Syuriah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon dalam, kegiatan Studium Generale Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bertajuk “Internalisasi Karakter Santri di Era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity” yang diselenggarakan di Aula Babussalam, Temanggung, Kamis (22/10/2026).
Lebih lanjut KH. Muhammad Furqon mengatakan di tengah derasnya arus informasi digital, citra pesantren dapat terbentuk melalui potongan video, narasi sepihak, atau informasi yang tidak disertai konteks memadai. Situasi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, sekaligus mendorong warga pesantren untuk membangun budaya komunikasi yang bertanggung jawab.
“Pembelaan terhadap pesantren, dengan demikian, tidak cukup dilakukan melalui reaksi emosional atau perdebatan di ruang digital. Pesantren perlu memperkuat kualitas pendidikan, menjaga integritas pengasuh dan santri, meningkatkan literasi digital, serta menyampaikan informasi secara terbuka dan proporsional.”ujarnya.
Ia menandaskan santri juga perlu memiliki keberanian untuk mengoreksi informasi yang keliru dengan argumentasi yang kuat, santun, dan berbasis fakta. Sikap tersebut sejalan dengan prinsip tabayyun sekaligus mencerminkan akhlak yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.
“Pada saat yang sama, membentengi pesantren dari framing negatif tidak berarti menutup ruang evaluasi atau mengabaikan persoalan nyata,” tegasnya.
Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta, imbuh dia, harus menjadi bahan perbaikan, sedangkan tuduhan yang tidak terverifikasi perlu disikapi dengan kehati-hatian dan klarifikasi yang bertanggung jawab. “Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat membangun ketahanan reputasi tanpa kehilangan komitmen terhadap kejujuran, keterbukaan, dan perbaikan berkelanjutan,” tandas KH. Furqon.
Menurut dia, gagasan utama yang menghubungkan pemikiran Al-Ghazali, pendekatan VUCA tandingan dan tantangan pesantren di ruang digital adalah pentingnya menjadikan nilai sebagai kebiasaan nyata. Disiplin, konsistensi, ketekunan, tanggung jawab, kejujuran, kemauan belajar, pengendalian diri, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan empati merupakan karakter yang perlu dibangun secara berkelanjutan.
“Karakter-karakter tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk meraih keberhasilan akademik, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan, membangun hubungan sosial yang sehat, dan menghadapi kegagalan secara dewasa.ujar KH Furqon.
Karena itu, kata dia, pendidikan karakter di pesantren perlu mengintegrasikan keteladanan kiai dan guru, pembiasaan perilaku baik, penguatan tradisi keilmuan, pengembangan kompetensi digital, serta evaluasi terhadap perilaku sehari-hari. “Santri perlu memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran, organisasi, kehidupan asrama, interaksi sosial, dan penggunaan media digital.” imbuhnya
Pada akhirnya, santri yang tangguh bukanlah mereka yang menolak perubahan, melainkan mereka yang mampu memahami perubahan tanpa kehilangan arah. “Mereka juga bukan sekadar generasi yang menguasai banyak informasi, melainkan pribadi yang mampu memilah pengetahuan, mengendalikan diri, mempertimbangkan kemaslahatan, dan bertindak berdasarkan akhlak.” tegasnya.
Dalam kegiatan itu, Rektor INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Acara dimoderatori Direktur Program Pascasarjana INISNU Temanggung H. Muhammad Syakur
Hadir juga di tengah ratusan mahasiswa, rais PBNU Gus Ghofur Maimoen, Ketua BPP INISNU Temanggung Drs. H. Nur Makhsun, M.S.I., Ketua PCNU Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin, S.Sos., Ketua KBIHU Babussalam NU Temanggung KH. Mustahal Nasucha, S.Sos., Direktur AKPER Alkautsar Temanggung Ratna Kurniawati, A.Md.Akup., S.Kep., Ns., M.Kep., dan segenap tamu undangan.(ist/adb)































